Oleh Nasywa Adzkiya
(Aktivis Muslimah Kalsel)
Setelah dua tahun masyarakat Indonesia dibatasi untuk mudik lebaran dikarenakan melonjaknya kasus Covid-19, kini di tahun 2022 masyarakat Indonesia telah dapat melakukan mudik liburan seiring dengan berkurangnya kasus tersebut.
Mudik lebaran tahun ini rupanya dimanfaatkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia untuk melepas rindu karena dua tahun sebelumnya tidak dapat mudik. Alhasil jumlah pemudik di tahun ini melonjak tajam.
Sebagaimana dilansir dari merdeka.com (4/5), Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Ahmad Ramadhan mengatakan selama arus mudik Lebaran Tahun 2022, sebanyak 1,9 juta kendaraan meninggalkan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) melalui sejumlah tol, sejak, 22 April hingga 2 Mei 2022."Realisasi volume lalu lintas jalan tol keluar Jabodetabek sebanyak 1.922.206 kendaraan.
Ia juga menyampaikan bahwa jumlah kendaraan keluar Jabodetabek di jalan nontol tahun 2022 mengalami kenaikan 40 persen bila dibandingkan tahun lalu yaitu 2021," jelasnya.
Tingginya Angka Kecelakaan Selama Mudik Lebaran
Sepanjang arus mudik lebaran tentu yang perlu diperhatikan adalah bagaimana keselamatan para pemudik. Apalagi mudik merupakan tradisi yang tidak bisa dihilangkan dari Indonesia dan dilakukan setiap tahunnya. Apakah pemerintah sudah benar-benar menyiapkan transportasi yang aman untuk rakyatnya?
Kepolisian masih mencatat angka kecelakaan yang tinggi saat arus mudik Lebaran 1443 H atau 2022 ini. Lebih dari 2.000 kecelakaan terjadi saat arus mudik 2022. Posko Operasi Ketupat tahun 2022 melaporkan bahwa terjadi 51 kecelakaan di Jalan Tol sepanjang musim arus mudik Lebaran 2022. Jumlah kecelakaan itu terjadi sejak 23 April 2022 sampai 2 Mei 2022.
“Sementara kecelakaan di jalan non-tol terjadi sebanyak 2.894 kejadian,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo dikutip dari situs resmi Divisi Humas Polri. (detik.com, 05/05/2022)
Sejak awal, pemerintah telah menyinyalir mudik Lebaran 2022 akan membludak (sekitar 79 juta orang). Namun, sayangnya, penyiapan fasilitas sangat minim sehingga tidak bisa dihindari masih terus terjadi kemacetan dan kecelakaan lalu lintas.
Dilansir dari Merdeka.com (22/4/2022), Kementerian Perhubungan menyatakan macet mudik dan balik itu pasti akan terjadi karena kemampuan pembangunan sarana dan prasarana pemerintah terbatas sehingga tidak bisa mengakomodasi saat volume kendaraan terlalu tinggi.
Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Sugihardjo menambahkan bahwa sarana dan prasarana transportasi tidak didesain untuk menghadapi arus puncak mudik. Pembangunannya membutuhkan dana yang sangat besar dan kalau sudah tidak Lebaran bisa mubazir. Jadi, yang bisa dilakukan hanya langkah-langkah optimasi.
Pemerintah Harus Memberikan Fasilitas yang Memadai
Pemerintah sudah memprediksi sejak dini bahwa tahun ini akan terjadi lonjakan pemudik. Namun alih-alih menyiapkan fasilitas, pemerintah seolah memberikan fasilitas seadanya. Alhasil keselamatan dan kenyamanan para pemudik menjadi terganggu.
Menurut Islam, negara dan pemerintah wajib melayani semua kebutuhan rakyat (termasuk infrastruktur), serta sarana dan prasarana yang layak untuk transportasi sehari-hari, tidak hanya saat momen mudik. Dalam sistem Islam (khilafah), pembangunan sarana prasarana yang aman dan nyaman tidak khusus ketika arus besar seperti hari raya saja, tetapi kapan pun rakyat harus bisa merasakannya.
Jika berkaca pada sistem Islam yang pernah diterapkan dulu. Sejak kekhilafahan Rasyidah, Bani Umayah, Bani Abbasiah, hingga Utsmani begitu banyak peninggalan dan catatan sejarah yang menggambarkan begitu majunya infrastruktur era kekhilafahan Islam.
Mengutip tulisan Pujo Nugroho(assalim.id), Dr Kasem Ajram (1992) dalam bukunya, The Miracle of Islam Science, 2nd Edition memaparkan pesatnya pembangunan infrastruktur transportasi, yakni jalan umum. “Yang paling canggih adalah jalan-jalan di Kota Baghdad, Irak. Jalannya sudah dilapisi aspal pada abad ke-8 M,” demikian tulis Ajram di bukunya. Yang paling mengagumkan, pembangunan jalan beraspal di kota itu telah dimulai ketika Khalifah Al-Mansur mendirikannya pada 762 M.
Menurut catatan sejarah transportasi dunia, negara-negara di Eropa baru mulai membangun jalan pada abad ke-18 M. Insinyur pertama Barat pertama yang membangun jalan adalah Jhon Metcalfe. Itu artinya 10 abad setelah pembangunan jalan beraspal di dunia Islam.
Sabda Rasul, “Al-Imâm râ’in wa huwa mas’ûl[un] ‘an ra’iyyatihi (imam/khalifah/kepala negara adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas pengurusan rakyatnya).” (HR Bukhari)
Demikianlah gambaran sistem Islam memberikan fasilitas transportasi yang memadai bagi rakyatnya. Karena sudah menjadi kewajiban negara untuk melayani rakyatnya. Bukan hanya pada saat momen mudik, melainkan juga untuk keamanan transportasi sehari-hari.
Wallahu a'lam bishawab

No comments:
Post a Comment