Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Rekening Jumbo Dilacak Demi Pajak?

Sunday, November 14, 2021 | Sunday, November 14, 2021 WIB


Oleh: Ummu Alfath (Aktivis Muslimah)


Baru baru ini publik sempat di hebohkan dengan ditemukannya rekening gendut milik gembong narkoba sebesar Rp 120 T. Kepala Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) Dian Erdiana Rae menyebutkan setidaknya ada sekitar 1.399 individu dan korporasi yang terlibat dalam aliran dana sebesar Rp 120 T sebagai aliran transaksi mencurigakan yang datang dari tindak pidana narkoba. Hal ini disampaikannya pada kanal youtube PPATK pada Rabu (6/10/2021)


Lebih jauh lagi Dian juga menjabarkan bahwa aliran dana rekening jumbo ini tidak cuma melibatkan sindikat luar negeri saja. Disinyalir Ada juga sindikat narkoba luar negeri yang terlibat. Tentu saja hal ini mendorong Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Bridjen Pol Krisno H. sirear untuk segera bertindak. (republika.co.id, 7/10/2021).


Setelah ditelusuri lebih lanjut, angka rekening narkoba 120 T terhitung dari periode 2016-2020. Tentu hal ini sangat mencengangkan! Jumlah rekening narkoba yang fantastis mencerminkan ketidakseriusan negeri ini dalam menangani kasus narkoba, serta menunjukkan betapa lemahnya perlindungan negara dalam melakukan tindakan pencegahan dan pemberantasan narkoba. Menjadi hal yang Wajar, jika semakin hari, anak-anak, remaja bahkan orang tua terjerumus untuk mengonsumsi dan mengedarkan barang haram tersebut.


Praktik jual beli narkoba pun tidak hanya berhenti pada bandar-bandar lokal saja, namun melibatkan pemain-pemain kelas kakap, para mafia besar internasional. Keberadaan jaringan sindikat ini tentunya tidak mungkin tidak terendus oleh aparat negara. Lantas kenapa aparat negara tak mampu menangkap sindikat narkoba level kelas kakap tersebut? Jawabannya sudah tentu jaringan sindikat ini dinaungi oleh raksasa sindikat narkoba dunia yang memiliki kekuatan besar hingga mampu menekan aparat untuk tunduk di bawahnya.


Sistem kapitalisme liberalisme mengajarkan secara fasih bahwa pemegang kekuasaan tertinggi adalah para pemodal besar. Hingga segalanya mampu dibeli dan dikuasai. Termasuk masalah kebal hukum. Adapun penangkapan kasus narkoba, nyatanya hanya menyentuh bandar-bandar kecil dan pengguna. Sanksi yang diberikan pun tergolong ringan, hingga tak jarang pengedar dan pengguna narkoba kembali berulah setelah dibui. Bahkan tak bisa dipungkiri, penyuapan aparat negara masih menjadi cara terampuh agar lolos dari jeratan hukum.


Permasalahan terkait narkoba bak benang kusut yang berkelindan satu dengan yang lain tanpa menemui solusi. Jika persoalan ini terus berlarut-larut, maka bencana besar tengah melanda generasi kita. Bahkan kalau boleh dikata, mencicip narkoba sudah sangat mudah, apalagi jika ditambah menjual dan mengedarkannya, sudah pasti akan mendatangkan untung. Lantas apa jadinya nasib bangsa ini ke depannya? Generasi yang kita harap mampu memimpin umat justru dirusak oleh barang haram tersebut.


Kegagalan pemberantasan narkoba di negeri ini tak lepas dari paradigma sistem kapitalisme yang dianutnya. Pemerintah hanya terkesan basa basi menangani pemberantasan narkoba. Faktanya narkoba adalah sebuah bisnis yang sarat akan gelimang harta. Sudah menjadi rahasia umum adanya uang keamanan untuk tutup mulut atas bisnis haram tersebut. Banyaknya penyuapan-penyuapan pada aparatur agar lolos dari jerat hukum masih menjadi pemandangan lumrah.


Sistem Kapitalisme Sekularisme sukses membuang agama dalam mengatur kehidupan, maka tidak heran jika hawa nafsu yang bermain dalam hukum negeri ini. Jumlah pengguna narkoba pun semakin hari mengalami peningkatan yang kian pesat. Bahkan tak jarang seragam biru putih pun terperosok mencicipi barang haram tersebut. Anak SMA tak segan menjajahkan narkoba. Hingga praktik narkoba itu berimbas pada menggendutnya rekening narkoba para mafia.


Dengan terkuaknya rekening gendut narkoba ini, Jangan sampai hanya dijadikan  sebagai alat penarikan pajak saja. Sangat disayangkan jika motif dari pemeriksaan rekening gendut hanya sebatas pajak. Sungguh, nasib bangsa dipertaruhkan ketika negara gagal dalam memberantas narkoba hingga akarnya.


Dalam Islam, masalah narkoba dianalogikan dengan masalah khamr, karena sifat zatnya yang memabukkan. Sehingga, jika ditemukan keburukan sebesar biji zarrah sekalipun akan langsung diberantas habis sampai keakar-akarnya. Sehingga tidak akan memakan korban dalam perkara penyalahgunaan narkoba. Paradigma sistem islam menyandarkan bahwa kehidupan haruslah tunduk pada Rabbul alamin, Allah SWT. Tidak ada jalan perolehan harta dari bisnis haram, baik uang jasa keamanan, penyuapan, dll.


Pemerintah dalam sistem Islam (Khilafah) akan bersungguh-sungguh untuk menjaga agar tidak ada seorang pun warga Negara yang terjerumus dalam kemaksiatan. Khilafah sebagai perisai akan senantiasa menjaga umat dengan memberikan kesadaran pada individu akan senantiasa terikat dengan hukum syara'. Masyarakat juga akan diikutsertakan agar menjadi pengontrol adanya kebaikan dan perbaikan sesama warga negara. Khilafah akan benar-benar memastikan agar setiap warga negara hidup terikat dengan syariat Islam.

Wallahu A’lam bish showab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update