Oleh :
Ranti
Ibu
rumah tangga
Sabtu
20 Agustus 2022 Pemerintah pusat berencana menaikkan
harga bahan bakar minyak BBM bersubsidi. Pemerintah beralasan
kenaikan itu untuk mengurangi beban APBN yang sudah jeblok ke angka 503 trilin
hingga Agustus 2022. Rencana kenaikan BBM itu akan disampaikan Pemerintah
pekan depan.
anggota
DPRD NTT, Kasmirus Kolo menyebut kenaikan harga akan menggangu ekonomi
masyarakat. Ia mengatakan kebijakan itu sangat memberatkan masyarakat Apalagi
bagi kelas-kelas ekonomi menengah keatas itu saya kira kenaikan itu tidak
terlalu banyak, Akan tetapi bagi masyarakat kecil tentu kenaikan harga BBM
bersubsidi itu akan sangat memberatkan dan menyulitkan masyarakat kecil
mengakses kebutuhan BBM. Bila kebijakan itu diterapkan akan berdampak pada
kehidupan ekonomi masyarakat kecil Karena itu
Pemerintah perlu memikirkan skema lain.
Ia
menyarankan agar adanya kompensasi biaya hidup lain jika BBM bersubsidi tetap
dipaksakan untuk naik. Pemerintah harus memberikan perhatian pada kelompok
masyarakat kecil. Skema yang ia maksud adalah pemberdayaan ekonomi
masyarakat kecil agar usaha tetap berjalan baik. Ini akan mendongkrak ataupun
menjaga daya beli masyarakat. Sebab imbas dari kenaikan harga BBM ini juga
dirasakan pada turunnya daya beli masyarakat.
Wakil
ketua komisi I DPRD NTT, Ana Waha Kolin meminta pemerintah untuk tidak
menerapkan kebijakan secara tiba-tiba. Harusnya kebijakan itu didahului dengan
sosialisasi. BBM menjadi kebutuhan dalam roda perekonomian masyarakat
adanya ketergantungan masyarakat dengan BBM ini, perlu dilihat dengan saksama
sebelum menerapkan kebijakan. Apalagi masyarakat baru saja mengalami
pagebluk covid-19 dalam dua tahun belakangan ini. Politisi PKB itu khawatir
adanya gejolak pasca penetapan kebijakan.
Melihat
fakta diatas sudah bisa kita gambarkan bahwa kebijakan yang diambil hanya demi
menutupi APBN yang membengkak sampai Agustus ini, dan penundaan kenaikan BBM
bersubsidi ini hanya sebatas cara pemerintah untuk meredam gejolak dan reaksi
negatif masyarakat akan kenaikan BBM ini padahal langkah ini sama sekali tidak
menyelesaikan masalah yang ada.
Pengaturan
subsidi dan anjoknya APBN yang santer digaungkan bukan tidak mungkin hanya
sebatas alasan untuk membawa negeri ini dalam pengelolaan liberal secara total,
karena sebetulnya akar permasalah bukan dari subsidi atau tidak tetapi dari
kesulitan pemerintah mengatur kebutuhan energi karena semua aturan nya
diliberalisasikan dan ini terjadi dari dampak sistem kapitalis yang tumbuh
subur di negeri ini, sistem ini melanggengkan swasta mengambil alih dan
menguasai sumber daya alam yang ada yang seharusnya hasil dari semua sumber
daya alam bisa dinikmati oleh masyarakat dan dikelola langsung oleh pemerintah
itu sendiri.

No comments:
Post a Comment