Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Muslim Uighur Butuh Bukti Ukhuwah Muslim Indonesia

Saturday, November 13, 2021 | Saturday, November 13, 2021 WIB

Oleh: Pilar Bela Persada (Mahasiswi, Komunitas Annisaa Ganesha)

Indonesia telah memilih bersifat pengecut dengan absennya dalam barisan negara yang mengecam tindakan China kepada muslim Uighur. Pada Kamis, 21 Oktober 2021, saat pelaksanaan sidang Komite III Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-76 di New York, salah satu Join Statement (JS) disampaikan oleh Duta Besar Prancis untuk PBB Nicolas De Riviere mewakili 43 negara atas keprihatinan terhadap kebijakan Cina dalam isu Xinjiang.

Benar saja, pembelaan hambar lalu diberikan oleh Juru Bicara (Jubir) Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Teuku Faizasyah melalui pesan singkat kepada Liputan6.com, Minggu (24/10/2021). Menurutnya, meskipun Indonesia tidak ikut serta dalam JS tersebut, Indonesia tetap menyuarakan agar berbagai pandangan atau concern terhadap suatu isu HAM bisa tetap tersampaikan. Yaitu, salah satunya lewat mekanisme seperti Universal Periodic Review atau pelaporan instrumen-instrumen HAM. [1]

Mengapa? Penjelasan sejauh ini hanyalah karena ekonomi

Ikatan ekonomi menjelaskan sikap tersebut. Cina adalah mitra dagang dan investor penting bagi Indonesia. Pun hubungan keduanya semakin menguat dengan adanya implementasi proyek mega infrastruktur Belt and Road Initiative (BRI) di Indonesia. [2]

Seperti apa keterlibatan faktor lain?

Disamping faktor ekonomi, Cina juga telah mampu menyelaraskan permusuhannya terhadap populasi muslimnya dengan antipati negeri-negeri muslim terhadap bentuk-bentuk gerakan Islam politik tertentu, yang nantinya dapat menantang legitimasi dan kedudukan regional mereka.

Selain itu, Beijing pun bahkan mengontrol narasi Islam yang masuk dan keluar dari Cina melalui Asosiasi Islam Cina, badan resmi pemerintah yang bertugas mengawasi wacana dan aktivitas Islam. Organisasi ini juga mengawasi upaya penjangkauan agama di luar negaranya.

Asosiasi tersebut berfokus pada “memuja keunikan Islam Tiongkok dan kepatuhannya terhadap ideologi partai, sambil mendesak kehati-hatian terhadap pengaruh asing. Yaitu dengan mendirikan dan mengoordinasikan program pertukaran Islam untuk menginstruksikan muslim Cina dalam narasi “Islam moderat”. Keterlibatan faktor terpimpin jenis ini menawarkan cara bagi Cina untuk menangkis kritik internasional terhadap tindakan keras kepada internal muslimnya. [3]

Wajib membela dengan pembelaan sesuai syariat

Diamnya indonesia dalam pemberian dukungan terhadap muslim Uighur merupakan pengkhianatan. Langkah yang sesuai syariat seharusnya adalah dengan mengakhiri ikatan ekonomi dan politiknya dengan Cina. Karena dalam sistem politik Islam, haram hukumnya bekerja sama dengan negara kafir harbi fi’lan, yaitu negara yang terang-terangan memusuhi umat muslim.  [4]

Berikutnya dengan mengirimkan pasukan militer untuk membebaskan muslim Uighur dari kekejaman rezim Cina. Namun hal tersebut hanya mampu diwujudkan jika indonesia berdiri sebagai institusi politik Islam yang mandiri, berdaulat dan independen, bukan sebagai negara penganut demokrasi. Sehingga, perjuangan mengimplementasikan Islam sepenuhnya, termasuk dengan menegakkan institusi politik Islam, adalah wujud dari usaha untuk membebaskan kaum muslim yang terjajah.

وَاِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَوْلٰىكُمْ ۗنِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ

Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. (QS. Al-Anfal Ayat 40)

Wallahu a’lam.

Referensi:

[1]        Liputan6.com, “Kemlu Jelaskan Indonesia Tak Ada di Daftar 43 Negara Kecam China Terkait Uighur,” liputan6.com, Oct. 24, 2021. https://www.liputan6.com/news/read/4692282/kemlu-jelaskan-indonesia-tak-ada-di-daftar-43-negara-kecam-china-terkait-uighur (accessed Oct. 31, 2021).

[2]        M. Z. Rakhmat, “Tiga pendekatan baru untuk pertajam analisis hubungan Cina dan Indonesia,” The Conversation. http://theconversation.com/tiga-pendekatan-baru-untuk-pertajam-analisis-hubungan-cina-dan-indonesia-143181 (accessed Oct. 31, 2021).

[3]        “Analysis | Why do some Muslim-majority countries support China’s crackdown on Muslims?,” Washington Post. Accessed: Oct. 31, 2021. [Online]. Available: https://www.washingtonpost.com/politics/2021/05/04/why-do-some-muslim-majority-countries-support-chinas-crackdown-muslims/

[4]        M. News, “Uighur Butuh Suara Lantang Muslim Indonesia,” Muslimah News, Oct. 30, 2021. https://www.muslimahnews.com/2021/10/30/uighur-butuh-suara-lantang-muslim-indonesia/ (accessed Oct. 31, 2021).

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update