Pegiat Literasi
Bulan kedua tahun Masehi kali ini begitu istimewa karena bertepatan dengan Rajab. Salah satu bulan yang disucikan dalam Islam. Rajab juga merupakan pengingat bagi kita bahwa pada bulan ini telah terjadi peristiwa besar yang telah mengubah kegemilangan menjadi kegelapan. Kesejahteraan menjadi kenestapaan. Peristiwa itu adalah runtuhnya khilafah pada 28 Rajab 1342 H, institusi yang telah menaungi umat Islam di dunia selama 14 abad. Tidak adanya khilafah inilah yang menjadikan umat Islam yang dimuliakan menjadi terpuruk, tertindas dan terhina. Termasuk di dalamnya wanita-wanita muslim.
Islam menjaga wanita pada tempat yang mulia. Seluruh hak dan kewajiban yang Allah turunkan melalui syariat yang mengatur wanita, menunjukkan betapa terhormatnya kedudukan kaum hawa. Kewajiban menutup aurat dan memakai jilbab merupakan salah satu bentuk penjagaan Allah sekaligus menjadi bukti ketaatan seorang muslimah.
Islam pun menjaga kehormatan wanita dengan mengatur sistem pergaulannya. Pelarangan ikhtilat atau bercampur-baur serta khalwat atau berduaan dengan selain mahram adalah jalan menutup pintu zina.
Namun, lihatlah bagaimana kondisi muslimah kita saat ini. Di saat negara tidak mampu menerapkan syariat Islam dengan sempurna maka tidak ada pelindung yang mampu menjaga mereka dari kezaliman.
Berbagai tindak kekerasan fisik dan verbal sering dialami oleh wanita. Pemerkosaan, women trafficking, hingga eksploitasi tenaga kerja wanita berbalut peningkatan ekonomi dan kesetaraan gender merupakan bentuk kezaliman yang terjadi setelah runtuhnya institusi khilafah. Bahkan di Palestina, Yaman, Uighur, Rohingnya, India dan Kasmir, wanita harus dihadapkan pada ketidakadilan rezim penguasa.
Runtuhnya khilafah juga menyebabkan berbagai pemikiran kufur menyerang muslimah secara bertubi-tubi. Sekularisme-liberalisme menumbuhkan cabang-cabang pemikiran yang menyalahi hukum syarak. Perspektif feminisme dalam mencapai kesetaraan gender mulai mewarnai cara pandang muslimah negeri ini. Adanya konsep pernikahan childfeee atau memutuskan menikah tanpa memiliki anak juga menjadi pilihan yang harus dihormati. Pergaulan bebas, melegalkan aborsi dan lain sebagainya.
Begitu pula di bulan Pebruari yang jamak disebut hari kasih sayang, tak sedikit remaja muslimah ikut merayakannya bersama lawan jenisnya. Mirisnya, perayaan ini banyak berujung pada seks bebas. Mereka lupa akan kewajibannya sebagai seorang muslimah yang harus menjaga kehormatan dirinya. Hanya karena rayuan dan hadiah-hadiah kecil, mereka rela menyerahkan kehormatan atas nama cinta.
Mau jadi apa generasi kita nantinya, jika para wanitanya tidak memiliki pemikiran yang kuat akan agamanya. Generasi gemilang lahir dari rahim ibu berpemikiran ideologis, di mana poros hidupnya berdasarkan akidah Islam. Negara pun berperan penting dalam proses pendidikan ini. Saat negara menjamin kesejahteraan rakyatnya, maka seorang ibu tidak akan memiliki pilihan yang sulit antara membantu perekonomian keluarga atau merawat anak. Prioritas akan penanaman akidah pada masa tumbuhnya menjadi suatu keniscayaan. Negara juga bertanggung jawab menciptakan sistem pendidikan yang tepat berdasarkan hukum syarak.
Rajab ini menjadi momen yang tepat bagi muslimah untuk mengingat kembali bagaimana dulu generasi emas lahir dari rahim wanita hebat yang hidup di masa kekhalifahan. Sudah saatnya kaum muslim bangkit dan menjemput kembali tegaknya khilafah. Institusi yang mampu menerapkan Islam secara menyeluruh dalam kepemimpinan seorang khalifah. Niscaya tidak ada lagi kehormatan wanita muslim yang terenggut seperti saat ini. Wallahualam bissawab.