Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

INDONESIA, BELAJARLAH DARI BANGKRUTNYA SRI LANKA

Monday, July 25, 2022 | July 25, 2022 WIB Last Updated 2022-07-25T11:56:06Z

Oleh Siami Rohmah
Pegiat Literasi

Akhirnya, Gotabaya Rajapaksa bersedia mengundurkan diri. Ya, presiden Sri Lanka ini menerima tuntutan dari rakyatnya. Tentu hal ini disambut gembira oleh warga. Sebagaimana diketahui bersama negara di Asia Selatan ini menjadi sorotan dunia pada akhir-akhir ini, setelah viralnya penyerbuan rumah presiden Gotabaya oleh rakyatnya.
Bukan tanpa alasan rakyat Sri Lanka menduduki rumah presidennya, pasalnya semua itu menjadi puncak luapan penderitaan rakyat. Sri Lanka dinyatakan sebagai negara yang bangkrut. Krisis berkepanjangan dialami negara ini, mulai krisis bahan bakar, kelaparan, pemadaman listrik berkepanjangan, sampai krisis obat - obatan.

Sri Lanka Terjerat Utang
Apa yang dialami Sri Lanka adalah krisis terburuk setelah kemerdekaannya, sejak 1948. Negara ini kehabisan uang untuk opersionalnya. Keuangan negara habis untuk membayar hutang, pokok dan bunganya. Hutang Sri Lanka per akhir 2021 sebesar USD50,72 miliar. Yang sebagian besar hutang ini dikucurkan oleh IMF. Selain itu Sri Lanka juga banyak berhutang pada China dan India.

Hutang-hutang itu mayoritas untuk pembiayaan infrastruktur. Sementara sektor pariwisata di Sri Lanka yang menjadi tulang punggung telah kolaps. Kini Sri Lanka harus membayar hutang yang yang semakin membengkak. Ditambah korupsi yang akan membuat kondisi semakin sulit. Sri Lanka sibuk mencari bantuan negara lain, mulai dari Jepang, China, AS, untuk hutang hingga jutaan dolar.

Perangkap Kapitalisme
Jika berbicara utang, Indonesia pada Mei 2022 memiliki utang sebesar USD 406, 3 miliar. Tidak heran jika hasil survei Bloomberg menyatakan Indonesia termasuk kedalam 15 besar negara yang berpotensi resesi. Apalagi gaya kebijakan dinegeri ini tidak jauh beda dengan Sri Lanka, hobi utang banyak korupsi. Bahkan BPK RI mengkhawatirkan Indonesia tidak mampu membayar utang. Sebab rasio utang Indonesia mencapai 369%, melebihi rekomendasi International Debt Relief (IDR) sebesar 92-176% dan rekomendasi IMF 90-150%.

Indonesia dan negara dunia ketiga, termasuk Sri Lanka sejatinya masuk dalam apa yang disebut dengan kapitalisme global. Yang mana produk turunan dari kapitalisme ini adalah liberalisme. Dari liberalisme ini ada kebebasan dalam pengelolaan sumber daya oleh swasta. Akibatnya, mayoritas dikuasai oleh swasta, sementara negara membutuhkan banyak dana untuk operasionalnya. Ketika pemasukan tak sebanding dengan pengeluaran maka negara akan mengambil solusi pajak dan utang, baik utang dari dalam dan luar negeri. Nah, utang luar negeri yang diambil oleh Indonesia maupun Sri Lanka terkait erat dengan IMF dan World Bank, yang mana dua lembaga ini memberikan syarat yang membuat ekonomi semakin liberal. Belum lagi ditambah kehadiran China pada 2014 dengan proyek OBOR sehingga infrastruktur dan utang Indonesia semakin tidak terkendali, hingga menyentuh 7000 triliun lebih.

Parahnya BUMN yang seharusnya menjadi sumber pendapatan negara malah ikut terlilit utang. Dari sini kita sudah sepatutnya waspada, dengan utang yang jauh lebih besar dari Sri Lanka. Apa yang terjadi di Sri Lanka sangat mungkin terjadi di Indonesia dengan tingkat kebrangkutan dan efek yang lebih besar.

Menentukan Jalan Keluar
Para pakar di Barat sejatinya sudah mulai khawatir atas globalisasi yang disebut "Turbo-Kapitalisme" yang menggilas siapa saja, terutama negara berkemban yang tidak memiliki siapapun dari negara maju yang dengan ikhlas berbagi dengan mereka atau memperjuangkan nasib mereka (Nuschler,1987), bahkan kemudian menghancurkan demokrasi itu sendiri (Martin&Schumann, 1996). (Al-Insan).

Selama ini umat manusia sudah pernah mencoba berbagai sistem kehidupan, sosialisme, kapitalisme. Yang mana dari sistem yang diterapkan itu tidak membawa selain daripada kesulitan. Bukankah sudah seharusnya Islam yang diterapkan sebagai sistem kehidupan. Islam yang sudah terbukti lebih dari 13 abad gemilang memimpin dunia.

"Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikanNya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS. Ali Imran 140). Wallahualam bissawab.
×
Berita Terbaru Update