(Aktivis Dakwah)
PEMUDA adalah tonggak perubahan bangsa. Di pundak-pundak merekalah masa depan bangsa digantungkan. Pemuda sejatinya punya peran mulia, salah satunya adalah sebagai agen perubah. Tuntutan peran inilah yang mengharuskan para pemuda peka terhadap kondisi masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Peran ini juga yang menjadikan pemuda-pemuda di masa kemerdekaan dulu, tergerak untuk memikirkan perubahan bangsa ke arah yang lebih baik. Hingga mereka pun berhasil menyusun sebuah ikrar, sumpah pemuda.
Namun, ternyata gelombang sistem kapitalisme liberal yang diterapkan di negeri ini telah menggerus idealisme pemuda hari ini. Pemuda seakan lupa dengan jati dirinya, sebagai agen perubah bangsa. Ia secara tak sadar justru menjadi benih-benih perusak bangsa. Sering kita saksikan berita tentang kerusakan moral pemuda. Berbuat mesum, mencuri, membunuh, mengonsumsi narkoba, mabuk-mabukan dan lain sebagainya.
Inilah realita pemuda dalam sistem kapitalisme liberal. Sistem inilah yang melahirkan orang-orang individualis dan berperilaku serba bebas. Kapitalisme berorientasi pada materi, sehingga menjadikan individu-individu yang ada di dalamnya hanya berorientasi mencari keuntungan materi semata. Liberalisme berorientasi pada kebebasan, sehingga menjadikan individu-individu yang ada di dalamnya bertingkah laku serba bebas. Dampak dari sistem kapitalisme liberal ini pun akhirnya turut dirasakan oleh pemuda saat ini. Banyak pemuda yang akhirnya menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan banyak uang. Tak jarang mereka yang akhirnya terjebak pada gaya hidup serba bebas, yang mengantarkannya pada seks bebas.
*Fitrah Pemuda Islam*
Pemuda Islam merupakan tulang punggung yang membentuk komponen pergerakan. Mereka memiliki kekuatan yang produktif serta kontribusi tanpa limit. Suatu umat tidak akan runtuh selama ada pundak para pemuda yang memiliki kepedulian dan semangat membara. “Musuh-musuh Islam berusaha merintangi jalan para pemuda muslim, mengubah pandangan hidup mereka, baik dengan memisahkan mereka dari agama, menciptakan jurang antara mereka dengan ulama dan norma-norma yang baik di masyarakat. Mereka memberi label buruk terhadap ulama sehingga para pemuda menjauh, menggambarkan para ulama dengan sifat dan karakter yang buruk, menjatuhkan reputasi para ulama yang dicintai masyarakat, atau memprovokasi penguasa untuk berseberangan dengan mereka.” (Fatwa Syaikh Ibnu Baaz, 2/365).
Hendaknya para pemuda Islam bersegera (bersemangat) mendatangi majelis-majelis ilmu agama (pengajian), baik di masjid atau di pusat dakwah Islam. Memanfaatkan waktu untuk menghafal Al-Qur’an dan membaca kitab-kitab (para ulama). Firman Allah Taala, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104).
Ayat di atas merupakan perintah bagi setiap muslim, termasuk para pemuda Islam, untuk melakukan aktivitas dakwah.
Berdakwah dan mengajar adalah zakat ilmu. Wajib bagi seseorang yang telah mempelajari suatu ilmu untuk menyampaikan (mengajarkan) ilmu tersebut kepada orang lain hingga mereka mendapatkan hidayah, tidak berbuat maksiat, dan istikamah dalam beramal. Inilah tugas para pemuda; terdepan dalam melaksanakan syariat dan terdepan pula dalam menjauhi larangan-Nya. Dan Allah Swt. akan memberikan naungan-Nya kepada mereka.
