Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Anak-anak Durhaka Produk Kapitalisme

Sunday, November 21, 2021 | Sunday, November 21, 2021 WIB



Oleh  Zia Sholihah
 (Muslimah Peduli Umat)

Mayoritas orang tua mengaku sayang dan ingin anaknya tumbuh dengan optimal. 
Orang tua juga merupakan guru pertama yang mengajarkan begitu banyak hal pada anak. Termasuk dari sisi emosional berupa cinta kasih.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan sepanjang 12 tahun, terungkap bahwa anak yang dibesarkan dengan merasakan kasih sayang orangtua memiliki masa depan yang lebih baik.

Dengan demikian, anak akan merasa bahagia dan aman sehingga berimbas positif pada banyak aspek dalam kehidupannya.

“Kasih Ibu, kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.”

Lagu ini benar adanya.
Tentu saja, ayah dan ibu memiliki kasih yang tak ada batasnya. Rasanya, setelah menjadi orang tua, kebahagiaan anak adalah nomor satu. 

Sembilan bulan mengandung seorang anak, tentu saja bukan waktu yang sebentar. Apapun sudah pasti dilakukan demi anak tercinta. Terkadang, prosesnya juga tidak berjalan semulus yang diinginkan. Bahkan, sudah siap jika sampai nyawa yang jadi taruhannya.

Perjalanan panjang masih terus harus dilalui orang tua mendampingi anak-anaknya. Mendampingi anak sampai nanti tumbuh dewasa, hingga mereka mempunyai keluarga sendiri.

Kasih sayang Ibu tidak hanya datang dari belaian. Tetapi juga untaian doa-doa. Itulah mengapa, kasih ibu diibaratkan sepanjang masa.

Ayah, jadi pahlawan yang tidak terlihat. Perannya banyak di belakang layar. Jika yang banyak orang lihat, merawat dan mengasuh anak kebanyakan adalah peran ibu, tentu saja salah.
Kasih sayang ayah terlihat tanpa cela. Jika ibu menyayangi dengan kelembutannya, ayah mewujudkan sayangnya dengan kekuatannya. Tumbuh dengan kasih sayang ayah yang sempurna, akan memberikan dampak yang positif bagi anak-anak.

Lalu, bagaimana jadinya jika seorang anak enggan merawat orang tuanya ketika mereka dewasa?

Baru-baru ini viral berita, anak-anak yang menitipkan ibunya ke panti Jompo dengan alasan sibuk bekerja. 

Seorang ibu bernama Trimah, 65 tahun, warga Magelang, Jawa Tengah, dititipkan ke sebuah panti jompo, Griya Lansia Husnul Khatimah, Malang, Jawa Timur. Dalam wawancara dengan tvOne, Minggu, 31 Oktober 2021, ia mengatakan alasan dia dititipkan ke panti jompo adalah karena anak-anaknya tidak mampu membiayai orang tua. 

“Karena dia masih numpang sama mertua, anak empat, kondisi Covid ini tidak bekerja,” kata Trimah. Trimah menuturkan anaknya baik laki-laki maupun perempuan sekarang menjadi tukang ojek. Meskipun sekarang dititipkan ke panti jompo, dia tetap berharap hati anak-anaknya suatu saat terbuka. 

“Mudah-mudahan kebuka pintu hatinya, masih sayang sama kita, masih nengokin kita, sewaktu-waktu,” kata dia. Trimah menuturkan ia sudah lima hari di sana. Dia menilai orang-orang di sekitar panti baik semuanya. “Krasan (betah),” jawabnya saat ditanya apakah betah atau tidak tinggal di panti jompo tersebut.

Miris? Tentu saja. Anak yang seharusnya dan bahkan memiliki kewajiban berbakti dengan orang tuanya, justru memisahkannya dari kehidupan yang mereka jalani dengan keluarga baru.

Bukan hanya itu, di tempat lain, tepatnya di kota Aceh, ada lansia yang dibuang anaknya. Bahkan sampai meninggal pada akhirnya.

Seorang pria lanjut usia (lansia) akhirnya meninggal di salah satu lokasi dalam wilayah Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh sekitar pukul 15.00 WIB, Jumat (3/4/2020).

Keberadaan pria lansia yang sedang sakit ini diketahui berdasarkan laporan telepon yang diterima oleh Koordinator Tenaga Kesejahteraan Sosial (TKSK) Dinsos Aceh, Misra Yana SPsi MSi menjelang Jumat,  (3/4/2020).

Merespons laporan itu, tim TKSK Aceh berkoordinasi dengan  pihak PMI dan Polsek Meuraxa. Setelah mereka tiba di lokasi memang ditemukan lansia yang diperkirakan berumur 80 tahun dengan postur kurus, lemah, nafas terengah-engah, dan tangan membengkak.

Kisah lain lagi yang tak kalah memilukan, kisah viral hari ini. Seorang ibu diminta anaknya beli barang lalu ditinggal, terus dinanti, sang putri tak datang menjemput lagi.

Postingan akun bernama Cek Rozz Jannah tentang seorang ibu yang dibuang oleh anaknya sendiri viral di Facebook.

