Oleh: Nur Laily (Aktivis Muslimah)
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas tak henti-hentinya membuat kaum muslimin meradang. Yaqut mengungkapkan perlunya rekontekstualisasi fikih Islam yang dianggap telah berhenti atau berakhir semenjak Abad Pertengahan silam. Salah satunya adalah soal ide khilafah yang dinilai hanya menjadi bencana bagi umat Islam.
Gagasan itu Yaqut sampaikan pada Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) Ke-20 yang digelar di Surakarta, Jawa Tengah pada 25 hingga 29 Oktober 2021 dengan tema “Islam In A Changing Global Contex: Rethinking Fiqh Reactualization and Public Policy”.
Setidaknya ada 14 konteks pentingnya tema ini menjadi pembahasan di gelaran AICIS 2021. Poin yang ke 9, yakni Setiap usaha untuk mendirikan negara Islam-al-imamah al-udzma universal atau Imamah Agung, juga dikenal sebagai al-khilafah atau Khilafah, hanya akan menimbulkan bencana bagi umat Islam, karena akan ada banyak pihak yang berebut untuk menguasai umat Islam di seluruh dunia.
Menanggapi rekonstektualisasi fiqih ini, Mentri Agama Yaqut seharusnya perlu membuka dan menelaah buku sirah nabawiyah kembali. Yaqut harus belajar banyak tentang jejak perjalanan hidup Rasulullah SAW. Termasuk membaca dan belajar sejarah saat Rasulullah SAW wafat. Dalam sejarah disebutkan bahwa Para Sahabat sampai menunda pemakaman jenazah Rasulullah dan mendahulukan membai'at Abu Bakar RA sebagai Khalifah. Ini menunjukkan bahwa Khilafah atau Kepemimpinan Islam itu bersifat wajib dan harus segera di tegakkan.
“Barangsiapa yang mati dan dilehernya tidak ada bai’at maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” (HR. Muslim No. 1851)
Khilafah adalah Kepemimpinan umum bagi umat Islam di seluruh dunia untuk menerapkan Syariat Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru alam, yang bersumber dari hukum Allah yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Penerapannya pun bukan hanya teori tapi bukti sejarah kegemilangan khilafah nyata di depan mata.
Tinta emas peradaban khilafah pernah mencatat kemajuan ilmu pengetahuan hingga kesejahteraan masyarakat. Rekam jejak peradaban Islam pun diakui oleh sejarawan non-muslim. Will Durant mengatakan, “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka”
Sejarah pun membuktikan bahwa pada satu masa yang panjang, kaum Muslim di seluruh dunia pernah bersatu. Bermula dari Kepemimpinan Rasulullah, pada abad 622 M di Madinah dan berakhir pada Kekhilafaan Utsmaniyyah pada tahun 1924 M di Turki.
Lantas, kenapa kini Khilafah dituding akan menimbulkan bencana bagi Umat Islam? Kenapa sekelas mentri agama tak mampu memahami esensi peradaban Islam yang agung? Kenapa begitu alergi dengan kata Khilafah? Lagi, lagi dan lagi, Islam terus dijadikan sebagai pihak tertuduh dan biang keladi atas munculnya permasalahan umat. Alih-alih khilafah yang menimbulkan bencana, justru penerapan sistem kapitalisme lah yang merupakan akar dari segala bencana umat.
Paradigma kapitalisme sekulerisme membuat hukum di negeri ini berada di tangan manusia dengan segala kepentingan dan hawa nafsunya. Hingga kita dapati hukum negeri ini merupakan ajang bisnis semata. Korupsi merajalela. Gaji fantastis para petinggi negeri berbanding terbalik dengan ekonomi rakyat yang minus. Masalah kriminalitas pun tinggi. Jaminan kesejahteraan hanyalah mimpi di siang bolong.
