Pandemi Covid-19 telah menelanjangi ketidakberdayaan negara dalam mengurusi umat. Kebijakan yang dibuat pemerintah justru membuat rakyat terpuruk. Alih-alih kebijakan tersebut menuntaskan wabah, kebijakan demi kebijakan justru membuat rakyat semakin menderita. Dilansir dari CNN, 5/7/2021, PPKM kembali diberlakukan mulai tanggal 3 Juli karena kembali melonjaknya kasus positif covid19 dan meningkatnya angka kematian harian karena covid19. Kebijakan ini dibuat bertujuan untuk meminimalisir mobilitas masyarakat dan mengurangi angka penyebaran covid19.
Masyarakat mengeluhkan kebijakan tersebut karena tak ada kebijkan lanjutan yang menjamin terpenuhinya kebutuhan hidup mereka selama masa PPKM. Banyak pula terjadi bentrok antar aparat dan warga yang masih memaksa untuk berdagang ditengah masa PPKM. Hal ini makin menciptakan drama dan membuat banyak pihak lelah dengan banyaknya kebijakan yang sering berubah ubah dan tak konsisten.
Di sisi lain, para pejabat pemangku kebijakan yang harusnya bertanggung jawab atas nasib rakyatnya, malah semakin sibuk bersenang senang di tengah pandemi. Para menteri masih melakukan perjalanan luar negeri di luar dari upaya penanganan covid19. Padahal dalam situasi seperti ini, peran dan kehadiran para menteri dalam negri sangat dibutuhkan untuk berkoordinasi dengan kementrian dan lembaga lainnya. Direktur Eksekutif INDEF mengatakan bahwa perilaku para menteri ini belum menunjukkan adanya sense of crisis.
Tak mau ketinggalan, perjalanan keluar negri juga dilakukan anak Menko Airlangga Hartono hanya untuk berbulan madu. Menanggapi hal itu, Ketua Departemen Politik DPP PKS, Nabil Ahmad Fauzi, menyinggung bahwa tak ada rasa kepekaan dan empati para pejabat terkait rakyat yang kesusahan ditengah pandemi. (suara.com 16/7)
Tak sampai disitu. Salah satu cuitan Menteri Koordinasi Politik, Mahfud MD yang membahas tentang sinetron Ikantan Cinta juga menjadi sorotan. Cuitan tersebut dianggap semakin mengesankan ketidakpedulian pemerintah pada masyarakat yang masih mengalami kesulitan di masa pandemic. “sulit membayangkan, di situasi seperti ini masih ada waktu bagi pak Mahfud menikmati tayangan sinetron dan mengulasnya dalam” ujar pengamat politik Ray Rangkuti (suara.com 16/7)
Beragam fakta dan realita tersebut membuat rakyat merasa dikhianati oleh para pemangku kebijakan. Rakyat harus bersusah payah memenuhi kebutuhan hidup sambil tetap harus mematuhi PPKM, mencari oksigen yang makin langkah, juga makin kesusahan mencari rumah sakit yang penuh dimana mana. Sedang para pejabat sibuk mencari kesenangan dan menyelamatkan diri mereka serta keluarganya.
Beginilah system demokrasi sekuler melahirkan mentalitas penguasa pengkhianat rakyat, egois, zalim dan ingkar janji. Model kepemimpinan dalam system sekuler demokrasi menghasilkan penguasa yang hanya sibuk berebut kekuasaan, lantas mencari keuntungan bagi mereka dan kelompoknya tanpa memikirkan tanggung jawab mereka pada rakyat. Ini pula akibat jika umat diurus menggunakan system buatan manusia yang serba terbatas dan mencampakkan aturan Allah dalam kehidupan. Abdul Kareem Newell menyebutkan bahwa kelemahan mendasar dari system demokrasi sekuler adalah tidak adanya ketakutan dari pemimpin kepada Tuhannya atau pertanggung jawaban di akhirat nanti.
Berbanding terbalik ketika umat manusia berada pada kepemimpinan yang begitu luar biasa dalam naungan islam, yang Berjaya selama 1400 tahun lamanya dan menjadi mercusuar dunia. Kepemimpinan yang sudah terbukti mampu menjamin kesejahteraan, keamanan, dan ketentraman rakyatnya, yang berorientasi tak hanya pada dunia namun juga akhirat. Dalam Islam, pemimpin memiliki dua fungsi utama, yaitu Raa’in (pengurus) dan junnah (pelindung) bagi umat. Makna Raa’in ini digambarkan begitu jelas oleh Umar bin Khattab ketika terjadi paceklik besar pada masa kepemimpinannya. Beliau memerintahkan seluruh warga di luar madinah untuk mengungsi ke madinah dan menjamin seluruh kebutuhan mereka sampai paceklik usai. Saat itu, khalifah Umar bersumpah tak akan makan daging dan susu sampai paceklik berakhir dan semua kebutuhan rakyatnya terpenuhi, sampai digambarkan saat itu muka Khalifah Umar berubah kehitaman karena hanya memakan minyak zaitun saja. Sedang makna junnah bagi umat, dicontohkan dengan sangat baik oleh khalifah Al Mu’tashim yang memenuhi jeritan muslimah dan mengirim ratusan pasukan ketika dinodai oleh tentara Romawi.
Kepemimpinan dalam Islam mendorong para pemimpinnnya untuk terus mengikat perbuatannya dengan hukum syara’, dan melakukan seluruh tuganya dengan kesungguhan untuk memenuhi hak rakyat, serta menciptakan kesadaran bahwa semua perbuatan akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Mentalitas pemimpin seperti ini hanya bisa didapati dalam system khilafah. Inilah system yang dibutuhkan rakyat untuk mengatasi seluruh permasalahan saat ini, sistem yang akan memberi rasa aman dan kepedulian yang sesungguhnya ketika islam benar benar diterapkan ditengah umat.

No comments:
Post a Comment