Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tentang PNS "Ghaib" Yang Tetap Tersalur Gaji

Friday, June 04, 2021 | Friday, June 04, 2021 WIB Last Updated 2021-06-04T11:38:06Z
Oleh : Yauma Bunga Yusyananda
(Anggota Ksatria Aksara Kota Bandung)

Permasalahan demi permasalahan negeri ini terungkap, termasuk dalam bidang kepegawaian negeri sipil alias para PNS ( Pegawai Negeri Sipil ) yang mereka tetap mendapatkan gaji namun keberadaannya tidak diketahui adanya. Banyak spekulasi yang terjadi perihal PNS fiktif ini, entah itu sulit untuk memasukkan data karena secara digital, sudah meninggal dan tidak dilaporkan ke pusat, atau alasan lainnya sehingga gaji dari 97.000 PNS tetap dikucurkan dana nya walau keberadaannya masih simpang siur.

Kepala Badan Kepegawaian Negara, Bima Haria mengungkapkan bahwa dari tahun 2014 semenjak pendataan dilakukan secara elektronik dan mampu dilakukan secara individu, ada data yang misterius yaitu gaji nya dibayarkan, membayarkan iuran pensiun juga tapi tidak ada orangnya. Penyebabnya beragam  yang kurang informasi, ada yang sakit, atau ada yang sedang dalam kasus pidana. Ini yang masih harus ditelusuri perihal tersebut. Menurutnya para PNS tersebut bukan fiktif, namun lalai dalam melakukan pendataan ulang. (cnbcindonesia.com 30/05/2021)

Jika kita melihat kondisi saat ini, perekonomian rakyat sedang diuji oleh pandemi, begitupun perekonomian negeri ini yang terlilit hutang hingga trilyunan. Maka jika PNS fiktif tersebut dibiarkan diberi gaji, sehingga seolah memakan gaji buta yakni tidak bekerja namun tetap mendapat bayaran dengan diperhitungkan kinerja seolah ia bekerja, sesungguhnya hal tersebut adalah ketidakadilan. Walaupun kondisi masyarakat yang tercatat sebagai PNS ini memiliki kekurangan ekonomi, tetapi tidak baik jika data direkayasa dan tidak transparan sehingga merugikan perekonomian nasional ataupun masyarakat yang lain. 

Sifat individualitas, negara yang abai untuk mengedukasi masyarakat, atau personal yang masih belum memiliki kredibilitas yang baik perlu diperhatikan dalam sistem kepegawaian. 

Sebagai gambaran, gaji PNS terdiri dari gaji pokok, tunjangan kinerja (tukin), dan tunjangan melekat seperti tunjangan keluarga, tunjangan pangan dalam bentuk uang, dan tunjangan jabatan atau tunjangan umum. Dan semuanya itu diberikan kepada personal yang masih "ghaib" keberadaannya. Bisa terbayang kerugian negara, walaupun kondisi kesejahteraan masyarakat tak pernah stabil, tetapi hal ini tetap harus ditindaklanjuti agar masyarakat juga merasa tidak dirugikan. 

Maka kelalaian dalam pendataan walaupun dalam tataran administrasi tetap akan berdampak dalam penyaluran, sehingga adanya kecurangan yang terjadi di lingkup masyarakat sendiri atau di jajaran staff yang mengurus kepegawaian negeri. Dan tidak ditemukan di dalam Islam, kecurangan atau ketidakjujuran dalam individu, jikapun ada yang mulai curang akan saling mengingatkan karena merupakan keharaman. Masyarakat akan terjaga dengan Islam dan kelalaian dalam administrasi pun akan lebih diawasi lagi karena pribadi muslim yang benar tidak akan berlaku lalai jika sudah berkaitan dengan pendataan. 

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Ma’qil bin Yasar al Muzani radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما من عبد يسترعيه الله رعية يموت يوم يموت وهو غاش لرعيته إلا حرم الله عليه الجنة

“Tidaklah seorang hamba yang Allah berikan kepemimpinan atas orang lain, lalu ia mati dalam keadaan berbuat curang terhadap orang-orang yang dipimpinnya, melainkan Allah akan mengharamkan atasnya surga.” (HR Muslim)

Adapun terkait gaji merupakan hak pegawai yang harus ditunaikan sesuai kinerja nya, dan kepegawaian dalam Islam tidak akan berorientasi penuh dalam bekerja untuk materi semata, karena kehidupan di dalam Islam tentu tidak seperti kehidupan alam kapitalisme yang semuanya berputar dalam perputaran ekonomi, Islam menjamin kesejahteraan manusia jikapun manusia tersebut memilih bekerja atau menjadi pegawai karena ada rasa untuk memberdayakan dirinya, melayani ummat, mengurusi ummat atau mengoptimalkan potensinya dalam bidang-bidang yang ia kuasai. Sesungguhnya Islam memberikan keberkahan pada manusia, dan jika dunia ini masih enggan diatur oleh Islam, kerusakanlah yang terjadi di setiap bidang. Semoga ummat sadar akan butuhnya syariat Islam yang mampu mengatur perilaku manusia agar senantiasa berbuat yang ma'ruf sehingga orientasi hidup bukan pada gaji, harta dan kekayaan tetapi keberkahan yang kebaikannya selalu bertambah.

Wallohu'alam bi ash shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update