Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Rasisme Tumbuh Subur di Negara Demokratis

Thursday, May 26, 2022 | Thursday, May 26, 2022 WIB Last Updated 2022-05-25T17:11:25Z

Oleh Nining Sarimanah
Member Akademi Menulis Kreatif (AMK)


Penembakan massal terulang lagi, sungguh miris. Reputasi Amerika Serikat (AS) sebagai negara kampium demokrasi yang mengklaim dirinya sebagai negara yang menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM) nyatanya hanya isapan jempol belaka. Padahal, hidup adalah hak asasi setiap umat manusia. Karena, ia anugerah dari Tuhan pencipta manusia. Tanpa memandang lagi dari sisi apapun baik agama, ras, bangsa, dan sebagainya.

Namun sayang seribu sayang. Tampaknya hak hidup secara tenang dan aman tidak ada kamusnya dalam negara pengusung demokrasi. Kasus penembakan terus berulang kali terjadi tanpa ada solusi yang pasti. Beberapa waktu lalu, viral dari negeri Paman Sam, seorang remaja berkulit putih berusia 18 tahun melakukan tembakan massal di sebuah toko grosir di Buffalo, New York, Sabtu (14/5), 10 orang tewas ditembak dan tiga lainnya luka-luka.

Selama berbulan-bulan, toko grosir yang didominasi komunitas berkulit hitam menjadi target rencana penembakan oleh remaja yang bernama Payton Gendron. Sebelumnya, ia telah memeriksa lokasi tersebut dengan mengunjunginya sebanyak tiga kali. Ia lebih memilih Buffalo sebagai situs pilihan serangan penembakannya karena kode posnya memiliki populasi kulit hitam yang lebih tinggi daripada lokasi lain. (Liputan6.com, 18/5/2022)

Amerika Serikat sebenarnya telah lama terkenal sebagai negara paling rasis di dunia.  Mereka berkeyakinan, AS hanya dimiliki oleh orang kulit putih saja. Paham ideologi rasis inilah menjadi penyebab terus berulangnya kasus penembakan di sana. Jaminan keamanan dan ketenangan yang merupakan dambaan setiap orang rasanya sulit kita temukan. Bagaimana tidak, dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi penembakan massal di AS. Dikutip dari Republika (15/5/2022).

Atlanta, 16 Maret 2021 - Delapan orang, termasuk enam wanita keturunan Asia, ditembak mati dalam serangkaian serangan di day spa di dan sekitar Atlanta. Seorang tersangka pria ditangkap.

Milwaukee, 26 Februari 2020 - Seorang pria bersenjata melepaskan tembakan ke kompleks pembuatan bir Molson Coors Beverage Co di Milwaukee, menewaskan lima rekan kerja sebelum dia bunuh diri.

Dayton, 4 Agustus 2019 - Seorang pria bersenjata yang mengenakan pelindung tubuh melepaskan tembakan di pusat kota Dayton, Ohio, menewaskan sembilan orang termasuk saudara perempuannya. Polisi membunuh penembak. 

Masih banyak lagi peristiwa penembakan massal lainnya yang terjadi di tempat publik di AS. Hal ini, menunjukkan wujud masyarakat AS yang sakit; liar dan brutal, tingkat toleransi rendah yang menutup diri terhadap fakta bahwa manusia itu heterogen, baik agama, warna kulit, dan bangsa.

Sejak tahun 1971, AS melegalkan kepemilikan senjata api baik oleh warga AS sendiri maupun orang asing. Karena hal ini, merupakan bagian dari nilai-nilai kebebasan (kebebasan kepemilikan, kebebasan berpendapat, kebebasan berperilaku, dan kebebasan beragama) yang dijamin oleh konstitusi. Tidak hanya itu, orang berhak menghina dan melecehkan warga kulit hitam tanpa lagi memandang ia adalah manusia yang harus dihargai pula. Tapi kebebasan tersebut justru berbuah malapetaka bagi AS sendiri. Akibatnya kriminalitas terus meningkat tajam, elgebete, zina, rasisme semakin subur, hamil di luar nikah, dan sebagainya.

Sekularisme biang dari semakin terkikisnya nilai kebaikan dan moralitas di tengah masyarakat. Hal ini yang menjadikan kehidupan sosial masyarakat Barat rusak dan sakit. Dari luar terlihat maju dan berperadaban tinggi tapi dari dalam justru masyarakatnya sangat rapuh.

Islam adalah agama sempurna. Islam telah memberikan arahan dan panduan dalam membangun dan mewujudkan masyarakat yang beradab dan mulia. 

Pertama: Individu bertakwa. Negara akan melakukan pembinaan terhadap individu warga negaranya sehingga melahirkan sosok yang memiliki kepribadian Islam, yaitu memiliki pola pikir dan sikap Islam.

Kedua: Masyarakat taat. Islam mengatur masyarakat dengan aturan yang terperinci mulai dari tata pergaulan dan sistem sosial di masyarakat. Masyarakat akan senantiasa beraktivitas amar makruf nahi mungkar sehingga segala bentuk kemungkaran dan kemaksiatan agar tercegah sejak dini.

Ketiga: Negara. Negara menerapkan sistem Islam secara kafah. Dan memberlakukan sanksi yang tegas untuk mewujudkan masyarakat yang aman dan tenang.

Perbedaan ras, agama dan bangsa tidak pernah dikenal dalam Islam. Islam memandang manusia sama, tidak ada perlakuan khusus terhadap individu atau golongan tertentu. Tampak dari perbuatan Rasulullah Saw. mempersaudarakan Anshar  dan Muhajirin, layaknya seperti Bilal mantan  budak yang hitam legam, dipersaudarakan dengan Abu Ruwaihah, salah satu Anshar.

Ketika suatu negeri dinaungi Islam, ia menjadi perekat kuat diantara bangsa. Sehingga wajar Islam menguasai dua pertiga dunia, membentang dari Asia sampai Afrika, melintasi batas bangsa-bangsa dan negara. Peradabannya gemilang dan menjadi mercusuar dunia.

Islam hanya mengenal perbedaan pada derajat takwa setiap hamba. Nabi ﷺ pernah bersabda kepada Abu Dzar, “Lihatlah, engkau tidaklah akan baik dari orang yang berkulit merah atau berkulit hitam sampai engkau mengungguli mereka dengan takwa.” (HR Ahmad)

Dengan demikian, hanya dengan Islamlah yang mampu mempersatukan bangsa, meleburkan perbedaan, dan membentuk masyarakat yang beradab. Sebaliknya sistem buatan manusia yaitu demokrasi sekuler membawa masyarakat yang tidak beradab, rusak dan merusak. Lalu apa pilihan kita?.
Islam tentu menjadi satu-satunya solusi terhadap persoalan kehidupam manusia.

Wallahu'alam bishshawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update