Mompreneur
Dua minggu terakhir tepatnya pada tanggal 31 Oktober-12 November para pemimpin dunia berkumpul dalam acara COP26 di Skotlandia Inggris. Acara yang diadakan oleh PBB ini membahas hal-hal penting yang berkaitan tentang perubahan iklim.
Sebagaimana laporan Climate Change 2021 yang telah dirilis oleh Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) menunjukkan data bahwa tindakan manusia telah meningkatkan panas dan perubahan yang cepat dilapisan atmosfer, laut, dan daratan. Dampaknya perubahan iklim diperkirakan akan semakin cepat terjadi. Suhu global bisa mencapai lebih dari 1,5 derajat celsius dalam 20 tahun ke depan.
Kepala negara Indonesia Joko Widodo juga hadir dalam acara COP26. Dalam pidatonya, Presiden menyampaikan bahwa Indonesia telah memulai untuk melakukan transisi energi dan bisa mencegah kebakaran hutan. Presiden Jokowi juga mengurai tentang rehabilitasi 600 hektar mangrove pada 2024 mendatang.
Pernyataan Presiden Jokowi dibantah oleh M. Iqbal Danik selaku juru kampanye Hutan Greenpeace. Faktanya pemerintah tidak serius dalam mengimplemetasikan transisi energi. Sampai saat ini sumber listrik Indonesia masih menggunakan tenaga batu bara dan masih akan terus dikembangkan. Sedangkan untuk masalah kebakaran hutan, faktor alam lebih dominan dalam mencegah kebakaran hutan terjadi.
Perubahan iklim dianggap menjadi bom waktu dalam kelestarian makhluk hidup sehingga perlunya pembahasan dalam taraf dunia. Seluruh negara yang bergabung dalam PBB diminta memberikan komitmen agar bisa mengatasi perubahan iklim yang terjadi. Namun realitasnya negara-negara penggagas COP26 inilah penghasil emisi terbesar.
Rezim kapitalis global telah membuat kebijakan-kebijakan yang hanya mementingkan kepentingan sekelompok pemilik modal. Perkembangan revolusi industri memaksa penggunaan sumberdaya alam tak terbarukan secara tidak terkendali atas nama pembangunan ekonomi dan capaian peradaban manusia.
Tindakan eksploitatif ini membutuhkan waktu 250 juta tahun bagi bumi untuk memulihkan diri. Inilah realitas kerusakan (fasad) yang sudah diperingatkan dalam Al-Qur’an sejak dini. Telah tampak kerusakan di bumi dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia (Q.S. Rum:41).
Regulasi dan kebijakan yang dirancang pada pertemuan COP26 belum bisa memberikan solusi tuntas. Manusia harus kembali kepada fitahnya menjadi seorang khalifatullah fil ard yang dapat menjaga dan merawat bumi. Hal ini bisa terjadi jika didukung dengan tegaknya Daulah Islamiyah yang mempunyai aturan sempurna dalam menjaga kelestarian bumi.
Wallahu a'lam bishshawab

No comments:
Post a Comment