Oleh Titien Khadijah
Muslimah Peduli Umat
Ketidakpastian ekonomi global saat ini masih tinggi, meskipun pandemi Covid-19 relatif bisa terkendali. Inflasi yang terjadi sekarang ini terbukti tidak bersifat sementara, cenderung semakin persisten karena meningkatnya tensi geopolitik yaitu perang Rusia-Ukraina.
Stagflasi adalah kondisi di mana ketika kondisi ekonomi sedang mengalami inflasi dan kontruksi terjadi dalam satu waktu. Hal ini dipicu dengan ditandai kombinasi pertumbuhan ekonomi yang stagnan, kenaikan ekonomi yang cepat dan angka pengangguran yang tinggi.
Inflasi meningkat di seluruh dunia, dan melanda ke berbagai negara berkembang maupun negara maju. Penyebabnya kenaikan harga pangan dan energi yang melonjak drastis.
Stagflasi telah berdampak ke negara maju seperti Amerika Serikat negara Paman Sam mengalami inflasi cukup tinggi. Mencerminkan kekurangan pangan dan energi global yang disebabkan konflik Rusia-Ukraina, sehingga berdampak harga dalam negeri, seperti harga pangan, harga rumah sewa dan perawatan medis. Dikutip dari US News, Senin (13/6/2022).
Dikutip dari CNN Indonesia, lonjakan inflasi di Amerika Serikat menyebabkan harga gas hingga pangan naik drastis, ribuan keluarga pun berbondong-bondong mengantri bantuan makanan dari Bank pangan setiap harinya. Hal ini terjadi di seluruh penjuru negeri Paman Sam.
Dampak majemuk Covid-19 pandemi dan ketegangan Rusia-Ukraina yang sedang berlangsung, kondisi ini membuat harga komoditas energi dan pangan meroket yang kemudian berdampak pada lonjakan inflasi di hampir semua negara di dunia ini, tak terkecuali negara maju seperti Amerika Serikat.
Rusia termasuk produsen minyak dan gas serta pangan yang kontribusinya sangat besar di dunia. Kondisi geopolitik yang terjadi saat ini, semakin mendorong harga komoditas yang sebelumnya sudah sangat tinggi menjadi lebih mahal lagi.
Trend inflasi terus beranjak naik dan dikhawatirkan perekonomian dunia mengalami stagflasi. Berbagai negara saat ini fokus untuk memerangi inflasi yang sangat tinggi tersebut dengan menaikan suku bunga. Acuannya contoh Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed, yang melakukan perubahan pengetatan kebijakan moneter yang sangat dramatis, sejak awal 2021-2022 sejumlah negara berkembang G20 seperti Brasil, Meksiko, Afrika Selatan telah menaikan suku bunga acuanya scara signifikan.
Jika tidak terkelola dengan baik, resiko global ini akan menggiring kondisi stagflasi, yaitu fenomena inflasi tinggi dan terjadinya resesi seperti yang pernah terjadi di Amerika Serikat pada periode awal 1980-an dan 1990-an dan kondisi stagflasi akan memberikan imbas kepada negara-negara berkembang dan emerging market.
Sekarang ini dunia ada di bawah dominasi kapitalisme, kerusakan ekonomi terjadi di mana-mana. Dalam beberapa tahun terakhir ini, perekonomian dunia telah dihantui ancaman stagflasi, dunia sudah memasuki suatu fase yang sangat tidak stabil dan masa depan yang sangat tidak menentu.
Melihat fenomena-fenomena yang tragis tersebut, maka tidak mengherankan apabila sejumlah pakar ekonomi terkemuka, mengkritik dan mencemaskan kemampuan ekonomi kapitalisme dalam mewujudkan kemakmuran ekonomi di muka bumi ini. Kapitalisme telah gagal sebagai sistem dan model ekonomi, serta gagal mewujudkan kesejahteraan dan keadilan di dunia ini.
Pengalaman moneter dunia menunjukkan mata uang kertas (flat money) bersifat labil dan selalu kehilangan nilai akibat inflasi, selembar kertas rupiah dengan selembar kertas dolar AS mempunyai nilai tukar uang yang sangat jauh perbedaannya. Padahal secara fisik nilai intrinsiknya kurang lebih sama. Begitu pula selembar rupiah dengan nominal 10.000, daya belinya pada hari ini lebih rendah dibandingkan satu tahun lalu atau jauh lebih rendah dibandingkan sepuluh tahun sebelumnya.
Hal ini menyebabkan seseorang yang memegang dan menyimpan uang kertas sangat riskan mengalami kehilangan nilai kekayaan riilnya. Bagi negara yang mata uangnya lemah dibandingkan mata uang kuat negara lain, nilai kekayaannya dalam mata uang asing cenderung merosot, sedang hutang luar negerinya membengkak dalam mata uang lokal. Sehingga sebuah negara dan masyarakatnya dapat dimiskinkan dalam sekejap dengan hanya menjatuhkankan nilai tukar mata uangnya, sebagaimana pengalaman krisis moneter yang menimpa Indonesia pada tahun 1997-1998.
Berbeda dengan dengan mata uang berbasis emas dan perak adalah mata uang kejayaan negara khilafah yang memiliki sifat universal. Dominasi dollar AS ataupun mata uang kuat (hard currency) lainnya atas transaksi ekonomi dunia merupakan salah satu metode penjajahan kapitalisme atas masyarakat dunia yang harus dihentikan diganti dengan mata uang dinar dan dirham.
Mata uang dinar dan dirham menjamin kebebasan setiap negara dan penduduk dunia untuk melakukan transaksi ekonomi dan perdagangan tanpa harus takut mengalami gejolak kurs, kehilangan kekayaan ataupun mengalami penjajahan moneter. Dengan menggunakan mata uang dinar dan dirham sebagai alat ukur internasional menjadi salah satu syarat bagi terwujudnya kesejahteraan dunia.
Ekonomi Islam menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia yang dibangun di atas fondasi akidah Islam ini adalah akidah yang haq karena berasal dari Allah Swt. yang dibawa kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad saw. Akidah Islam merupakan akidah yang memuaskan akal, menentramkan jiwa dan sesuai dengan fitrah manusia, karena peraturan yang terpancar dari Islam kafah seperti ekonomi Islam memiliki karakter yang khas dan manusiawi.
Wallahualam bissawab.
