Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ironi Masuknya TKA di Tengah PPKM Darurat

Sunday, July 11, 2021 | Sunday, July 11, 2021 WIB Last Updated 2021-07-11T14:58:03Z

Oleh: Husnia
(Pemerhati Sosial)

"Api kecil baik dipadam,” artinya suatu keburukan hendaknya diatasi semenjak masih kecil/awal, sebab jika terlanjur besar maka sulit mengatasinya. Peribahasa yang tepat untuk menggambarkan persoalan wabah di negeri ini. Kehadiran pandemi Covid-19 yang memporak-porandakan manusia termasuk di negeri tercinta Indonesia, di tambah upaya negara selalu nihil  menghasilkan solusi membuat penyebaran wabah semakin ngeri. Kebijakan baru pun diberlakukan, yakni Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Anehnya, di tengah pemberlakuan kebijakan ini sebanyak 20 Tenaga Kerja Asing (TKA) justru tiba di Bandara Internal Sultan Hasanuddin, kabupaten Maros Sulawesi Selatan, Sabtu (3/7).

Berbagai kalangan pun menyorot persoalan ini, termasuk Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad. Ia meminta pemerintah agar melarang warga negara asing (WNA) masuk ke Indonesia selama penerapan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat pada 3-20 Juli 2021. (http://www.cnnindonesia.com, 4/7/2021)

Kepentingan Materi Korbankan Nyawa Rakyat

Ironi memang, serangan pandemi Covid-19 belum juga teratasi, bahkan varian baru dari wabah ini mulai menjajah negeri pula. Dengan kata lain, saat ini pandemi masih berada dipuncaknya, namun negara justru memberi izin atas masuknya TKA dengan tangan terbuka. Tentu ini mengundang tanya di benak masyarakat, bagaimana mungkin hal semacam ini bisa terjadi, mengingat salah satu keputusan dari PPKM darurat adalah adanya larangan mudik, sholat Idul Adha di masjid dan sebagainya. Akhirnya, lagi-lagi masyarakat harus kembali mengelus dada atas kejadian tersebut.

Ibarat “anak tiri di negeri sendiri,” adalah gambaran yang cocok atas kondisi ini. Pemerintah begitu ketat membuat kebijakan bagi masyarakat, sementara TKA bebas berlalu-lalang keluar masuk negeri ini atas nama proyek strategis demi kepentingan perekonomian negara. Mestinya, pemerintah memahami kondisi pandemi dalam negeri yang membutuhkan solusi dengan segera, seperti memaksimalkan pemberlakuan protokol kesehatan (menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan) agar penanganan wabah dapat berjalan secara efektif. Sayangnya, kebijakan  yang ada tak pernah luput dari kepentingan lain, yakni ekonomi di balik upaya memutus mata rantai pandemi Covid-19. Tak pelak lagi, kesehatan rakyat dinomorduakan yang berdampak pada semakin banyaknya nyawa manusia yang berjatuhan akibat tidak adanya keseriusan pemerintah untuk memberikan upaya terbaik demi menyelamatkan rakyatnya.

Terdapat alasan lain mengapa pemerintah tidak menutup penerbangan Internasional, sebagaimana ungkapan Juru bicara Kementerian Perhubungan, Adita Irawati. alasan pihaknya Ia menyatakan, pihaknya tidak melakukan penutupan penerbangan Internasional karena  keputusan lintas sektoral. Bukan hanya sektor perhubungan, tetapi juga aspek hubungan luar negeri hingga perekonomian yang dilihat. (merdeka.com, 5/7/2021).

Atas dasar ini semakin menunjukkan kepada kita bahwa kebijakan pemerintah tidaklah bersifat mandiri berdasar kepada kepentingan rakyat Indonesia, melainkan kepentingan asing. Investasi terus dilakukan, meski kasus Covid-19 semakin bertambah per harinya.  Sayangnya lagi, dalam kondisi ini pun perekonomian negara tak kinjung mengalami perbaikan, melainkan semakin terpuruk. 

Inilah kondisi negeri dalam penerapan sistem Kapitalisme yang berasaskan kepentingan materi di atas segalanya, termasuk nyawa manusia. Konsekuensi logis dari sistem yang tidak memanusiakan manusia ini adalah nihilnya kebaikan bagi kehidupan manusia. Jadi, ketika negara masih berada di bawah naungan sistem kapitalisme ini, maka selamanya rakyat akan terus dirundung persoalan hidup, dan tak akan ada solusi tuntas dari masalah rakyat tersebut.

Urgensi  Tegaknya Sistem Islam

Jika kapitalisme hanya mengorbankan manusia demi mendapatkan materi, maka berbeda dengan Islam yang memberikan jaminan kehidupan penuh kepada rakyat. Amanah kepemimpinan dalam Islam adalah untuk mengurusi segala urusan rakyat, tanpa terkecuali. Seperti halnya pandemi saat ini, pemimpin Islam akan membuat keputusan yang terbaik, mempertimbangkan setiap kebijakan yang diambilnya dan akan mengorbankan apapun demi keselamatan rakyatnya.

Bagi pemimpin Islam (Khalifah), kepemimpinannya adalah amanah dari Allah SWT yang nantinya akan dipertanggungjawabkan disisi-Nya. Dalam rangka menghadapi pandemi seperti saat ini, seorang pemimpin akan menyelesaikannya dengan lockdown syar’i, yaitu menutup wilayah terjadinya wabah agar tidak ada yang keluar-masuk di wilayah tersebut. Selanjutnya, negara menjamin semua kebutuhan rakyat selama penerapan lockdown tersebut. Berbeda dengan penerapan PPKM darurat yang masih membiarkan masyarakat beraktivitas ditambah dengan bebas masuknya WNA yang bahkan dari negara asal datangnya wabah. Akibatnya, penyebaran wabah semakin tak terbendung.

Memahami hal ini, maka tak ada harapan untuk menuntaskan pandemi dari sistem Kapitalisme. Melainkan hanya Islamlah yang mampu solusi terbaik dari masalah ini yang bersumber dari Al-Qur'an dan as-Sunnah Rasulullah SAW. Untuk itu, sudah saatnya umat ini memperjuangkan tegaknya kembali sistem Islam yang akan mewujudkan kebaikan lahir dan batin bagi manusia. Wallahu a’lam bi shawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update