Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Rakyat Menuntut Perubahan, Kemanakah Arah Perubahan Seharusnya?

Saturday, August 07, 2021 | Saturday, August 07, 2021 WIB

Penulis: Aisha Besima ( Aktivis Muslimah Banua)

Setelah maraknya konflik horizontal yang terjadi diantara anggota masyarakat akibat minimnya edukasi dari pemerintah, kini gerakan tuntutan vertikal oleh rakyat kepada pemerintah mulai merebak keberbagai negeri. Misalnya saja yang terjadi di negeri Jiran Malaysia, ratusan pengunjuk rasa melakukan demo di ibukota Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu (31/2) mendesak Perdana Menteri Muhyiddin Yassin untuk mengundurkan diri. 

Mengutip Straits Times, Perdana Menteri negeri jiran tersebut dinilai gagal dalam menekan penambahan kasus Covid 19. Perdana Menteri Muhyiddin Yassin diketahui mengalami ketidaksepahaman dengan Raja Malaysia, Sultan Abdullah terkait dengan penarikan rem darurat yang dilakukan sepihak tanpa berkoordinasi dengan sang raja. Hal ini juga membuat rakyat Malaysia semakin murka, dan meminta Muhyiddin Yassin untuk mengundurkan diri.(cnbcindonesia.com, Sabtu 31/7/2021). Ditambah ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah dalam penanganan Pandemi.
Sebelumnya juga ada aksi yang terjadi di Kuba, demo terbesar dalam 3 dekade di Kuba telah pecah, ketika ribuan orang turun ke jalan di sejumlah kota, menyuarakan penderitaan rakyat, kekurangan pangan, harga kebutuhan pokok yang mahal, dan pemerintah yang komunis. Protes telah dimulai pada Senin (12/7/2021) pagi waktu setempat di kota San Antonio de los Banos di barat Kuba, dan di kota Palma Soriano di timur. Jumlah pengunjuk rasa di kedua tempat itu bisa mencapai ratusan orang. Melansir The Guardian pada Senin (12/7/2021), berita demo segera menyebar ke seluruh negeri hingga ibu kota Havana mengundang solidaritas. Ribuan orang di pusat Havana menerikkan "tanah air dan kehidupan" serta "kemerdekaan".(kompas.com, Senin 12/7/2021).

Dibelahan bumi lain, misalnya di Afrika Selatan Protes berujung kekerasan akibat pemenjaraan mantan Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma pecah pada Selasa 13 Juli 2021. Massa bentrok dengan polisi dan menggeledah atau membakar pusat perbelanjaan. Mengutip Gulf News, Rabu (14/7/2021), puluhan orang dilaporkan tewas ketika protes berubah menjadi kekerasan terburuk dalam beberapa tahun di Afrika Selatan.(liputan6.com, Rabu 14/7/2021). 

Demikian pula aksi protes selama berbulan-bulan yang terjadi di Iran hal ini terjadi akibat ketidakpuasan yang meningkat terkait tata kelola (pemerintahan) yang salah urus, kekeringan, ekonomi yang lumpuh, angka pengangguran yang tinggi dan tingkat inflasi yang mencapai lebih dari 50 persen, demikian pula dinegeri ini penanganan Pandemi covid-19 yang amburadul yang tertuang dalam kebijakan pemerintah telah menuai protes keras dimedia sosial, tuntutan terhadap penguasa yang terjadi diluar negeri hampir sama dengan tuntutan rakyat dinegeri ini. 
Demonstrasi besar-besaran yang terjadi dibeberapa negara ini bisa dimaknai ada gelombang perubahan yang diinginkan masyarakat terhadap dunia ini. Semua dipicu dari buruknya periayah (kepengurusan) pemerintah kepada rakyatnya, hingga masyarakat menilai bahwa pemerintahlah yang bertanggung jawab dibalik kesengsaraan hidup mereka. Tuntutan perubahan terus melu cur seiring dengan kian banyaknya fakta kezaliman rezim demokrasi kapitalis yang dirasakan umat di negeri ini. Keadilan dan kesejahteraan menjadi barang langka dalam sistem sekarang. Sementara, penderitaan dan kesengsaraan merupakan perkara lumrah. Wajar saja jika kemudian umat semakin kecewa dan jengah pada kebijakan-kebijakan yang diambil, juga kehilangan kepercayaan pada kepemimpinan yang sedang berlangsung.

