Angka kematian pasien covid19 di Jawa Timur per tanggal 27 Juli sebanyak 18.899 orang. Sekitar 30 persen di antaranya meninggal saat menjalani isolasi mandiri (isoman) di luar rumah sakit. (medcom.id)
Analis data LaporCovid-19 Said Fariz Hibban mengatakan sebanyak 2.313 pasien covid19 di Tanah Air meninggal saat melakukan isolasi mandiri. Dari jumlah tersebut, 1.214 orang berasal dari DKI Jakarta, di mana 403 diantara mereka berdomisili di wilayah Jakarta Timur. Data ini selama kurun waktu Juni hingga 21 Juli. (Kompas.id)
Makin banyaknya pasien covid19 yang meninggal saat isoman pada saat ini di berbagai daerah menunjukkan ada hal sistemik dan mendasar yang harus lekas diperbaiki. Masyarakat yang sedang menjalani isolasi mandiri seharusnya tetap mendapatkan perhatian negara karena kondisi kesehatan mereka dapat memburuk sewaktu-waktu. Negara harus hadir mengelola isolasi mandiri dan tidak seharusnya berlindung di balik peraturan yang dibuat Kementerian Kesehatan bahwa hanya pasien bergejala sedang dan berat yang boleh masuk ke rumah sakit.
Ribuan orang meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri karena kondisi mereka tidak terawasi dengan baik dan tidak mendapatkan pelayanan kesehatan optimal ketika kondisi makin memburuk. Saat ini negara terkesan melempar tanggung jawab penanganan masyarakat yang sedang isolasi mandiri kepada sesama masyarakat juga. Padahal mereka juga warga negara yang harusnya menjadi tanggung jawab negara.
Selain karena fasilitas kesehatan yang membludak tidak dapat lagi menampung pasien, ada beberapa faktor lain yang menyebabkan angka kematian pasien isoman di luar rumah sakit cukup tinggi saat ini. Diantaranya, banyak masyarakat khususnya yang tinggal di wilayah pedesaan minim pengetahuan. Masih banyak yang percaya pada berita bohong atau hoaks terkait pandemi covid19. Penyebab lain pasien meninggal saat isoman adalah keengganan pasien untuk pergi ke fasilitas kesehatan karena takut dinyatakan covid19 atau istilah masyarakat takut 'dicovid-kan'.
Makin rendahnya kepercayaan masyarakat pada pemerintah membuat mereka sulit diedukasi dengan cara seperti apapun pada saat ini. Makin carut-marut lah keadaan pandemi kini. Negara tidak sigap memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Masyarakatnya juga enggan memberikan kepercayaan lagi pada pemerintah yang menjadi representasi negara.
Dalam kondisi seperti ini, cukuplah kita belajar pada sejarah ketika dulu Islam diterapkan sebagai sebuah sistem yang menyeluruh. Islam yang saat itu diterapkan dalam institusi negara menyediakan banyak rumah sakit kelas satu dan dokter di beberapa kota seperti Baghdad, Damaskus, Kairo, Yerusalem, Alexandria, Cordova, Samarkand dan banyak lagi kota lainnya. Kota Baghdad sendiri di zaman itu memiliki enam puluh rumah sakit dengan pasien rawat inap dan pasien rawat jalan dan memiliki lebih dari 1.000 dokter.
Rumah sakit umum seperti Bimaristan al-Mansuri yang didirikan di Kairo pada tahun 1283, mampu mengakomodasi 8.000 pasien. Ada dua petugas untuk setiap pasien yang melakukan segala sesuatu untuk diri pasien agar mendapatkan kenyamanan dan kemudahan. Setiap pasien mendapatkan ruang tidur dan tempat makan sendiri. Para pasien baik rawat inap maupun rawat jalan di beri makanan dan obat-obatan secara cuma-cuma.
Ada juga apotik dan klinik berjalan untuk perawatan medis bagi orang-orang cacat dan mereka yang tinggal di desa-desa ataupun yang belum mampu ke rumah sakit mirip seperti kondisi orang isolasi mandiri saat ini. Khalifah Al-Muqtadir Billah memerintahkan bahwa setiap unit apotik dan klinik berjalan harus mengunjungi setiap desa dan tetap di sana selama beberapa hari sebelum pindah ke desa berikutnya.
Bagi khalifah yang memiliki rasa takut pada Tuhannya yaitu Allah, hal tersebut bukan hanya tentang bagaimana menyediakan pelayanan medis. Melainkan juga untuk memenuhi kebutuhan warga yang dirinya dipercayakan untuk bertanggung jawab atas mereka. Dan kelak semuanya akan dimintai pertanggungjawaban di pengadilan akhirat. Wallahu a'lam Bi as-Showab

No comments:
Post a Comment