Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Lonjakan Covid-19 : Kebijakan Kapitalis Gagal Atasi Pandemi

Sunday, July 11, 2021 | Sunday, July 11, 2021 WIB Last Updated 2021-07-11T13:09:21Z

leh Inna Indigo Hakim, S.Pd

Lonjakan kasus COVID-19 berdampak permintaan tinggi tabung oksigen bagi pasien Corona. PKS meminta pemerintah memangkas rantai pasokan oksigen agar langsung didapat masyarakat untuk penanganan pasien Corona. Komandan Posko Dukungan Operasi Satgas COVID-19 DI Yogyakarya Pristiawan Buntoro mengonfirmasi sebanyak 63 pasien di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta meninggal dunia dalam sehari semalam pada Sabtu (3/7/2021) hingga Minggu (4/7/2021) pagi akibat menipisnya stok oksigen. Detik.com.

Ketua DPP PKS Kurniasih Mufidayati, dalam keterangannya, Senin (5/7/2021), menyebut pemerintah bisa mendorong swasta produsen dan distributor oksigen terlibat penuh dalam mendukung penyediaan oksigen untuk kebutuhan penanganan pasien COVID-19. Kenaikan harga tabung oksigen, menurut Mufida, juga perlu diawasi pemerintah, termasuk perlengkapannya dan pengisian oksigen yang mulai tidak wajar. Peran TNI dan Polri untuk mengawasi kenaikan harga tabung mau pun pengisian oksigen tak wajar diperlukan saat ini. "Saya mendapatkan informasi kalau harga sudah meningkat tidak wajar, sampai 500%. Harga tabung yang biasa Rp 500 ribu melonjak sampai Rp 2,5 juta," ucapnya.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, memprediksi kondisi Covid-19 di ibu kota negara akan lebih parah dibandingkan sekarang. Pasalnya, ia memprediksi kasus aktif pasien Covid-19 di DKI Jakarta akan menembus 100 ribu orang. (cnbcindonesia.com, 3/7/2021). Jika memang kondisi kritis pandemi tidak mampu dilewati, akan sungguh mengerikan. Masyarakat yang terpapar Covid-19 akan terus berguguran. Bayangkan saja, Indonesia “menambah” 27.913 kasus baru Covid-19 hanya dalam satu hari. Sehingga, total kasus di Indonesia secara keseluruhan menembus 2,256 juta, rekor tertinggi sepanjang pandemi.

Kegagalan Kebijakan Kapitalis
Berkaca dari solusi-solusi yang sebelumnya diterapkan oleh Pemerintah, sulit bagi kita untuk meyakini bahwa Pemerintah mampu mengatasinya. Coba kita pikirkan, sejumlah institusi diminta work from home di beberapa tujuan wisata, lalu pembelajaran tatap muka diminta untuk aktif kembali, dan yang lebih memprihatinkan, petinggi negeri mengajak untuk berwisata. Ditambah lagi, masjid diminta untuk ditutup sementara, tetapi mal tak masalah untuk terus dibuka.
Sungguh, semua kebijakan ala kepemimpinan kapitalistik sangat membingungkan publik. Pakar epidemiologi, Dicky Budiman, memprediksi masa kritis pandemi di Indonesia akan berlangsung hingga September 2021. Saat ini, ia mengatakan bahwa kita menghadapi puncak kasus yang sangat serius pada akhir Juli. “Ini yang harus kita mitigasi, kita cegah dan antisipasi agar ledakan kasus tidak besar,” ujarnya. (nasional.sindoneews.com, 4/7/2021)

Ia juga menilai, kebijakan PPKM Darurat bukan langkah yang ideal dalam mengendalikan virus varian baru Covid-19. Kebijakan tersebut hanya bisa dijadikan alternatif untuk meminimalisir penyebaran virus. Memang, kebijakan yang tidak ideal akan selalu ada selama masih dipimpin oleh sistem yang tidak ideal pula. Penanganan oleh sistem kapitalistik tentu tetap disandarkan pada asas manfaat, untung atau rugi. Perkara mati dianggap wajar di saat virus masih menyebar.

Saat PPKM Darurat dilakukan dengan ketat, Indonesia juga mengalami masalah serius tentang keterisian tempat tidur yang melebihi batas standar organisasi kesehatan dunia (WHO). Ibu kota negara—Jakarta—pun sedang darurat Corona dan tidak baik-baik saja. Makin terseok-seoklah perjalanan pemerintah di bawah kepemimpinan kapitalis. Kritis sulit dilewati dan krisis di berbagai sektor terus terjadi.

Kebijakan Praktis Negara Islam Hadapi Pandemi
Meski begitu, kita tetap berharap agar Allah Swt. segera mengakhiri pandemi ini. Berharap dan berupaya agar pengaturan kehidupan dengan Islam akan segera kembali. Sebab, hanya Islam satu-satunya yang mampu menangani wabah dengan kebijakan yang manusiawi serta menenangkan masyarakatnya.

Jika pemimpin bertakwa dan amanah, ia akan benar-benar sekuat tenaga mencurahkan segala potensi yang ada untuk menyelesaikan wabah. Ia memahami bahwa kepemimpinannya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt.. Sebagai pemimpin, ia tidak akan main-main dengan urusan nyawa rakyatnya. Ia memahami sabda Rasul saw., “Hancurnya dunia lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR An-Nasa’i dan At-Tirmidzi)
Maka, mengutamakan nyawa dibanding ekonomi, pariwisata, atau yang lainnya, harus dilakukan oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin juga harus mengatur mekanisme anggaran yang fleksibel dan cepat untuk penanganan wabah, serta mengatur birokrasi dan administrasi agar tidak berbelit-belit. Birokrasi dan administrasi yang menyulitkan justru makin memperburuk kondisi rakyat di tengah pandemi.

Pemimpin dalam Islam tidak akan menunggu-nunggu dalam memutuskan kebijakan saat wabah terjadi. Maka, ia akan segera mengisolasi wilayah yang terpapar wabah; tegas menutup wilayah tersebut agar proses penularan berantai dapat dihentikan. Saat isolasi dijalankan, negara tidak akan berlepas tangan, yakni dengan menjamin semua kebutuhan dasar masyarakatnya.
Di samping itu, perawatan, pengobatan, dan pelayanan kesehatan diberikan secara cuma-cuma. Obat-obatan atau vitamin untuk memperkuat daya tahan tubuh, dipenuhi oleh negara agar pasien dapat melewati masa kritisnya, hingga persentase kematian dapat diminimalkan. Ketersediaan fasilitas kesehatan juga mendapat perhatian khusus dari negara.

Penjagaan wilayah yang tidak terdampak wabah, benar-benar dilakukan dengan ketat, sehingga dapat menopang daerah lain yang terkena wabah. Tak lupa pula mendorong para ilmuwan untuk segera menemukan obat/vaksin.

Sementara masyarakat, diminta untuk saling membantu dengan dorongan keimanan. Misal menemukan orang seharusnya mengisolasi diri dan butuh bantuan, maka masyarakat di sekitar turut membantunya. Bukan sebaliknya, mengucilkan atau mengusirnya dari wilayah tersebut. Sabda Rasulullah saw., “Tidaklah beriman kepada-Ku orang yang tidur dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan sampai ke lambungnya. Padahal ia (orang yang kenyang—mengetahui.” (HR Bukhari)
Begitu jelas langkah praktis negara dalam Islam dalam menangani pandemi. Tidak harus menunggu sampai masa kritis terjadi. Pandemi akan tertangani dengan tuntas sedari awal dan laju penyebarannya pun mudah untuk dihentikan.
Wallahu'alam bishowab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update