Namun masyarakat hanya melihat persoalan itu hanya pada krisis kepemimpinan, sehingga solusi yang ditawarkan berhenti pada "Pergantian orang atau Pemimpin". Padahal buruknya kebijakan penguasa sangat berkaitan erat dengan sistem yang dijalankan dan dijadikan pondasi dalam mengeluarkan kebijakan. Sisten ini adalah sistem kapitalis global yang memiliki minset bahwa "manusia untuk ekonomi" bukan "ekonomi untuk manusia". Minset inilah yang akhirnya akan melahirkan kebijakan-kebijakan yang ditujukan untuk menyelamatkan ekonomi negara atau dunia, bukan menyelamatkan nyawa manusia (penduduk bumi).
Kesalahan berbagai momentum perubahan adalah selalu berkutat pada target pergantian orang, sementara yang menjadi akar persoalannya justru tetap dipertahankan.

Perubahan hakiki yang bisa membalik keadaan tentu tak cukup hanya dengan pergantian orang, harus dengan mencampakkan sistem rusak (kapitalisme) ini dan menggantinya dengan sistem yang benar, yakni sistem yang tegak diatas akidah yang sahih dan darinya lahir aturan yang mampu memecahkan seluruh masalah kehidupan, dengan pemecahan yang benar dan mendasar. 
Karena itu, perubahan hakiki itu tidak cukup dengan niat baik tanpa dibarengi dengan aksi dengan pengerahan tenaga. Perubahan nyata hanya dapat terjadi setelah mengakui masalah dan kesalahan, mengidentifikasi cacat, dan mengembangkan rencana strategis; selain mengubah pikiran, cara berpikir, dan metode untuk menemukan solusi praktis, dengan kejelasan visi dan misi yang dijadikan panduan semua pelaku perubahan.
Maka arah perubahan yang hakiki ialah menuju sistem atau kepemimpinan Islam, oleh karenanya menghadirkan sistem Islam harus menjadi visi perubahan yang diperjuangkan umat. Dan untuk itu dibutuhkan upaya serius dan terarah agar terwujud kesadaran umat akan realitas Islam  sebagai sebuah idiologi. Islam tidak hanya dipahami ritual, tetapi sebagai solusi seluruh problematika kehidupan. Islam tak hanya bicara urusan langit, tapi juga mengatur urusan-urusan kehidupan.

Islam memiliki sistem pemerintahan yang disebut Khilafah, sistem khilafah yang pernah mewujud belasan abad lamanya. Saat negara dilanda wabah penyakit, sudah terbayang negara akan mampu mengatasinya dengan kebijakan tepat dan komprehensif yaitu diawali dengan penerapan Lockdown disertai pemenuhan kebutuhan hidup rakyatnya. Rakyat pun akan taat karena paham kepentingan dan merasa tenteram karena semua kebutuhannya ada dalam jaminan negara. Sementara tenaga medis akan bekerja dengan tenang karena didukung segala fasilitas yang dibutuhkan dan insentif yang sepadan dengan pengorbanan yang diberikan.

Dengan demikian, amat jauh berbeda antara sistem sekuler yang sekarang diterapkan dengan sistem Khilafah ajaran Islam. Wajar jika hari ini, makin banyak orang yang merindukannya. Walhasil, mendakwahkan perubahan hakiki yakni mewujudkan tegaknya Khilafah sebagai negara adidaya baru yang mengatur peradaban dunia dengan syariat Islam adalah satu-satunya bentuk komitmen serius dari umat untuk mengubah kezaliman menjadi kesejahteraan dan kemuliaan.
 Wallahu alam bishowab.[]

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update