Dari Abu Hurairah ra., dari Rasulullah bersabda, “Tujuh (golongan) yang Allah naungi di hari yang tidak ada naungan melainkan naungan dari-Nya, (yaitu) pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Tuhannya…” (HR Bukhari dan Muslim)
Pemuda Islam pun tidak lupa untuk menyucikan jiwanya. Mereka bersungguh-sungguh menempa jiwanya untuk melaksanakan ibadah-ibadah sunah, seperti salat malam, berpuasa di hari-hari yang memiliki keutamaan, dan membaca zikir harian. Jika para pemuda konsisten dalam ketakwaannya, maka hal ini akan meningkatkan keistikamahan untuk meniti jalan hidayah. Selain itu, pemuda Islam tidak boleh hanya mengikuti perasaan dan semangatnya saja. Ia berjalan meniti jalan hidayah di atas bimbingan para ulama terpercaya dan para pakar yang luas ilmunya. Mereka mengikuti nasihat para ulama dan orang-orang alim, sehingga para pemuda lebih banyak memberikan manfaat kepada umat dan agamanya. Hal ini akan melindungi mereka dari propaganda yang menyesatkan dan membelokkan mereka dari kebenaran Islam.
Pemuda Islam harus menjadi teladan bagi masyarakat dalam memegang amanah, istikamah, memiliki kejujuran, menjaga kehormatan, dan memiliki akhlak-akhlak mulia lainnya. Inilah fitrah pemuda Islam.
Pemuda Islam pun bangga dengan agamanya. Mereka berupaya menampakkan syiar-syiar agamanya. Mereka berjihad dan mengorbankan jiwa di jalan Allah Taala.
Pemuda Islam akan mengerahkan dirinya dengan mudah di jalan Allah demi kemuliaan agama-Nya. Mereka tampil sebagai pembela kehormatan kaum muslimin dan menjaga setiap jengkal tanah kaum muslim. Mereka akan terlihat di mana saja ketika tenaga dan kekuatannya dibutuhkan dengan ringan mereka berkorban untuk Rabb-nya.
Peradaban Islam dimulai dari pemuda yang saleh dan tangguh. Jika peradaban tidak memiliki pemuda niscaya peradaban itu akan mati. Jika pemudanya lurus maka peradaban pun akan lurus.
Maka Sebelum generasi terbaik negeri ini benar-benar mengalami kerusakan yang parah, para pemuda harus segera menyadari perannya. Pemuda harus berusaha mengembalikan idealismenya sebagai agen perubah. Namun, hal ini akan sangat sulit terwujud selama negeri ini masih dicengkeram oleh sistem kapitalisme liberal. Maka, kita butuh sistem yang lebih baik bahkan terbaik, yang mampu mencetak generasi penerus bangsa yang cemerlang.
Generasi cemerlang itu hanya akan terlahir dari sistem yang cemerlang pula, yaitu sistem Islam.
Islam yang diturunkan oleh Allah telah begitu sempurna mengatur kehidupan ini. Mulai dari sistem pergaulan, sistem pendidikan, sistem ekonomi, sistem hukum, sampai sistem politik dan pemerintahan, semuanya ada di dalam Islam.
Dalam bidang pendidikan, sistem pendidikan Islam mampu membentuk individu-individu berkepribadian Islam. Negara akan menjamin pemenuhan kebutuhan pendidikan atas seluruh rakyatnya. Negara melakukan pengelolaan dalam sistem pendidikan melalui empat hal, yakni biaya pendidikan yang dibebaskan (gratis), penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, penyediaan guru yang berkualitas dan penyiapan orangtua yang berkualitas.
Dalam bidang ekonomi, sistem ekonomi Islam juga mampu menjamin kesejahteraan seluruh rakyat. Negara akan menjamin terdistribusikannya harta secara adil dan merata kepada seluruh rakyat. Sistem ekonomi Islam juga mampu menjauhkan masyarakat dari segala bentuk kemaksiatan seperti kecurangan dalam timbangan, penipuan dan sebagainya.
