PPKM Mikro dan Vaksinasi Efektifkah Berantas Covid?
Oleh : Hafshah Umaiyah (Aktivis Muslimah)
Masih saja tentang si kecil mematikan ini, bagaikan si jago merah yang akan selalu siap menyebar jika ada pemicunya. Berbagai upaya telah dilakukan, tetapi sungguh miris si kecil tak kunjung usai dan meluluh lantahkan dunia.
Di tengah lonjakan kasus covid-19, sebanyak 336 tenaga kesehatan (nakes) di kota Bogor terpapar virus corona covid-19. Bahkan delapan fasilitas kesehatan (faskes) terpaksa ditutup. Pada saat yang sama, keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) di ruangan perawatan dan ICU di seluruh rumah sakit rujukan covid-19 kota Bogor telah mencapai 81,6 persen. Wali kota Bogor Bima Arya pun khawatir bila kasus harian terus meningkat dan semakin banyak nakes dan tenaga pendukung di faskes maupun rumah sakit rujukan covid-19 di kota Bogor, terus bertambah. Penambahan kasus baru positif virus corona membuat tingkat keterisian tempat tidur (BOR) di rumah sakit rujukan covid-19 di kota Bogor meningkat signifikan (Liputan.com 27/juni/2021)
Bagaimana mungkin covid-19 terus melonjak dan membuat rumah sakit yang ada di Bogor hampir lumpuh. Padahal vaksinasi terus dilakukan. Apakah penanganan tersebut tidak efektif? Bukankah saatnya untuk kita mengevaluasi solusi yang sedang berjalan ini.
Wabah covid-19 ini telah terjadi di Indonesia pada awal tahun 2020. Bukannya covid-19 hilang justru alih-alih semakin bertambah. Yang sangat berdampak besar bagi Indonesia yakni salah satunya adalah di kota Bogor.
Jika kita melihat penanganan pemerintah yang melakukan vaksinasi secara besar-besaran seharusnya covid-19 berkurang dan menghilang tapi ini justru semakin membludak. Apakah berarti solusi vaksinasi ini tidak efektif?
Coba kita kembali pada ajaran Islam. Wabah penyakit sebenarnya sudah pernah terjadi bahkan pada zaman Rasulullah SAW. Wabah tersebut salah satunya kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Nabi memerintahkan tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami lepra atau leprosy. “Jangan kamu terus menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta.”(HR Bukhori).
Hadist ini dinilai hasan dan sesuai bakteri penyebab kusta yang ternyata mudah menular antar manusia begitu pun dengan virus corona yang kita hadapi saat ini. Nabi Muhammad SAW juga pernah memperingatkan umatnya jangan berada dekat wilayah yang sedang terkena wabah. “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).
Hadist ini mirip metode karantina atau lockdown yang kini di terapkan untuk mencegah penyebaran penyakit. Tetapi masih banyak yang tidak menerapkan keputusan pemerintah tersebut sehingga covid-19 semakin meningkat tanpa batas.
Disini sudah jelas bahwa dari dulu sudah diterapkan sistem lockdown dan sangat efektif untuk menangani sebuah wabah penyakit.
Menghadapi situasi tersebut, Nabi Muhammad SAW meminta pengikutnya untuk sabar sambil berharap pertolongan dari Allah SWT. Dalam hadist juga disebutkan janji surga dan pahala bagi yang bersabar saat menghadapi wabah penyakit. “Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya). (HR Bukhari).
Wabah penyakit sebenarnya tidak diharapkan muncul yang mengakibatkan kekhawatiran hingga mengacaukan perekonomian bangsa Indonesia bahkan dunia.
Namun selalu ada hikmah dibalik semua ujian dengan adanya wabah penyakit ini. Untuk menghadapi situasi ini, selain pencegahan dari pemikiran manusia ada baiknya kita mengamalkan doa seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW dalam berbagai Hadist. “Ya Allah, aku mencari perlindungan kepadamu dari kusta, kegilaan, kaki gajah, dan penyakit jahat. (HR Abu Daud).
Itulah beberapa upaya dalam Islam untuk mengatasi wabah penyakit. Berarti sudah jelas bahwa solusi dari Islam yang terbaik. Mengapa kita justru terlepas dari syari’at agama yang jelas-jelas adalah pedoman hidup. Tetapi jelas solusi dari syariah Islam ini hanya bisa diterapkan secara menyeluruh di bawah naungan negara Islam yaitu Khilafah Islamiyah ’alaa manhaj an-nubuwwah.
Wallahu’alam Bishowab. [].

No comments:
Post a Comment