Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Koreksi Sistem Pendidikan Demi Hentikan Tawuran

Saturday, March 12, 2022 | Saturday, March 12, 2022 WIB Last Updated 2022-03-12T04:46:59Z

Oleh : Helmy Agnya

Dilansir oleh detik.co, 27/2/2022, Tim Patroli Perintis Presisi Polres Metro Depok menangkap tujuh anak muda yang hendak tawuran. Para ABG itu diketahui tengah siaran langsung di media sosialnya untuk mencari lawan tawuran.

Akhirnya, ketujuh remaja itu berhasil diamankan. Polisi juga menyita 4 senjata tajam jenis celurit dan parang dari ketujuh ABG tersebut.

Kejadian yang sama juga terjadi di jalan utama Bawen-Salatiga, di wilayah Desa Asinan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, Senin (14/2) petang. Anggota Satlantas Polres Semarang menggagalkan aksi tawuran yang melibatkan sejumlah siswa SMP. Delapan siswa SMP diamankan, berikut sejumlah peralatan yang diduga akan digunakan sebagai senjata dalam aksi tawuran ini. Beberapa di antaranya adalah senjata tajam (sajam) jenis sabit dan sabuk gir sepeda motor.

Kapolres Semarang, AKBP Yovan Fatika H A, melalui Kasat Lantas Polres Semarang, AKP Rendy Johan Prasetyo mengatakan, penggagalan aksi tawuran ini bermula dari informasi warga di sekitar lokasi. "Awalnya anggota kami mendapatkan laporan dari warga, ada dua kelompok remaja yang sudah saling berhadap- hadapan dan siap tawuran di sekitar restoran Kampoeng Kopi Banaran," kata dia saat dikonformasi di Ungaran.

Atas laporan tersebut, sejumlah anggota Satlantas Polres Semarang yang dipimpin Kanit Turjawali, Ipda Ryanzovi yang kebetulan tengah berada di sekitar Bawen segera menuju ke lokasi yang diinformasikan. Saat tiba di lokasi, anggota Satlantas Polres Semarang masih mendapati dua kelompok remaja yang akan melakukan aksi tawuran sudah saling berhadap-hadapan dan beberapa di antaranya bahkan sudah membawa senjata.

Sungguh miris potret buram pendidikan generasi hari ini. Kasus tawuran antar pelajar ini bukanlah terjadi hanya sekali namun sudah berkali-kali terjadi. Hal ini bukanlah sebuah kebetulan atau kesalahan individu melainkan karena kesalahan sistemis yang harus dicari akar permasalahannya. KPAI mencatat, terdapat 17 kasus kekerasan melibatkan peserta didik dan pendidik. Kasus yang terbanyak ialah tawuran antarpelajar.

Bukan hanya itu, masih banyak permasalahan lain yang menambah daftar panjang buramnya Keadaan pendidikan generasi hari ini. Pergaulan bebas, tawuran antar pelajar, serta remaja telah kehilangan jati dirinya adalah bukti ketidakmampuan sistem sekuler dalam mencetak generasi yang membawa kepada perubahan yang berarti.

Ada dua sebenarnya aturan yang telah dibuat oleh pemerintah untuk memberi panduan pencegahan dan penanganan tindakan kekerasan di lingkungan pendidikan, yaitu Permendikbud 82/2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Satuan Pendidikan, serta Permendikbudristek 30/2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi.

Pada 20/12/2021 lalu, pemerintah juga membentuk Kelompok Kerja (Pokja) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Bidang Pendidikan yang diresmikan pada 20/12/2021. Namun, Aturan yang dibuat tersebut tidak mampu kemudian menangkal kenakalan yang dilakukan oleh remaja yang terus membuat keresahan tersebut.

Apa sebenarnya yang terjadi pada remaja kita? Bahkan, permasalahan yang dilakukan oleh remaja terus berulangkali terjadi dengan kasus yang sama. Dari tahun ke tahun potret buram rusaknya generasi semakin tak terkendali. Berulang kali pemerintah mengganti kurikulum dan mengganti menteri, namun yang terjadi keadaan generasi kian menjadi-jadi.

Siapa sebenarnya yang harus disalahkan atas permasalahan yang terjadi pada remaja kita ? Berbagai problematika yang menimpa generasi kita hari ini maka perlunya kita melakukan koreksi terhadap penerapan sistem yang diterapkan hari ini. Ya, sebuah aturan yang telah melumpuhkan nasib generasi.

Ada dua faktor sebab kerusakan generasi kita, yakni faktor internal dan eksternal: Faktor Internal adalah telah hilangnya indentitas hakiki diri generasi, sistem ala barat ini yakni sekulerisme lah yang telah mengikis jati diri remaja sebagai hamba Allah. Yang telah memandang kehidupan sekedar tempat untuk mencari kesenangan.

Akidah sekuler juga telah mengeliminasi peran mereka sebagai pemuda. Generasi muda hanya tahu tentang eksistensi diri untuk meraih kepuasan materi. Jiwanya teracuni dengan pemikiran sekuler, batinnya kosong dengan nilai Islam. Alhasil, remaja kita mudah frustasi, emosi tidak stabil, dan insecure hingga mengalami depresi dan berakhir bunuh diri, sebab jauhnya dari pemahaman Islam.

