Oleh Nita Nur Elipah
(Ibu Rumah Tangga)
Dilansir dari liputan6 (2/7/2021) bahwasanya Kementerian Agama (Kemenag) lagi-lagi membuat heboh publik, terutama umat Islam, dengan berencana meniadakan ️salat Idul Adha 1442 H di masjid maupun di lapangan ️terbuka. Salat Idul Adha ini dapat menimbulkan kerumunan pada zona yang diberlakukan PPKM darurat. Selain melarang salat Idul Adha, Kemenag juga melarang aktivitas takbiran menyambut Idul Adha 1442 H . Larangan tersebut bukan berlaku pada aktivitas ibadah umat Islam saja, melainkan seluruh ️aktivitas ibadah di zona PPKM darurat.
Kebijakan yang diambil pemerintah ini disinyalir karena penyebaran Covid-19 semakin tidak terkendali dan semakin mengerikan dengan munculnya banyak varian baru, seperti varian Delta. Dalam beberapa waktu terakhir, penambahan kasus terkonfirmasi Covid-19 telah melebihi angka 27 ribu sementara jumlah kematian harian juga terbilang sangat tinggi, hingga pernah tembus 555 orang sehari.
Kondisi ini membuat kolapsnya layanan kesehatan di berbagai rumah sakit daerah. Penyebabnya karena kurang tersedianya ruangan untuk pasien Covid-19, sementara harga obat dan alat kesehatan semakin melambung. Bahkan oksigen pun selain mahal, kini sudah langka keberadaanya di pasaran.
Situasi yang semakin tidak terkendali ini disinyalir akibat mobilitas masyarakat setelah bulan Ramadan dan Idul Fitri. ️Diperparah dengan semakin rendahnya tingkat kepatuhan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan. Kondisi inilah yang mendorong ️pemerintah mengeluarkan kebijakan PPKM darurat di sejumlah kabupaten/kota, seperti Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, dan Bali.
Menurut pemerintah, peraturan PPKM darurat ini ️pengawasannya lebih ketat dibandingkan dengan penerapan PPKM dan disertai penegakan hukum yang melibatkan peran petugas kepolisian. Pemerintah sendiri berharap cara ini akan efektif ️mengendalikan penyebaran virus.
Namun mengapa banyak masyarakat yang keberatan bahkan pesimis, bahwa aturan ini bisa efektif mengendalikan situasi?
Berkurangnya kepercayaan masyarakat merupakan dampak dari tidak konsistennya ️pemerintah dalam menangani pandemi. Berbagai kebijakan yang dibuat bertabrakan satu sama lain. Seperti pada kebijakan pelarangan mudik, ️pemerintah membuka bandara international dan membiarkan ratusan TKA masuk ke negeri ini. ️Pelarangan membuka tempat-tempat ibadah dengan meniadakan salat Idul Adha yang terdapat syiar Islam di dalamnya, namun ironisnya di waktu yang sama justru membuka tempat-tempat wisata.
Dengan adanya peniadaan salat Idul Adha, tentu membuat kaum muslimin bersedih. Karena selain merupakan ️ibadah, Idul Adha juga menjadi momen syiar Islam.
Inilah akibat kesalahan kebijakan penanganan pandemi. Aturan ️pembatasan ibadah tidak seiring dengan kebijakan pelonggaran pada sektor lain. Seperti inilah gambaran ️penerapan sistem kapitalis sekuler ️dalam membuat kebijakan. Kebijakan yang diterapkan meniscayakan keberpihakan kepada para pemilik modal, memisahkan aturan agama dari kehidupan, dan berpeluang mengorbankan nyawa rakyatnya.
