Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Utang Solusi Terbaik?

Thursday, August 12, 2021 | Thursday, August 12, 2021 WIB



Oleh Azizah Huurun'iin,
(Siswi SMAIT Al-Amri)

Indonesia mengalami krisis ekonomi, hingga saat ini sudah mencapai angka merah. Bahkan Indonesia bisa ditetapkan sebagai negara yang tidak mampu bayar oleh Bank Dunia sehingga kemungkinan terburuk untuk negeri ini yang harus diterima, terjualnya aset penting negara, yang selama ini adalah penopang ekonomi.

Kementerian Keuangan mencatat posisi utang pemerintah sampai akhir Juni 2021 sebesar Rp6.554,56 triliun. Angka tersebut 41,35 persen dari rasio utang pemerintah terhadap PDB. Adapun komposisi utang tersebut terdiri dari pinjaman sebesar Rp842,76 triliun (12,86 persen) dan SBN sebesar Rp5.711,79 triliun (87,14 persen)

"Kenapa kita harus menambah utang? seolah-olah menambah utang menjadi tujuan padahal dia adalah merupakan instrumen untuk menyelamatkan warga negara dan perekonomian kita," ucap Sri Mulyani kepada sindonews.com (25/7/2021) saat di tanya pendapatnya mengenai utang Indonesia yang terus menumpuk.

Menurut hemat beliau, suatu kewajaran Indonesia menambah hutang ditengah pandemi yang tak kunjung nampak tanda merahnya. Fasilitas kesehatan serta bantuan untuk rakyat membutuhkan biaya yang amat besar. APBN tidak cukup lagi untuk menghidupi negara. Hutang Indonesia bertahap dengan jumlah fantastis selama ini pun belum sanggup untuk dibayar. 

Sudahlah pandemi yang sedang membayangi fokus negara, ekonomi pun turut merosot akhirnya. 

Juga terdapat kabar buruk dari pasar ekonomi global, rupiah Indonesia mengalami kemerosotan, drastis. Memang tidak menempati urutan terakhir tapi cukup untuk mencekik rakyat Indonesia akibat kenaikan harga pasar global yang berefek pada harga nasional pula.

Ditambah utang Indonesia yang turut membebankan seluruh negeri. Sri Mulyani mengatakan, utang itu juga untuk negara, akibat kemerosotan ekonomi karena Indonesia sekarang sedang dalam kondisi darurat jadi mengambil utang sebagai jalan tengah, jelas tak mengapa.

"Hal ini adalah beban APBN yang luar biasa. Kami di Kementerian Keuangan merespons dengan whatever it takes, apapun kami lakukan untuk menyelamatkan warga negara dan ekonomi Indonesia, dan itu implikasinya pada defisit APBN," katanya.

Namun apakah benar utang adalah solusi? Padahal Indonesia masih belum mampu membayar utang yang bahkan sudah melejit sebelum pandemi apalagi ditambah utan selama masa pandemi.

Penanganan covid-19 yang plin-plan karena strategi yang kurang tepat. Hal ini akibat kepemimpinan pemerintah yang masih lesu dalam memberikan perintah bahkan sistem PPKM yang dijalankan sekarang terkesan hanya berubah nama.  Penambahan utang bukan solusi, jika dalam masalah negara ini hanya terfokuskan ekonomi maka akan terjadi ketimpangan pada penanganan pandemi.

Utang pun hanya akan menambah beban negara, dan justru akan mendorong negara condong ke arah perbaikan ekonomi. Pemerintah baru merasakan susahnya sistem ekonomi sekarang karena pandemi. Saat akses keuntungan kecil. Padahal sistem ekonomi yang sejak dulu digunakan pemerintah untuk mengatur pengeluaran negara sudah salah sejak awal. Pandemi ini bagaikan pemantik api didekat gas bocor. Bum. Meledak. Hal ini pun memancing perhatian rakyat setelah sekian lama mereka diperbudak dengan ekonomi kapitalis.

Hal ini sesungguhnya kesalahan fatal, Indonesia sejak awal merdeka mengambil keputusan menggunakan sistem ekonomi kapitalis yang sudah jelas merugikan. Memang pada awalnya sistem tersebut terlihat menguntungkan. Namun pada akhirnya seperti yang kita lihat sekarang perekonomian diambang batas, amat rapuh. Sekali disentil akan langsung jatuh. Apalagi ketambahan tanggung jawab atas kebutuhan rakyat ditengah pandemi, yang tidak bisa bekerja akibat PPKM dijalankan.

Mirisnya, pemerintah menganggap berutang adalah solusi yang benar. Padahal negeri Muslim terbanyak di dunia ini tidak harus mencoreng namanya dengan menggunakan cara yang tidak halal, yakni berutang plus riba. Sedangkan sebagai Muslim atau seorang pemimpin yang membina umat dengan syariat, harusnya lebih dari tahu, Allah jelas-jelas melarang riba. 

Apabila pemerintah mau memperbaiki, sepertinya kemungkinan untuk mempertahankan ekonomi ditengah pandemi bisa berjalan lancar tanpa hambatan atau beban bunga dari utang menumpuk.
Sejarah telah mencatat bahwa ada sistem yang mampu menata perekonomian tanpa utang. Sistem Islam yang pernah di terapkan berabad silam terbukti mampu membawa negara menjadi negara yang mandiri tanpa utang luar negeri.

Hal ini terjadi karena semua sumber daya yang ada dikelola berdasarkan aturan Islam, sehingga hasilnya bisa dinikmati oleh seluruh rakyat. Sehingga kemakmuran rakyatnya terjamin. Begitu juga ketika teejadi pandemi, pemimpin negara akan sigap mengatasi. Dengan dana dari kas yang tersimpan di baitul maal pandemi bisa segera teratasi. Sebagaimana Nlyang terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab yang menangani wabah di Awamas, semua bisa ditangani tanpa utang apalagi melibatkan riba.
Apakah kita tidak rindu dengan kondisi seperti itu? 

Wallahu a'lam bishawwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update