Oleh Titien Khadijah
Muslimah Peduli Umat
Sri Lanka yang terletak di selatan India menjadi contoh nyata bagi Indonesia sebagai suatu bangsa, di mana Sri Lanka bangkrut karena utang luar negeri untuk pembangunan infrastruktur di negerinya.
Ketidakmampuan Sri Lanka dalam membayar utang luar negeri karena fundamental negerinya tidak mampu menopang dampak dari ekonomi global.
Krsis ini sampai membuat Sri Lanka terpaksa menutup sekolah, rumah sakit, kantor pemerintahan, yang tidak lagi bisa melayani masyarakat dengan baik.
Ekonomi Sri Lanka yang dibangun dengan utang luar negeri "besar pasak daripada tiang", sampai akhirnya pemerintahan Sri Lanka mengatakan bangkrut setelah berbulan-bulan rakyat Sri Lanka mengalami kekurangan bahan makanan, bahan bakar juga listrik.
Kebiasaan berutang untuk infrastruktur tanpa diikuti kemampuan untuk membayar menjadi titik kejatuhan Sri Lanka, salah satu kewajiban utang yang harus dibayar Sri Lanka adalah ke China untuk sejumlah proyek infrastruktur sejak tahun 2005, seperti pembangunan jalan raya, bandara, pembangkit listrik, hingga salah satunya pembangunan pelabuhan Hambantota, tapi sayangnya sebagian proyek malah dinilai tidak memberi manfaat bagi ekonomi Sri Lanka.
China juga memiliki peran dalam krisis ekonomi di Sri Lanka, China berkepentingan menyukseskan agenda BRI (Belt and Road Initiative), dengan mencari mitra strategis China mewujudkan agenda BRI melalui fasilitas pinjaman kepada negara-negara di kawasan Asia Selatan termasuk Sri Lanka.
Debt trap diplomasi merupakan salah satu strategi yang digunakan oleh China dalam menjalankan Belt and Road Initiative melalui debt trap diplomasi China akan mendapatkan kepemilikan infrastruktur negara peminjam dengan balasan pelunasan utang.
Sri Lanka merupakan salah satu negara yang mengalami debt trap diplomasi (diplomasi perangkap utang) dan dapat dikatakan Sri Lanka sangat ketergantungan pinjaman dana pada pemerintah China.
Faktor internal disebabkan karena faktor kondisi ekonomi Sri Lanka yang kurang stabil sejak kemerdekaan dan ditambah dengan adanya perang saudara dengan Liberation of Tiger Tamil Eelam (LiTE), serta adanya dominasi keluarga Rajapaksa dalam kursi pemerintahan dan yang memiliki keterdekatan dengan pemerintah China.
Ditambah lagi, Sri Lanka kekurangan cadangan devisa, salah satu sumber pendapatan devisa negara adalah parawisata, dikarenakan pandemi Covid-19 menyebabkan kunjungan turis anjlok drastis, kemudian teh yang menjadi salah satu pendapatan negara itu anjlok setelah pemerintah mengurangi impor pupuk dan pestisida dengan alasan petani kembali ke tanaman organik.
Berangkat dari faktor internal yang sangat memudahkan bagi pihak eksternal khususnya China memberikan pengaruh dalam suatu pembangunan infrastruktur dan pengambilan keputusan sampai level negara.
Kondisi ekonomi yang dihadapi Sri Lanka merupakan potret krisis yang terjadi di negara-negara berkembang yang mengadopsi sistem kapitalisme, ketergantungan kepada hutang ribawi menyebabkan tersedotnya anggaran untuk membayar bunga utang yang nilainya akan semakin tinggi.
Utang yang dijadikan jebakan oleh negara-negara kreditur untuk mengakuisisi aset yang dibiayai utang, ketika pemerintah tidak sanggup membayar kewajipannya. Utang juga menjadi sarana bagi kreditur untuk menerapkan syarat-syarat yang merugikan negara, pada akhirnya yang menderita rakyat negara tersebut.
Di dalam perspektif Islam, penarikan utang ribawi yang dilakukan Sri Lanka merupakan kebijakan yang haram, sebabnya riba telah diharamkan secara tegas berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunah.
Utang juga telah menjadi pintu masuk negara atau institusi asing untuk menanamkan pengaruhnya melalui syarat-syarat yang kerap merugikan suatu negara dan membuat pemerintahnya tidak lagi independen dalam mengatur negara mereka. Kondisi ini haram.
Sebabnya di dalam Al-Qur'an dinyatakan dengan tegas larangan orang-orang kafir menguasai kaum Muslim (lihat: QS. An-Nisa(4) ayat 141).
Satu-satunya jalan yang harus ditempuh oleh Sri Lanka dan negara-negara lain di dunia ini adalah meninggalkan sistem kapitalisme yang telah menjatuhkan mereka ke jurang penderitaan dan mereka mengadopsi sistem Islam kafah yang selalu memberikan solusi secara paripurna dalam segala problematika umat di dunia ini untuk mencapai kehidupan yang hakiki.
Wallahualam bissawab.

No comments:
Post a Comment