(Learning Facilitator, Mahasiswi Sastra Arab Universitas Negeri Malang)
Ditengah melonjaknya angka kematian karena Covid-19, Menteri Agama mengajak masyarakat untuk mengheningkan cipta sebagai wasilah untuk mendoakan tenaga kesehatan, relawan, seluruh masyarakat Indonesia. Berdasarkan Data Satgas Penanganan Covid-19, setidaknya lebih dari 62 ribu masyarakat Indonesia yang telah meninggal karena pandemi Covid-19. Tak berhenti sampai disitu, Menag juga menggelar do’a bersama #PrayFromHome sebagai ikhtiar batin untuk mengakhiri pandemi Covid-19.
Agenda doa bersama dari rumah masing-masing ini dihadiri oleh hampir 10 ribu masyarakat umum, diwarnai pembacaan doa oleh enam tokoh agama Prof. Dr. KH Quraish Shihab (Islam), Pendeta Lipius Biniluk (Protestan), Kardinal Suharyo (Katolik), I Nengah Dana (Hindu), Bhante Pannyavaro (Buddha), Xs. Budi Tanuwibawa (Konghucu) agenda ini disiarkan secara langsung di stasiun TV dan kanal media sosial Kementrian Agama.
Dalam agenda doa bersama ini Yaqut Cholil Qoumas, Menteri Agama menyampaikan bahwa kehadiran bencana sejatinya untuk menyadarkan manusia agar mawas diri dan kembali dekat kepada-Nya. Saya rasa semua sepakat dengan pernyataan Bapak Menag ini, mengingat hari ini kondisi bumi seringkali dirusak oleh manusia secara sadar maupun tidak, dari urusan lingkungan (penumpukan sampah) sampai urusan sosial (L9BT). Padahal jika berbicara soalan kehadiran manusia di bumi, salah satu tugasnya adalah menjaganya. Hal tersebut termaktub dalam QS. Al Baqarah: 30
Agenda doa bersama ini juga menunjukkan betapa lemahnya manusia, dihadirkan makhluk kecil bernama corona saja sudah membuat gempar dunia, membuat collaps ekonomi negara. Rabbi, mohon ampuni kesalahan kami. Belajar dari kasus Covid-19 yang sudah berjalan hampir dua tahun lamanya, setidaknya ada satu poin yang sama-sama perlu kita jadikan pelajaran. Ya, bagaimana kita merefleksikan kembali syahadat kita. Sebagai umat beragama, terutama Islam kita mengikrarkan dua kalimat syahadat untuk bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, dua kalimat penuh makna yang sangat besar konsekuensinya.
Dengan mengucapkan dua kalimat syahadat berarti kita sepakat untuk memosisikan Allah bukan hanya sebagai Tuhan, melainkan juga sebagai satu-satunya sesembahan (illah). Sehingga paket aturan apapun yang Ia serukan kepada hamba-Nya wajib ditaati dan dilaksanakan, termasuk bagaimana mengatasi pandemi yang sedang terjadi. Luar biasanya kedudukan Islam, ia bukan hanya sekedar agama, melainkan juga sistem hidup yang menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta.
Tiga prinsip Islam dalam penanggulangan wabah sehingga segera berakhir tanpa korban lebih banyak lagi. Pertama, penguncian areal wabah sesegera mungkin. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallaam bersabda, yang artinya, “Apabila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apa bila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar darinya.“ (HR Muslim).
Kedua, pengisolasian yang sakit. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda yang artinya, “Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat.” (HR Bukhari). “Hindarilah orang yang berpenyakit kusta seperti engkau menghindari singa.” (HR Abu Hurairah). Ketiga, pengobatan segera hingga sembuh. Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasalam, yang artinya, “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan diadakan-Nya bagi tiap-tiap penyakit obatnya maka berobatlah kamu, tetapi janganlah berobat dengan yang haram.”
Ketiga formula pencegahan pandemi yang dimiliki oleh Islam tidak akan bisa berjalan lancar tanpa ditopang oleh sistem politik yang sejalan. Seperti yang terjadi di Indonesia hari ini, konsep lockdown belum bisa diterapkan. Mengapa? Ya karena untuk lockdown harus menyiapkan dana yang tidak sedikit untuk memenuhi kebutuhan rakyat yang sedang diisolasi, jangankan memenuhi kebutuhan rakyat untuk isolasi, menutup hutang yang sudah dilakukan saja tidak kunjung selesai. Bahkan ditengah-tengah pandemi rakyat kecil justru malah dipajaki. Atau hari ini diterapkan PPKM darurat, tapi TKA Cina diizinkan masuk dengan dalih kerja di sektor vital. Bukankah ini adalah hipokrasi sistem hari ini, ya sistem politik yang yang tolok ukurnya untung-rugi. Sistem yang diwarisi oleh para penjajah yakni sistem kapitalisme.
Sistem kapitalisme bukanlah sistem yang ideal sebagai iklim hidup seorang muslim. Sebab sistem ini memiliki asas pemisahan antara agama dengan kehidupan. Sebuah asas yang sampai kapanpun tidak akan mengizinkan Islam untuk mengatur urusan kehidupan. Sehingga the true syahadah adalah ketika kita bisa menerapkan seluruh aturan-Nya dalam kehidupan. Maka tidak ada jalan lain jika hari ini sistem tersebut belum hadir dalam kehidupan, maka PR kita untuk memperjuangkannya, bukankah kita melangitkan do’a untuk mengiba ampun kepada Allah Ta’ala sebab kita belum menjadikannya sebagai Illah (sesembahan) dalam mengatur urusan kehidupan?

No comments:
Post a Comment