Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Musibah Banjir dan Berkah Hujan Dalam Perspektif Islam

Saturday, November 20, 2021 | Saturday, November 20, 2021 WIB


Oleh Yani Riyani
Ibu Rumah Tangga & Aktivis Muslimah


Wakil Bupati Bandung Sahrul Gunawan mengingatkan Desa Nanjung, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung agar jangan menganggap enteng sampah dengan membuang sembarangan dan mengimbau terus untuk mengingatkan kewaspadaan di musim hujan ini (Dejurnal.Com).

Dunia saat ini sudah di ambang krisis iklim yang belum pernah terjadi sebelumnya. Suhu global diperkirakan meningkat 1,5°C. Jutaan spesies terancam punah. Bencana alam yang disebabkan manusia seperti kebakaran hutan dan banjir semakin sering terjadi memporak-porandakan kehidupan masyarakat yang terdampak.

Setiap musim penghujan tiba selalu diidentikkan dengan musibah banjir yang sering menimbulkan kerugian material maupun immaterial. Kerugian material seperti rusaknya infrastruktur, terendamnya rumah dan perabotan, kendaraan dan rusaknya jaringan bisnis serta komunikasi. Sementara kerugian immaterial seperti stress sosial berkepanjangan, terhentinya program-program pendidikan serta komunikasi sosial lainnya.

Allah sebagai Dzat Pengatur alam semesta dan Pemberi rizki kepada hamba-Nya sesungguhnya menurunkan hujan dengan ukuran. Al Imam Al Suyuti dalam kitab tafsir Al-Jalalain memberikan tafsiran dengan ukuran yang sesuai dengan kecukupan dan kemaslahatan (penghuni alam semesta). Allah Maha Mengetahui berapa debit air yang diperlukan oleh penduduk bumi baik manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan dan sebanyak kebutuhan itulah Allah curahkan. Jadi hujan adalah benar-benar berkah dan rahmat Allah bagi hamba-Nya dan bukan penyebab banjir yang berkepanjangan.

Akan tetapi bencana banjir yang sering terjadi di berbagai wilayah baik di perkotaan atau perkampungan antara lain karena kesalahan para pejabat dan investor kaum kapitalis sekuler yang hanya mengejar keuntungan secara ekonomi. Mereka melakukan berbagai pembangunan yang mengabaikan lingkungan dan keselamatan masyarakat yang terdampak banjir. 

Banjir adalah genangan atau aliran air di atas daratan yang tidak biasanya tergenang air. Banjir umumnya disebabkan oleh meluapnya air melalui tepian suatu badan air seperti sungai sehingga menggenangi atau mengalir di luar batas-batas biasanya. Luapan air tersebut membahayakan, merusak lahan, pemukiman, dan ladang-ladang pertanian. 

Al-Qur'an juga menceritakan tentang bencana yang menimpa umat-umat terdahulu akibat kesombongan dan keingkaran mereka. Hampir seluruh cerita mengenai bencana yang diceritakan Al-Qur'an, menyangkut azab terhadap umat-umat yang sombong dan ingkar karena melakukan perbuatan buruk yang melampaui batas. Sebagai contoh Al-Qur'an menceritakan banjir besar sepanjang sejarah manusia yang terjadi pada zaman Nabi Nuh as. Banjir tersebut menenggelamkan dan menghapus semua peradaban manusia saat itu.

Jika ditelaah, memang semua pihak harus introspeksi bahwa banjir yang tak terhindarkan itu disebabkan karena kesalahan manusia. Masih banyak dijumpai di tengah masyarakat bagaimana kebiasaan membuang sampah sembarangan. Beralihnya daerah resapan air menjadi rimba beton serta pengelolaan sungai yang masih belum maksimal.

Oleh sebab itu sebagai kaum yang beriman jelas antara sisi agama dan perilaku manusia sangat berkaitan terhadap berbagai bencana yang ada di muka bumi ini. Sudut pandang agama juga berperan penting untuk merehabilitasi korban banjir terutama yang merasa trauma.

Menurut Islam suatu kejadian seperti bencana dikenal dengan konsep Al-Ibtila atau cobaan yang merupakan bagian dari Qadha. Al-Ibtila tercantum dalam Al-Qur'an Surat Al-Anbiya (21) ayat ke 35 yang artinya, "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan".

Sudah saatnya kita menjaga alam kembali, tidak melakukan banyak kerusakan seperti sekarang. Namun, semua itu akan terlaksana dengan baik apabila syariat Islam diterapkan di dalam kehidupan. Selain itu, mendahulukan kepentingan umat yang terdampak bencana ini akan terwujud apabila konsep dalam sistem Islam kafah dijalankan oleh seorang pemimpin negara yakni khalifah.
Wallahu a'lam bishshawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update