Sedangkan pada faktor eksternal dibagi dalam tiga aspek, yaitu keluarga, lingkungan, dan negara. Faktor keluarga ialah bagaimana kemudian cara kedua orang tua dalam mendidik anak-anak mereka. Jika cara pandangnya mereka adalah sekuler kapitalistik, anak-anak akan tumbuh menjadi generasi sekuler yang hanya sibuk menggapai pada kesuksesan duniawi.

Memang, masa remaja adalah masa paling krusial. Mereka mengalami transisi dari fase anak-anak menuju dewasa. Pada masa inilah peran orangtua sangat penting dibutuhkan yakni untuk membimbing serta membina mereka. Dan orangtua juga penting mendidik mereka dengan ilmu. Menanamkan nilai-nilai Islam pada anak agar memiliki kepribadian mulia. Juga tidak mudah terbawa arus racun sekularisasi dan liberalisasi yang tengah mengincar tubuh generasi.

Faktor lingkungan juga sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian generasi. Rumah dan sekolah merupakan lingkungan tempat generasi menjalani kehidupan sosial mereka. Jika kedua lingkungan ini tidak mendukung, bisa menyebabkan berbagai pengaruh negatif pada perkembangan anak-anak.

Lingkungan adalah tempat anak-anak tumbuh dan berkembang. Jika masyarakat hidup dalam lingkungan sekuler, agama tidak lagi menjadi pedoman hidup untuk mengatur, Islam tidak lagi menjadi standar dalam menilai perbuatan. Akibatnya, pergaulan remaja menjadi bebas nilai. Gaya hidup liberal dan hedonis telah merusak kehidupan generasi. Bahkan, bisa merenggut masa depan mereka, seperti zina, hamil di luar nikah, hingga aborsi.

Sedangkan faktor negara ialah penerapan kurikulum dan sistem pendidikan. Tugas negara adalah menciptakan suasana takwa pada setiap individu. Negara berkewajiban melindungi generasi dari paparan ideologi sekuler kapitalisme yang merusak kepribadian mereka.

Dalam sistem pendidikan Islam merupakan upaya sadar dan terstruktur, serta sistematis untuk menyukseskan misi penciptaan manusia sebagai abdullah dan khalifah Allah di muka bumi, itulah tujuan pendidikan Islam. Asasnya adalah akidah Islam yang mampu kemudian mencetak generasi menjadi berkepribadian yang cerdas dan mulia.

Pendidikan berbasis sistem Islam memadukan tiga peran utama yang berpengaruh pada proses perkembangan generasi. Pertama, peran keluarga. Dalam hal ini, orang tua adalah peran utama serta sebagai sekolah pertama bagi pendidikan anak-anak dalam mencetak generasi yang unggul.

Setiap keluarga yang menginginkan anak-anaknya cerdas dan bertakwa wajib menjadikan akidah Islam sebagai standar dalam mendidik dan membentuk kepribadian anaknya. Setiap anak harus dibekali dengan keimanan dan kecintaan yang tinggi kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan bekal iman inilah akan terbentuk ketakwaan dalam diri mereka yang dapat mencegahnya dari melakukan maksiat.

Kedua, peran masyarakat. Dalam sistem Islam, perilaku masyarakat akan selalu kondusif. Jika masyarakat bertakwa, amar makruf nahi mungkar akan berjalan secara efektif. Dengan lingkungan masyarakat yang senantiasa mengajak pada ketaatan, suasana tersebut akan berdampak positif pada anak-anak. Tabiat dasar anak adalah meniru dan mencontoh yang mereka lihat di lingkungan masyarakat. Jika masyarakatnya baik, individu pun akan ikut baik.

Ketiga, negara. Tugas negara adalah menyelenggarakan pendidikan secara komprehensif. Negara wajib menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai, mulai dari kurikulum berbasis akidah Islam, sarana dan prasarana, pembiayaan pendidikan, tenaga pengajar profesional, hingga sistem gaji guru yang menyejahterakan.

Negara juga melakukan kontrol sosial untuk melakukan pengawasan atas penyelenggaraan sistem Islam kafah. Negara menegakkan sanksi bagi para pelanggar syariat, seperti pelaku tawuran, pezina, atau pelaku maksiat lainnya.

Pada masa Khilafah Islam, telah banyak lahir generasi cemerlang yang unggul. Tidak hanya unggul dalam ilmu-ilmu dunia, mereka pun sukses menjadi ulama yang faqih terhadap ilmu agama. Keseimbangan ilmu ini terjadi karena menjadikan Islam sebagai asas dan sistem yang mengatur dunia pendidikan.

Dalam lintas sejarah Islam, pendidikan Islam mengalami kejayaan dan kegemilangan yang diakui dunia internasional. Lembaga pendidikan tumbuh subur, majelis-majelis ilmu di adakan di setiap masjid tanpa diskriminasi terlaksana dengan baik yang membahas berbagai ilmu pengetahuan pun bertaburan.

Hanya dengan sistem Islamlah yang mampu mengembalikan kehormatan generasi menjadi generasi yang unggul dan gemilang dengan kepribadian islam.

Wallahualam bishawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update