Nisa Rahmi Fadhilah
Member Akademi Menulis Kreatif
Anak adalah anugerah, anak adalah hal yang sangat dinantikan oleh sepasang suami istri ketika memulai berumah tangga, bahkan sebagian besar mengaggap bahwa anak adalah sumber kebahagiaan terbesar yang akan mewarnai kehidupan rumah tangga kelak. Sejak kehadirannya di dunia pun seorang ibu dan ayah akan diberikan sentuhan yang tulus serta kasih sayang yang hangat berharap hingga tua pun selalu bahagia bersama anaknya.
Namun, apalah daya “Kasih Ibu sepanjang Masa, Kasih Sayang Anak Sepanjang Galah” memanglah benar. Tak semua orang tua bisa mendapatkan kasih sayang abadi dari anak-anaknya. Di Indonesia pun setiap tahunnya selalu dibuat geleng-geleng dengan berita seorang anak yang membuang orang tuanya. Sungguh miris!
Tahun 2019 lalu, dilansir dari tribunnews.com berita viral seorang ibu dibuang anaknya ketika ia diminta putrinya untuk berbelanja di sebuah toko, tak lama kemudian ternyata putrinya meninggalkannya di sana. Jarak rumah dengan tempat perbelanjaan pun sekitar 29 Km. Putrinya meminta ibu tersebut untuk menunggu dan menitipkan baju yang berisi tas, tapi ternyata tak kunjung datang menjemput ibunya.
Kemudian di Tahun 2020, dilansir dari aceh.tribbunnews.com seorang pria lansia meninggal di salah satu lokasi kota Banda aceh, setelah diselidiki lebih dalam oleh petugas yang berwenang, sehari sebelum pria lansia tersebut meninggal ia mengaku dibuang oleh anak-anaknya.
Tahun ini, 2021 masih ada pula yang tega membuang orang tuanya. Menghebohkan dunia maya karena surat pernyataan yang dibuat oleh ketiga anak ibu tersebut menyerahkan sepenuhnya kehidupan ibu (T) hingga akhir hayatnya di bawah yayasan panti jompo. Dilansir dari viva.co.id mereka melakukan hal tersebut karena mereka tak mampu mengurus ibu mereka karena keadaan ekonomi yang mencekik keluarganya sejak pandemi.
Sungguh sangat menyayat hati, ini hanya satu dari sebagian cerita tentang seorang anak yang tega membuang orang tuanya. Beberapa faktor yang dijadikan alasan untuk membuang orang tua, mulai dari ekonomi hingga pribadi orang tua yang dinilai tak memiliki sikap yang baik terhadap anak-anaknya.
Sesungguhnya hal ini terjadi karena sistem yang dianut saat ini adalah sistem sekuler, yang menjadikan kehidupan adalah sebuah kebebasan, baik kebebasan beragama, berpendapat, berkepemilikan, dan kebebasan berperilaku di atas segalanya. Mereka bebas berbuat sekehendak hatinya selama tidak mengganggu orang lain. Inilah yang menjadi biang keladi munculnya pemikiran dan tingkah laku yang menyimpang.
Sistem ini, melahirkan generasi yang justru semakin jauh dari pemahaman Islam. Islam terlanjur dipahami sebatas ritual saja, sehingga tak mampu berpengaruh dalam perilaku keseharian, baik dalam individu, keluarga maupun dalam masyarakat dan negara. Dengan minimnya pemahaman Islam secara menyeluruh, tak sedikit individu muslim yang salah kaprah, mudah menyerah pada keadaan bahkan terjerumus dalam penyimpangan dan kemaksiatan.
Islam telah sangat rinci mengatur peran setiap anggota keluarga hingga adab dalam keluarga, sehingga terwujud keluarga harmonis yang dapat merealisasikan tujuan-tujuan duniawi dan ukhrawi yang mulia. Seorang anak memiliki peran dan tanggung jawab dalam keluarga, terlebih jika telah baligh. Ia memiliki kewajiban untuk berbakti pada kedua orang tuanya. Terlebih setelah dewasa dan orang tua yang sudah renta, maka anak memiliki kewajiban menafkahi, merawat, dan memuliakan kedua orang tuanya.
Islam telah memerintahkan kita untuk berbuat baik terhadap orang tua. Tidak mengucapkan tutur kata yang kasar, sebaliknya ucapkan perkataan yang baik dan menyenangkan hati, bersikap hangat dan terbuka, menjalin komunikasi yang baik dan penuh perhatian. Apabila orang tua dalam keadaan sakit, maka kewajiban kita adalah merawatnya. Allah Swt. berfirman, yang artinya, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS Luqman:14).
Wallahualam bii shawwab.
No comments:
Post a Comment