Pengasuh Majelis Taklim dan Pejuang Literasi
Publik kembali dihebohkan oleh pernyataan presiden Jokowi yang tak henti-hentinya mengundang polemik. Negeri yang mayoritas muslim ini, seringkali menunjukkan sikap Islamofobia berlebihan yang tidak bisa diterima oleh akal sehat. Padahal, masih banyak permasalahan yang membutuhkan penanganan serius dari penguasa. Kasus Omicron yang masih terus menghantui, langkanya minyak goreng di pasaran, hingga harga gas LPG yang meroket, semua problematika ini harus segera dicari solusinya.
Presiden Jokowi mengingatkan kepada semua jajaran TNI dan Polri termasuk istri-istrinya agar berhati-hati ketika mengundang penceramah dalam kegiatan beragama. Menurutnya, jangan sampai dengan mengatasnamakan demokrasi, mereka mengundang penceramah radikal. Pernyataannya ini disampaikan di Plaza Mabes TNI, Cilangkap. (suara.com, 1/3/2022).
Penceramah radikal yang dimaksud oleh penguasa mempunyai ciri-ciri tertentu di antaranya menyebarkan kebencian, anti pemerintah, dan mendukung khilafah. Terlihat jelas, Islamofobia akut sedang menyerang penguasa dan jajarannya. Khilafah sebagai ajaran Islam yang mulia terus disudutkan dan dituding sebagai faham yang akan merusak negeri. Pemerintah juga terus memprovokasi publik agar waspada terhadap tokoh dan kelompok radikal ini. Padahal, masyarakat sudah faham, siapa sebenarnya yang merusak negeri.
Tuduhan yang dilontarkan oleh penguasa itu jelas tak berdasar. Ketika para ustaz dan penceramah itu memberikan masukan kepada penguasa tentang kondisi bangsa dan persoalan yang dihadapi, semestinya dianggap sebagai bentuk kecintaan dari saudaranya. Mereka yang kritis terhadap kezaliman penguasa adalah bagian dari perwujudan kasih sayang bukan ancaman.
Rasulullah saw. bersabda, "Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri." (HR Bukhari dan Muslim)
Begitu luar biasanya persaudaraan dalam Islam. Seorang saudara tidak akan membiarkan saudaranya melakukan kezaliman, terlebih kezaliman yang dilakukan seorang penguasa. Makanya, sebagai bentuk cintanya ia senantiasa mengingatkan agar saudaranya selamat. Penguasa seharusnya bersyukur ada ustaz dan penceramah yang kritis dan mengajukan solusi bagi perbaikan negeri ini.
Dalam Islam, setiap muslim yang diberikan ilmu dan fikih oleh Allah Swt. berhak untuk menemui orang yang memiliki kekuasaan untuk memerintahkannya berbuat baik, melarangnya berbuat munkar dan menasehatinya. Penguasa semestinya mendekat kepada ustaz seperti ini, bukan ustaz yang membiarkan penguasanya terjerumus ke dalam api neraka.
Wahai penguasa, bertobatlah selagi nafas masih ada. Hentikan propaganda memfitnah ulama yang ikhlas yang ingin memperbaiki negeri ini dari kemelut yang berkepanjangan, akibat diterapkan sistem kapitalisme buatan manusia. Terapkan Islam secara kafah dalam naungan khilafah, agar rida Allah Swt. melingkupi negeri ini serta berkah datang dari langit dan bumi.
Wallahu a'lam bishshawab.