Diposting pada Minggu 20 Oktober 2019 . Unggahan itu sudah dibagikan hingga lima ribu kali.

Lalu, bagaimana kedudukan orang tua dalam Islam?

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.” (TQ.S. Luqman: 14)

Istilah birrul walidain adalah istilah yang dipakai Rasulullah saw. (sebagai yang disebutkan oleh sahabat Abdullah bin Mas’ud) ketika seorang bertanya kepada Rasulullah saw tentang amalan apa yang paling disukai oleh Allah Swt. 

Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman Abdullah ibnu Mas’ud r.a :

عَنْ أَبِي عَمْرٍو الشَّيْبَانِيِّ – وَاسْمُهُ سَعْدُ بْنُ إيَاسٍ – قَالَ : حَدَّثَنِي صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ إلَى دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إلَى اللَّهِ ؟ قَالَ : الصَّلاةُ عَلَى وَقْتِهَا . قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : بِرُّ الْوَالِدَيْنِ , قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ , قَالَ : حَدَّثَنِي بِهِنَّ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي

Artinya : Aku bertanya kepada Nabi saw., “apa amalan yang paling disukai oleh Allah Swt ?” Beliau menjawab, “shalat tepat pada waktunya”, Aku bertanya lagi, “kemudian apa ?” Beliau menjawab, “birrul walidain”. Kemudian aku bertanya lagi, “seterusnya apa ?” Beliau menjawab, “jihad fi sabilillah”.

Birrul walidain terdiri dan kata al birrul artinya kebajikan dan al walidain artinya dua orang tua atau orang tua. Maka birrul walidain sangat sarat akan makna untuk berbuat kebajikan kepada kedua orangtua atau berbuat ihsan. Sesuai dengan diperintahkan Allah Swt. di dalam surah Al Ahqaf ayat 15 : 

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ إِحْسَٰنًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُۥ وَفِصَٰلُهُۥ ثَلَٰثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ ۖ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

Artinya : “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri””.(Q.S. Al Ahqaf: 15)

Di antara perintah Allah mengenai birrul walidain terdapat di dalam surah Al Isra’ ayat 23 –24. Manakala diperhatikan firman Allah dalam ayat ini dapat diambil beberapa hal pokok. Pertama, hak dan kedudukan orangtua di dalam Islam memiliki kedudukan yang mulia, langsung berada di bawah hak-hak Allah Swt. Al-Quran berulang kali memerintahkan berperilaku menyenangkan, patuh berbakti kepada orangtua.

Selanjutnya, apabila kedua orangtua sudah berusia lanjut, sikap dan perasaan mereka cepat berubah. Seperti menjadi mudah tersinggung, suka marah dan cepat bersedih hati, karena ketuaan usia mereka. Maka kepada anak-anak mereka diperintahkan agar melihat perubahan perilaku orangtua yang sudah tua renta itu sebagai suatu yang lumrah. Mesti diterima dengan selalu menampakkan rasa kasih sayang yang tulus sebagai buah dari keluhuran budi mukmin yang bertakwa.

Dalam usia lanjut itu, kedua orang tua amat mengharapkan kasih dari anak-anak mereka yang sudah mereka besarkan sedari kecil. Maka anak-anak mereka dituntut patuh dan senantiasa menyayangi kedua orang tua sebagaimana kasih sayang kedua orang tua mereka ketika mereka masih anak-kecil.

Kepada anak-anak dituntut bersikap rendah hati, sopan, dan patuh terhadap orang tua. Dalam usia orang yua yang sudah lanjut, hendaknya anak-anak melayaninya dengan penuh kepatuhan, semata-mata bersyukur kepada Allah Swt karena mendapatkan kesempatan melayani orangtua di usia lanjut.

 Mestinya disadari bahwa perjalanan hidup anak banyak bergantung kepada kedua orangtua, walaupun kedua orangtua telah merawatnya penuh perhatian dengan menanggung berbagai penderitaan.

Maka di dalam mengamalkan ibadah-ibadah di dalam bulan Ramadhan khususnya, dan juga pada setiap saat, janganlah dilalaikan untuk berdoa bagi keselamatan dan kesejahteraan kedua orangtua, agar Allah Swt menurunkan rahmatnya untuk kita semua.

Akan tetapi ini berkebalikan dengan kondisi masyarakat yang ada.

Kisah pilu lansia dibuang di jalan dan atau diserahkan ke panti jompo dengan alasan anak tidak sanggup merawat adalah buah sistem kapitalisme.

Sistem ini bukan hanya memproduksi kemiskinan massal  tapi juga mencontohkan pola lepasnya tanggung jawab negara terhadap kewajiban meriayah rakyat. Sistem buatan manusia yang memisahkan antara hukum  Islam dan kehidupan. Dari sistem ini dihasilkan anak durhaka yg mati fitrah karena tiadanya pemahaman tentang memuliakan orang tua dan akibat kerasnya tekanan hidup 

Sistem Islam menjamin lahirnya insan yang paham tanggung jawab terhadap orang tua dan mencontohkan bagaimana negara menunjukkan tanggung jawabnya terhadap rakyat. 

Wallahu a'lam bishawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update