Kondisi demikian jauh berbeda dengan pengaturan kehidupan negara berbasis Islam saat menghadapi wabah. Seorang pemimpin dalam Islam wajib menjadi pengurus dan penjaga umat. Seperti sabda Rasulullah saw. "Imam (️khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. al-Bukhari)
Seorang pemimpin pun dipandang seperti penggembala. Layaknya penggembala dia akan memelihara dan melindungi seluruh rakyat yang menjadi ️gembalaannya, memperhatikan kebutuhannya, dan menjaga dari semua hal yang membahayakannya, termasuk wabah Covid-19.
Dengan demikian, saat negara dilanda wabah penyakit, negara akan mampu mengatasinya dengan kebijakan yang tepat dan komprehensif. Negara memiliki konsep jitu mengatasi krisis pangan akibat wabah. Tentu harus sejalan dengan konsep penanggulangan wabah menurut syariat Islam, yakni memutus penularannya melalui kebijakan penguncian total atau lockdown syar’i. Sesuai sabda Rasulullah saw. “Apabila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan ️apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu, maka janganlah ️ke luar darinya." (HR. Muslim)
Konsep lockdown yang dilakukan tidaklah berorientasi ekonomi, melainkan fokus pada aspek kesehatan dan penyelamatan jiwa rakyatnya. Selama lockdown berjalan, seluruh kebutuhan pokok rakyat termasuk pangan wajib dipenuhi negara, baik rakyat mampu maupun miskin, hingga lockdown berakhir. Kesuksesan penanganan wabah sangat ditopang kemampuan negara menjamin pemenuhan pangan seluruh rakyat yang dikunci.
Selama lockdown, negara akan meminimalisasi beragam aktivitas yang memicu kerumunan warga, sekaligus membatasi mobilitas hanya untuk pihak-pihak tertentu sesuai keperluan darurat. Bahkan, jika pengurusan dan pemenuhan kebutuhan rakyat mengharuskan door to door, penguasa juga akan menempuh langkah tersebut.
Negara pun akan menutup pintu-pintu kemungkinan masuknya lalu lintas WNA ke dalam negeri. Negara akan menyediakan tempat isolasi dan penanganan khusus tenaga kerja yang datang dari luar negeri. Juga akan menutup sementara jalur migrasi warga, lebih-lebih yang bertujuan untuk berwisata.
Contoh pelayanan yang nyata terhadap rakyat dilakukan saat masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Menurut imam Al-Wakidi, saat terjadi wabah tho'un yang melanda seluruh negeri Syam, wabah ini telah memakan korban 25 ribu jiwa lebih. Khalifah Umar kemudian mengalokasikan anggaran dari baitul mal untuk mengatasi wabah penyakit lepra di Syam.
Lalu kita lihat lagi di masa khalifah Umayyah, pelayanan kesehatan meningkat pesat. Salah satu rumah sakit terkemuka bernama Rumah Sakit An-Nuri dibangun pada tahun 706 M. Khalifah Al-Walid bin Abdul Al-Malik juga mendirikan tempat perawatan khusus untuk penderita lepra, agar tidak menular.
Dari paparan di atas, kita dapat simpulkan bahwa lockdown akan mudah diterapkan sebagai bagian dari pelaksanaan syariat, tanpa khawatir penolakan, tanpa halangan egoisme kelokalan, dan tanpa khawatir kekurangan banyak hal.
Rakyat akan taat pada setiap kebijakan negara dan merasa tenteram, karena semua kebutuhannya ️dijamin oleh negara. Sementara tenaga medis akan bekerja dengan tenang, karena didukung segala fasilitas ️kebutuhannya dan insentif yang sepadan dengan pengorbanan yang diberikan.
Inilah ️gambaran negara yang serius menangani wabah. Betapa Islam sangat menghargai nyawa manusia. Selayaknyalah syiar-syiar Islam terus menggema, hingga umat merindukan hadirnya kembali tatanan kehidupan yang akan menyelamatkan mereka. Dengannya, umat dipastikan akan kembali meraih kemuliaan.
Wallahu a'lam bishshawab.

No comments:
Post a Comment