Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Konflik Sosial di Tengah Pandemi

Saturday, August 07, 2021 | Saturday, August 07, 2021 WIB

Oleh  Marsitin Rusdi 
(Praktisi Klinis )

Krisis multidimensi semakin diperparah dengan hadirnya pandemi Covid-19 yang muncul sejak akhir 2019 lalu. Hingga  saat ini sudah berjalan hampir dua tahun. Kondisi ini menimbulkan banyak msalah, banyak konflik horizontal terjadi, antar anggota masyarakat dan antara masyarakat dengan nakes dan internal pelaksana program yang terkait Covid -19 yang melibatkan banyak komponen dalam tim yang sudah dibentuk. 

Mulai dari kebijakan awal pemerintah yang menganggap remeh virus yang berada di Wuhan, kebijakan PSBB, penyelenggaraan jenazah Covid-19, vaksin, PPKM, PPKM Darurat  hingga kebijakan Isoman, semuanya menimbulkan konflik sosial kemasyarakatan. Sehingga konflik horizontal tidak bisa dibendung hampir disemua wilayah di seluruh Indonesia, bahkan di seluruh dunia.

Krisis sosial sudah terjadi sejak awal penanganan dan makin menguat di beberapa pekan ini. Konflik antar anggota masyarakat karena makin beratnya pemenuhan kemaslahatan, atau silang pendapat berujung kekerasan karena  minimnya informasi seputar virus  yang layak dipercaya. Sehingga pemahaman manusia satu dengan yang lain tidak sama. Ada yang percaya ada yang tidak dengan keberadaan virus Corona ini.

L Menteri Perhubungan Budi Karya pernah melontarkan guyonan mengenai virus ini. Ia menyatakan bahwa virus Corona tidak masuk ke Indonesia, karena masyarakat mengkonsumsi nasi kucing sehingga menjadi kebal. Pernyataan ini sendiri disampaikan Budi Karya pada bulan Februari 2020 lalu pada peringatan Hari Pendidikan Tinggi Teknik ke-74 di Graha Sabha Pramana, UGM.

Majelis Ulama Indonesia sendiri juga sempat melontarkan pernyataan yang cukup kontroversial pada saat awal pandemi melanda Indonesia. Pada beberapa pernyataannya, pihak MUI mengimbau kepada seluruh umat Islam yang ada di Indonesia untuk menjalankan ibadah salat lima waktu dengan tertib. Proses wudhu yang dilakukan dikatakan dapat membantu mencegah penyebaran virus, sekaligus dengan pembacaan Qunut ketika melakukan shalat.
 Mantan Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, juga sempat menyampaikan pernyataan yang cukup unik pada media bulan Februari 2020 lalu. Ia menyatakan bahwa Corona tidak masuk ke Indonesia karena doa yang dipanjatkan oleh masyarakat secara menyeluruh. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Kelakar ini disampaikan Airlangga kepada Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD, dan kemudian diunggah melalui akun Twitter pribadi beliau, yakni  "Karena perizinan di Indonesia berbelit-belit maka virus Corona tak bisa masuk" inilah cuwitan seorang pejabat negara.

Beberapa pernyataan para pejabat negara itu merupakan contoh edukasi yang kurang tepat  kepada masyarakat. Awal munculnya pandemi  dianggap sesuatu remeh bahkan hanya ditanggapi dengan guyon. Namun faktanya saat ini pemerintah sendiri yang kebingungan menghentikan lajunya virus Corona yang semakin mengganas, bahkan muncul varian baru yang lebih cepat penularannya. 


Masyarakat yang sudah jenuh mulai melakukan tindakan anarkis, seperti yang terjadi pada warga masyarakat Desa Jatian, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, melakukan penganiayaan terhadap   tim pemakaman jenazah pasien Covid-19, tidak adanya edukasi yang serius terhadap rakyat, dan kurang bekalnya pengetahuan psikologi masyarakat bagi tim Covid-19 itu sendiri, walau akhirnya bisa berdamai dengan minta maaf. (Kompas, 24/7/2021

Kondisi yang tidak jauh berbeda terjadi pada  warga Desa Panji Kidul, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo menghancurkan peti jenazah pasien Covid-19 viral di media sosial. (Rabu, 21/juli/2021), ini juga salah satu gambaran kekecewaan masyarakat terhadap penanganan kasus Covid-19 yang berkepanjangan.

Nasib nahas  juga dialami Salamat Sianipar (45), warga Desa Sianipar Bulu Silape, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba, Sumatera Utara. Pasalnya, gara-gara positif Covid-19 dan ingin melakukan isolasi mandiri di rumah justru diamuk oleh warga sekitar. Peristiwa memilukan itu terjadi pada Kamis (kompas, 22/7/2021).

Karut-marut yang terjadi akibat sistem yang diadopsi negeri ini. Sistem kapitalis yang berasaskan manfaat, menyebabkan smeua kebijakan Nyang diambil selalu diukur dari untung-rugi. Banyak kebijakan Kurang pro rakyat yang akhirnya jadi pemantik perilaku anarkis, selama masa pandemi. Beban hidup yang semakin berat, membuat psikologi masyarakat terganggu, sehingga emosi mudah meledak.

Penangan pandemi yang terkesan setengah hati karena lebih mementingkan perbaikan ekonomi, membuat kondisi semakin runyam. Wabah semakin tidak terkendali, akhirnya semua sektor nyaris lumpuh. Begitu juga pada pemegang kebijakan Nyang terkesan berjalan sendiri-sendiri, sehingga kebijakan yang diambil sering tidak sinkron antara satu pejabat berwenang dengan pejabat yang lain.

Hal ini berbeda dengan sistem Islam. Pada masa pemerintahan Islam juga pernah terjadi pandemi, seperti masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Namun khalifah pada wkatu itu mengambil langkah tegas untuk menutup wilayah yang terjangkit, sehingga wabah tidak meluas. Wilayah yang aman dari wabah tetap beraktivitas untuk menopang wilayah yang terpapar, sehingga roda perekonomian tetap stabil.

Khalifah menjamin kebutuhan warga yang diisolasi mulai dari makanan, hingga obat-obatan dan suplemen untuk pemulihan. Hal ini tehtu sjaa menghidarkan sikap anarkis dari warga, karena meskipun mereka dibatasi aktivitasnya namun semua Kebutuhannya terjamin. 

Seorang pemimpin dalam Islam memiliki tanggung jawab meriayah atau mengurus rakyatnya. Setiap keputusan yang diambil selalu bersandar pada Al-Qur'an dan sunah, bukan bersandar pada nafsu semata.
Dalam mengambil keputusan untuk menangani wabah Umar bin Khattab
 bermusyawarah dan mendengar masukan dari para sahabat-sahabatnya. Beliau juga mendengarkan pendapat para ahli yang betul-betul memahami tentang pandemi yang terjadi.

Di tengah kondisi pandemi, Umar bin Khattab telah mengambil keputusan  yang berbobot. Tujuannya tidak lain adalah menyelamatkan lebih banyak kaum Muslimin dan manusia secara umum agar tidak dibinasakan oleh wabah penyakit.

Khalifah Umar bin Khattab memberikan contoh terbaik bagaimana seharusnya menghadapi pandemi. Apakah kita tidak rindu dengan sosok pemimpin seperti itu?

Wallahu a'lam bisshawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update