Dalam bidang sosial, sistem pergaulan Islam mampu membersihkan masyarakat dari seks bebas dan akhlak yang rendah. Selain itu, negara juga akan menerapkan sistem sanksi (uqubat) yang tegas sehingga mampu menjadikan masyarakat takut dan berhati-hati dari melanggar aturan Allah.
Jadi, pencegahan kemaksiatan dalam sistem Islam tidak sekedar memberi sanksi berat tapi juga memberangus sarana dan media-media penyedia pornografi-pornoaksi yang ada di masyarakat.
Inilah solusi tuntas yang diberikan Islam untuk mengatur kehidupan umat manusia. Solusi ini akan mampu terimplementasikan dengan sempurna melalui institusi negara yang menerapkannya.
Dengan adanya ketakwaan individu, yang bersinergi dengan kontrol dari masyarakat, serta penerapan komprehensif yang dilakukan oleh negara. Pilar-pilar inilah yang menjadi jaminan bahwa pendidikan akan benar-benar mampu menghasilkan generasi cemerlang, agen perubah yang bertakwa.
Sejarah Islam telah mencatat kehebatan generasi muda Islam yang tangguh, yang terdidik oleh sistem Islam. Salah satunya adalah Muhammad Al-Fatih. Di usianya yang masih muda (21 tahun), Muhammad Al-Fatih telah dipercaya menjadi gubernur ibukota. Beliau juga telah menguasai 7 bahasa saat berusia 23 tahun. Semenjak baligh hingga meninggal, ia juga tidak pernah meninggalkan shalat rawatib dan tahajjud. Tak hanya itu, Muhammad Al-Fatih bahkan mampu mengukir prestasi besar yaitu menaklukkan Konstantinopel (Byzantium) saat berumur 23 tahun.
Islam mampu tegak berdiri karena diisi oleh para pemuda, di antaranya Mushab bin Umair (24 tahun), Ibnu Umar (13 tahun), Saad bin Abi Waqas (17 tahun), Ibnu Abbas (13 tahun) dll. Rasulullah saw. mengisi ring pertama dakwah dengan para pemuda karena beban dakwah yang berat saat pertama kali Islam ditegakkan hanya bisa dipikul oleh para pemuda. Peran serta anak muda luar biasa berkontribusi untuk perjuangan Islam.
Beban dakwah jika diberikan pada orang tua, lambatlah pertumbuhan dakwah. Sementara jika diberikan pada para pemuda, mereka ibarat generator yang mempercepat pertumbuhan dakwah.
Penting bagi setiap aktivis dakwah dan seluruh kaum muslim mengembalikan pemuda Islam pada fitrahnya. Pemuda yang beriman pada Rabb-nya memiliki harapan-harapan besar dan itu pasti harapan kebaikan. Pemuda yang tidak beriman pada Rabb-Nya biasanya hanya berkutat pada syahwat dan nafsu. Kita memohon kepada Allah Taala untuk memperbaiki kondisi umat Islam dan memberikan petunjuk kepada para pemudanya untuk beramal saleh.
Menjadikan para pemuda Islam sebagai petunjuk yang menerangi jalan kebenaran. Dengan demikian kebangkitan Islam segera terwujud dan peradabannya pun akan meliputi Timur dan Barat.
Begitu besarnya potensi yang dimiliki oleh para pemuda, seharusnya menjadikan kita lebih memperhatikan kondisi generasi muda negeri ini. Jika kapitalisme liberal telah terbukti sukses merusak moral generasi muda bangsa saat ini, maka tak perlu kita pertahankan terlalu lama. Di sisi lain, sistem Islam ternyata telah terbukti sukses melahirkan generasi muda yang tangguh dan hebat, layaknya Muhammad Al-Fatih. Maka, sungguh tak ada salahnya jika sistem Islam tersebut kita jadikan sebagai alternatif solusi untuk melahirkan generasi cemerlang, demi terwujudnya peradaban gemilang di masa mendatang. Wallahualam

No comments:
Post a Comment