Lagi viral di sosial media Citayam Fashion week. Generasi Muda saat ini mencari jati diri dengan ikut meramaikan Citayam Fashion Week, sambil menunjukkan gaya berpakaian mereka.
SCBD Fashion Week yang merupakan singkatan dari beberapa tempat yakni Sudirman, Citayam, Bojonggede, dan Depok menjadi Viral karena dianggap sebagai salah satu aspirasi pemuda untuk mengekspresikan diri. Mereka hadir dan bebas menggunakan pakai apa saja yang mereka suka dan menurut mereka unik, nyaman, dan keren. Outfit- nya pun bermalam macam, mulai dari ratusan ribu hingga mencapai jutaan.
Namun, timbul kekhawatiran bahwa ajang ini hanyalah ekspresi kebebasan yang menunjukkan gaya hidup hedonis dan liberal. Yakni yang dimana ditampilkan hanyalah sesuatu yang bersifat fisik yakni fashion, bukanlah prestasi.
Kemudian ada yang mengapresiasi, namun banyak juga masyarakat mengeluh dengan adanya aktivitas ini karena dianggap mengganggu lalu lintas.
Apalagi ditemukan para pemuda tersebut tidur dipinggir jalanan sampai pagi, belum lagi mereka membuang sampah sembarangan dan sebagainya.
Apakah benar ini adalah sebuah ekspresi yang harus diapresiasi? Atau ini adalah pertanda bahwa para pemuda kita menunjukkan gejala lupa diri, inginnya melupakan masalah negeri yang sedang mengalami kerusakan multidimensi.
Ada tiga faktor yang mempengaruhi fenomena tersebut.
Pertama : Secara natural memang manusia itu suka pada sesuatu yang bersifat duniawi dan itu merupakan fitrah manusia yang disebut gharizah hubud tamalut ( naluri cinta atau senang memiliki) dan hubus siyadah( kesenangan untuk menguasai), termasuk kesenangan untuk memiliki pengaruh yang didalamnya juga ada ketenaran dan kepopuleran. Semua itu berujung pada apa yang disebut dalam Al-quran, Wa tuhibbunal mala hubban jamma.
Kedua: Faktor medium, yaitu media sosial yang merupakan medium yang membuat orang itu memiliki medium tendensi terhadap dunia diluar dirinya dan tidak ada lagi otoritas penguasa terhadap media.
Yang menarik adalah media itu membuka ruang interaksi, sehingga ketika banyak yang tertarik dengan konten yang dibuat oleh seseorang, maka orang tersebut seperti ada agama baru dalam dunia sosial media apa yang dikenal dengan istilah viral.
Ketiga: Atmosfer saat ini yang sudah hedonistik dan kapitalistik. Dalam atmosfer yang seperti itu ada pengakuan terhadap fenomena itu dan pengakuannya berwujud pada pujian, undangan, pemberian beasiswa, dan fasilitas. ( Cendikiawan Muslim Ustadz Ismail Yusanto. Chennel Media Umat, ahad 31/07/22).
Dalam sejarahnya, pemuda dikenal sebagai sosok yang memiliki idealisme tinggi, kreatif dan memiliki kekuatan fisik yang prima.
Ditangan pemuda inilah masa depan sebuah negara ditentukan, jika para pemudanya rusak, maka hancurlah negara tersebut.
Maka sangat berlebihan ketika Indonesia merasa beruntung menjadi salah satu negara yang mendapat bonus demografi, dimana jumlah pemuda lebih banyak dari pada usia tua. Seharusnya dengan bonus demografi ini Indonesia memiliki peluang untuk mencetak generasi yang cerdas, kritis, dan berkepribadian luhur.
Seharusnya bonus demografi ini bisa menjadi kesempatan emas, justru Indonesia mengalami permasalahan yang sangat serius pada kalangan pemuda ini.
Banyaknya aksi tawuran, bunuh diri, narkoba, seks bebas, geng motor, putus sekolah, paparan LGBT menjadi mata rantai yang sulit untuk diuraikan.
Dengan adanya fenomena aksi anak remaja ini seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah, karena jika tidak, maka akan timbul berbagai persoalan.
Pergaulan bebas dimana laki-laki dan wanita bercampur baur akan menimbulkan masalah sosial seperti seks bebas, hamil diluar nikah dan lain sebagainya.
Citayam fashion week menunjukkan kepada kita potret pemuda yang suka having fun.
Citayam Fashion week adalah hasil dari penerapan sistem yang rusak Yaitu sekulerisme. Sekulerisme adalah pemisahan agama dari kehidupan. Agama tidak mengatur didalam kehidupan baik secara individu, masyarakat maupun negara. Wajar saja saat ini pemuda generasi penerus bangsa ini kehilangan identitas diri sebagai pemuda yang menentukan bangsa Indonesia ini ke masa depan yang baik. Jika agama tidak dijadikan standar perbuatan melakukan suatu aktifitas maka akan melahirkan pemuda yang jauh dari agamanya, jauh dari ulama. Maka tidak akan bisa menjadi penggerak perubahan yang hakiki.
Islam menaruh perhatian yang begitu besar kepada pemuda. Islam memiliki pandangan bahwa pemuda adalah tulang punggung negara, di tangan pemuda inilah dakwah Islam akan semakin tersebar luas ke penjuru dunia. Jika kita menilik pada sejarah, Islam mampu mencapai kejayaannya berkat para pemuda.
Mushab bin Umair yang saat itu berusia 24 tahun berhasil berdakwah dimadinah. Sa'ad bin Abi Waqash saat usia 17 tahun sudah ahli dalam memanah. Ibnu Abbas di saat usianya baru 13 tahun sudah menunjukkan kecerdasannya yang luar biasa.
Tidak akan bisa mencetak generasi yang tangguh yang standar perbuatan sesuai hukum syarat. Hanya dengan Negara Islam aturan Allah bisa diterapkan sehingga melahirkan para pemuda yang cemerlang.
Tetap istiqomah dalam barisan dakwah untuk menyelamatkan para pemuda bangsa.

No comments:
Post a Comment