Oleh: Kharimah El-Khuluq
Pawang hujan kehujanan, salah satu candaan yang dilontarkan oleh netizen untuk Rara yang hadir sebagai Pawang hujan di arena Motogp Mandalika. Naasnya cuaca bukannya terang benderang melainkan hujan deras dan Si Pawang basah kuyup.
Ironisnya, selevel Kemdikbud pun turut membenarkan perilaku tersebut dan mengatakan bahwa tradisi pawang hujan ada pada banyak budaya di dunia sejak berabad lalu.
Kemudian dalam postingan di akun resmi Instagram @kemdikbud.ri, menyebutkan bahwa pawang hujan bekerja menggunakan gelombang otak Teta untuk 'berkomunikasi' dengan semesta ketika sedang melaksanakan tugasnya.
Menanggapi hal itu, Ustadz Kondang Felix Siauw berpendapat jika Kemdikbud menganggap hal klenik sebagai bagian dari budaya yang perlu dilestarikan maka ilmu-ilmu sains tidak perlu dipelajari, (SeputarTangsel.Com, 25/03/2020).
Wajar jika postingan dari Kemdikbud mendapatkan nyinyiran dan pertanyaan dari perbagai pihak. Sebab, hal ini bertentangan dengan dunia pendidikan. Dalam dunia pendidikan untuk mempelajari tentang cuaca ada bidang ilmu tersendirinya yakni meteorologi, fisika dan geofisika. Jika cuaca bisa dideteksi dengan aksi klenik, lalu apa fungsinya ilmu-ilmu yang berhubungan dengan cuaca?
Apabila dunia klenik lebih di kedepankan daripada dunia pendidikan, maka lama-kelamaan hal ini akan mematikan nalar atau logika publik. Karena, publik disuguhkan dengan hal-hal yang tidak masuk akal.
Bahaya terbesar dari aksi pawang hujan ini disertai dengan pembenaran oleh Kemdikbud adalah menyesatkan publik. Karena, hal ini mendorong dan mendukung kesyirikan. Karena, upaya yang dilakukan oleh pawang itu sendiri, menganggap bahwa dirinya yang mampu mengendalikan cuaca. Tentu, perilaku ini merupakan tindakan mempersekutukan Allah. Padahal, dirinya hanya lah manusia yang lemah. Sedangkan, pergantian hari, hujan, dll. hanya Sang Khalik lah yang mampu merubah dan mengendalikannya.
Namun, seperti inilah watak dari rezim neoliberalisme dan politisi sekuler dalam bingkai demokrasi. Mereka telah berhasil memisahkan kehidupan dari agama. Dan semakin mempertontonkan hal itu. Upaya menghadirkan pawang hujan merupakan tanda bahwa kesyirikan di negeri ini semakin difasilitasi. Seolah-olah itu adalah ilmiah padahal kesyirikan.
Sejatinya dalam Islam, bahwa kesyirikan itu termasuk dosa besar. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا
Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar." (QS. An-Nisa'[4]:48).
Demikianlah pandangan Islam terkait dengan kesyirikan itu sendiri.
Oleh karena itu, agar kita selamat dari kesyirikan maka harus kembali kepada Islam itu sendiri. Sebab, dalam Islam setiap permasalahan memiliki solusi masing-masing. Begitupula halnya dengan memperediksi cuaca, maka yang dihadirkan adalah ahli meteorologi bukan ahli klenik.
Agar terealisasi kesempurnaan Islam ini, maka harus ada negara yang menerapkannya. Negara tersebut sering kali kita kenal dengan sebutan Daulah Khilafah Islamiyyah. Keberadaan Daulah Khilafah Islamiyyah adalah sebagai pelindung umat, salah satunya melindungi umat dari kesyirikan.
Wallahualam bishawab.
Tag Terpopuler
MENGILMIAHKAN KESYIRIKAN (KASUS PAWANG HUJAN)
PMI
Thursday, April 07, 2022 | April 07, 2022 WIB
Last Updated
2022-04-06T23:17:11Z
