Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Konflik Sosial di Tengah Pandemi

Wednesday, August 04, 2021 | Wednesday, August 04, 2021 WIB
Penulis : Rahmawati, S.Pd 
(Aktifis Muslimah Kalsel)

Di tengah pandemi berkepanjangan, banyak terjadi pergesekan antar elemen masyarakat. Sehingga konflik ini semakin menambah runyam masalah pandemi yang tidak kunjung usai. Suasana disetiap tempat menjadi angker, karena rasa takut mereka dengan wabah ini, disertai dengan takutnya mereka keluar rumah. Takut dikenakan sangsi pidana jika melanggar segala aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Sehingga pandemi ini sangat berdampak pada aspek psikososial masyarakat.

Seperti diberitakan di Kompas.com-Warga desa Jatian, Kecamatan Pakusari Kabupaten Jember, yang melakukan penganiayaan terhadap tim pemakaman jenazah pasien Covid-19 meminta maaf. Mereka mengakui keslahannya dan meminta maaf untuk berdamai. Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember M Djamil menjelaskan, tim pemakaman dari BPBD dibantu oleh Muspika Pasukan serta pihak kepala desa bertemu dengan para pelaku. “Ada mediasi dan proses komunikasi. Sudah menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa itu,” kata dia kepada Kompas.com di kantornya, Sabtu (24/7/2021). Para pelaku menyadari bahwa penganiayaan itu seharusnya tidak terjadi. Djamil mengatakan, tim pemakaman jenazah yang menjadi korban sudah memaafkan dan memilih untuk berdamai. Sebab, semua orang sedang fokus untuk mencegah Covid-91.

Juga dilasir dari Kompas.com. Nasib naas yang dialami oleh Salamat Sianipar (45), warga Desa Sianipar Bulu Silape, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba, Sumatera Utara. Pasalnya, gara-gara positif Covid-19 dan ingin melakukan isolasi mandiri di rumah justru diamuk oleh warga sekitar. Peristiwa memilukan itu terjadi pada Kamis (22/7/2021). Karena gejala ringan, jadi dianjurkan petugas kesehatan untuk isolasi mandiri di rumah. Namun, aparat desa yang mengetahui informasi itu tidak berkenan jika korban melakukan isolasi mandiri di rumah. Aparat desa bersama warga  kemudian memaksa korban untuk melakukan isolasi mandiri di sebuah gubuk di dalam hutan yang lokasinya jauh dari desa. Setelah beberapa waktu isolasi mandiri di hutan, namun ia pulang karena tidak betah dan depresi, dan akan melanjutkan isolasi mandiri di rumah. Namun warga yang mengetahui hal itu geram, lalu korban dianiaya secara membabi buta seperti binatang.

“Rupanya dia tidak betah dan depresi, makanya kembali ke rumah. Nah, saat itu masyarakat setempat datang dan memaksa tulang saya dan terjadilah aksi yang sangat tidak manusiawi itu,” kata Joshua, kepoankan korban. Dalam hal ini Joshua berharap keadalian, bisa mengusut tuntas kasus tersebut dan pelaku penganiayaan dapat dihukum setimpal. Apalagi dalam penganiayaan itu ada oknum aparat desa yang diduga terlibat.

Tidak bisa dipungkiri kondisi pandemi melahirkan banyak konflik horizontal. Adanya informasi simpang siur membuat situasi semakin tak menentu. Membuat masyarakat mengambil tindakan sendiri sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Salah satunya adalah menuding para nakes mengambil keuntungan di tengah pandemi ini. Sehingga emosi masyarakat menjadi tidak terkendali, meluapkannya pada petugas pemakaman dan petugas kesehatan. Padahal dalam kondisi pandemi sekarang ini, para nakes dan petugas pemakaman adalah sebagai garda terdepan dalam melawan pandemi ini. mirisnya mereka pun menjadi korban kebrutalan massa.

Konflik sosial lahir dari ketidakpercayaan publik pada kebijakan negara (public distruct). Karena sejatinya masyarakat hanya perlu perlindungan dan terjaminnya segala kebutuhan mereka, lebih-lebih di tengah pandemi. Serta segala konflik yang terjadi seharusnya dapat diselesaikan oleh pemerintah. Semua ini terjadi karena pemerintah kurang mengedukasi masyarakat. Juga karena lemahnya penanganan korban, sehingga masyarakat mengambil tindakannya sendiri yang berujung konflik antar sesama mereka.

Abainya masyarakat dengan protokol kesehatan dan menganggap remeh virus ini, menjadikan masalah ini terus berkepanjangan. Namun tidak bisa sepernuhnya menyalahkan masyarakat, karena mereka juga mengahadpi pandemi ini tentu sangat berat. Sehingga tanggungjawab negara kembali dipertanyakan, setelah berbagai macam konflik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Sejak awal pandemi ini muncul tidak ada keseriusan dalam menangani masalah ini.

Inilah konsekuensi diterapkannya sistem kapitalis sekuler yang membuat dimensi ruhiyah dalam segala aspek kehidupan terabaikan. Tidak kemudian dipandang dalam sudut pandang syariat yang jelas-jelas akan memberikan kesejahteraan untuk masyarakat. Pemimpin atau khalifah berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan seluruh rakyatnya dan dituntut untuk membuat kebijakan yang solutif. Pemimpin yang bisa menyelesaikan masalah wabah, bukan membuat kebijakan yang tidak solutif bahkan menyusahkan masyarakat. Semoga kita segera bisa memiliki pemimpin yang adil dan amanah serta siap mengambil Islam. Islam sebagai agama rahmatan lil a'lamiin, tidak hanya menjadi rahmat bagi sebagain orang dan makhluk saja, namun rahmat bagi seluruh alam. Sehingga 
peradaban Islam menjadi mercusuar bagi dunia.

Wallahu a’lam bisshowab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update