Rekonstektualisasi fiqih pada hakikatnya adalah senjata untuk menyerang Islam. Agenda ini merupakan salah satu upaya untuk mencela dan mengada-adakan sesuatu yang tidak ada dalam Islam. Mereka berusaha menanamkan racun-racun pemikiran sekuler kepada pikiran kaum Muslim. Hingga orang-orang Muslim teracuni dan mengacak-acak Islam dengan dalih menyuarakan Islam, tapi nyatanya justru mereka menghancurkan Islam dari dalam tubuh umat.
Agenda rekontekstualisasi fiqih menginginkan terlepasnya keterikatan umat terhadap Syariat Islam dan menjadikan ajaran Islam sebatas nilai-nilai moral saja. Sehingga menganggap Islam hanya sebatas Ritual saja, namun mandul dalam urusan politik maupun negara. Padahal Islam itu sempurna, Islam mengatur urusan umat hingga perpolitikan maupun urusan negara. Seharusnya Umat Islam sadar bahwa gagasan rekontekstualisasi fiqih adalah salah satu senjata untuk memecah belah umat. Termasuk memonsterisasi ide khilafah.
Rekontekstualisasi Fiqih sangat berbahaya bagi kehidupan umat muslim. Salah satu Contoh wacananya adalah menetapkan haji di bulan haram. Kita tahu bulan haram dalam Islam itu ada 4, yaitu bulan Dzulhijjah, bulan Muharam, bulan Dzulkaidah dan bulan Rajab. Berarti dengan adanya wacana rekonstektualisasi fiqih ini, kaum Muslim bisa haji kapanpun. Padahal setiap tahun, ritual Haji dilaksanakan dalam periode lima hari, mulai dari tanggal 8 dan berakhir di 12 Zulhijjah, bulan kedua belas sekaligus terakhir kalender Islam. Selama lima hari tersebut, 9 Zulhijjah dikenal sebagai Hari Arafah, dan hari ini dikenal dengan nama hari Haji.
Dampak dari rekonstektualisasi fiqih, Umat Islam semakin dijauhkan dari Syariat Islam, dengan dalih tidak sesuai zaman. Islam disesuaikan dengan kondisi umat, bukan umat yang harus menyesuaikan Islam. Sehingga mereka berani mengotak-atik Islam sesuai kehendak nya. Padahal Syariat Islam adalah jaminan kemuliaan dan kebaikan bagi Makhluk.
Sampai kapan kita terus dicengkeram oleh kapitalisme sekuler yang tidak bisa mensejahterakan rakyat dan berusaha menjauhkan umat Islam dari Agamanya. Saatnya umat muslim bangkit dan bersatu. Keberadaan Khilafah atau imamah yang dianggap bencana justru bertentangan dengan ajaran Rasulullah Muhammad SAW, bahwa sejatinya Khilafah atau imamah adalah solusi atas segala permasalahan umat dan penerapan hukum-hukum Allah SWT.
Rasulullah pernah sebagai kepala negara yang mengatur urusan rakyatnya, selama 10 tahun di Madinah. Setelah beliau wafat, maka diteruskan oleh para Khulafaur Rasyidin. Rasulullah pernah mengatakan, ikutilah Sunnahku dan para Khulafaur Rasyidin. Khilafah yang pernah di warisi, terbukti mampu menerangi dunia.
Sayangnya, para pembenci Islam berusaha untuk menghapus dan menguburkan sejarah Khilafah di negeri ini. Mereka membuat narasi kebencian terhadap Khilafah, untuk menjauhkan umat dari ajaran Rasulullah. Jika kita mengaku cinta kepada Allah maka ikutilah Rasulullah. Ibnu Katsir mengatakan setiap orang yang mengaku mencinta Nabi, tetapi tidak mengikuti jalan Muhammad maka sesungguhnya ia telah berdusta atas perbuatan tersebut. Bagaimana mungkin kita mengaku cinta Nabi, tapi memusuhi ajaran Nabi, yaitu Sistem Pemerintahan Islam atau Khilafah. Dipastikan cintanya palsu.
Wallahu'alam bi shawab.
No comments:
Post a Comment