Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Miris Konflik di Tengah Pandemi Kian Marak

Saturday, August 07, 2021 | Saturday, August 07, 2021 WIB
Oleh Nining Sarimanah
(Member Akademi Menulis Kreatif dan Ibu Rumah Tangga)

Tidak dipungkiri satu setengah tahun pandemi Corona masih setia menemani kehidupan kita hingga saat ini. seakan-akan sang virus betah hidup berdampingan dengan kita, waktu yang tidak sebentar memang, sudah pasti dampak yang ditimbulkan sangat dirasakan oleh semua kalangan. Akibatnya berdampak ke semua lini kehidupan  tidak hanya di sistem kesehatan dan ekonomi yang kolaps, psikososial masyarakat pun turut terimbas.

Beberapa peristiwa membuat miris dan prihatin kenapa konflik horizontal terus terjadi di saat wabah belum ada penanganan serius. Salah satunya
peristiwa yang terjadi di Desa Jatisari tim pemakaman jenazah pasien Covid-19 BPBD jember menjadi korban penganiyaan dari warga, di mana warga mengambil paksa jenazah untuk dimandikan padahal petugas sudah memberitahu bahwa pasien meninggal karena Covid-19
(Kompas.com, 24/7/2021).

Penganiayaan terhadap para nakes bukanlah pertama kali terjadi, kejadian tersebut akan berulang jika tidak ada solusi yang pasti.
Para nakes saat pandemi berada di garda terdepan berjibaku menangani pasien dengan peluang resiko tertular sangat besar. Jika para nakes banyak yang berguguran ditambah sikap kasar yang tunjukan masyarakat lalu siapa yang akan merawat, mengobati para pasien yang terpapar?

Minimnya informasi Covid-19 yang di peroleh masyarakat dan kurang optimalnya pemerintah mengedukasi masyarakat tentang bahaya Covid-19 dengan berbagai varian baru yang lebih cepat penyebarannya dan lebih mematikan. Hal ini ditambah sikap masyarakat yang berlebihan menyikapi orang yang terpapar Covid-19, seringkali terjadi pengusiran dan tindak kekerasan terhadap penderita Corona.

Beberapa waktu lalu viral video penganiayaan seorang pria oleh warga. Pria tersebut ditahan dengan kayu dan bambu kemudian diseret di jalan lalu diikat dan terlihat ada seorang warga yang memukulkan kayu ke arah pria tersebut, yang diketahui bernama Salamat. Setelah diusut ternyata peristiwa tersebut dipicu si pasien mencoba menularkan virus ke warga, peristiwa itu terjadi di Desa Sianipar Bulu Silape, kecamatan Silaen, Tobasa, Sumatera Utara, (detiknews, 26/7/2021)

Dua peristiwa di atas hanya sebagian kecil kasus kekerasan yang kian marak terjadi di tengah wabah Covid-19 makin menggila. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi sosial di tengah-tengah masyarakat ada yang tidak beres, salah satu tandanya masyarakat bersikap egois, mudah tersulut emosi, muncul pula suasana saling curiga, ketakutan yang berlebihan sampai terjadi pengusiran, penganiayaan bahkan pembiaran terhadap seseorang yang mendadak jatuh tersungkur sampai akhirnya meninggal tanpa diketahui penyebabnya. Warga hanya bisa menyaksikan padahal seharusnya ada tindakan penyelamatan sebelum terjadi kejadian yang tidak diinginkan, sampai akhirnya menunggu ambulans datang.

Tidak dipungkiri sikap masyarakat yang masih cuek, abai pada prokes dan pelanggaran aturan yang diterapkan pemerintah dalam menekan penyebaran virus Covid-19 turut menyumbang situasi yang terjadi saat ini. Bahkan yang paling besar kontribusinya adalah sikap dan kebijakan pemerintah yang tidak jelas semakin memperburuk situasi saat ini. Dengan kondisi seperti ini jelas wabah Covid-19 makin masif penyebarannya dan tidak terkendali.

Masyarakat seharusnya semakin sadar keadaan yang mereka alami hingga hari ini akibat penerapan sistem yang salah yaitu sistem sekuler-kapitalisme.
Sistem ini sistem buatan manusia yang menolak hukum Allah sebagai aturan yang mengatur kehidupan manusia.

Dalam sistem ini pemimpin bertindak sebagai regulator bukan sebagai pengurus, pengayom masyarakat. Akibatnya banyak kebijakan yang ditetapkan pemerintah jauh dari merakyat, tidak berempati pada kondisi rakyat yang semakin sulit memperoleh perbaikan ekonomi. Berbeda perlakuannya terhadap para pemilik modal, mereka diistimewakan dengan kebijakan yang menguntungkan.

Sudah nyata kerusakan dan kebahayaan solusi yang ditawarkan oleh sistem sekuler kapitalisme. Satu-satunya solusi yang belum pernah dilirik oleh umat adalah Islam. Sistem yang berasal dari sang pencipta manusia yaitu Allah Swt. Islam agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, solusinya menjadi obat terhadap berbagai kerusakan yang terjadi.

Islam menetapkan bahwa penguasa adalah pengurus, dan penjaga bagi rakyatnya.
Rasulullah saw. bersabda:

الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR Bukhari)

Beliau saw. pun bersabda:

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll.)

Atas dasar ini penguasa akan memastikan rakyatnya terpenuhi segala kebutuhan pokoknya individu per individu, menjaga dan melindunginya dari mara bahaya. Sebab penguasa dalam Islam memahami betul jabatan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Alloh Swt.

Dalam sejarah Islam, umat Islam pernah mengalami wabah yang lebih mematikan yaitu wabah tha'un, wabah ini cepat teratasi dengan paradigma kepemimpinan yang benar. Hingga akhirnya msyarakat kembali hidup normal.

Oleh karena itu, harapan terbesar umat hari ini adalah sistem Islam. karena kepemimpinan Islam tegak di atas akidah yang shahih dan lurus. sementara solusi yang terpancar dari akidah Islam sebagai pemecah terhadap persoalan yang dihadapi manusia. sehingga mengundang keberkahan dan kesejahteraan.

wallahu a'lam bishshawwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update