Oleh Leihana
(Ibu Pemerhati Umat)
Ibarat jalinan benang kusut, kondisi negeri ini di tengah pandemi sulit diuraikan permasalahannya. Di mana pangkal dan ujungnya sulit ditemukan, upaya penyelesaian yang ada justru membuat jalan keluar semakin buntu dan kondisi perekonomian semakin semrawut.
Hal ini terbukti dengan banyaknya usaha kecil bahkan ritel besar pun gulung tikar, dikutip dari Liputan6.com, PT Hero Supermarket Tbk. (HERO Group) memutuskan untuk menutup seluruh gerai Giant pada akhir Juli 2021. Penutupan gerai Giant ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memfokuskan bisnisnya ke merek dagang IKEA, Guardian, dan Hero Supermarket yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan Giant.
(Liputan6.com, 25/5/2021).
Meski beralasan penutupan ritel Giant untuk fokus usaha dengan merek dagang lain tetap saja penutupan ritel tersebut menelan korban baik tenaga kerja yang terkena pemutusan kerja dan pendapatan bagi negara juga jelas berkurang. Sungguh disayangkan tumbangnya ritel besar ini di saat kemampuan daya beli eceran masyarakat mulai membaik. Saat indikator penjualan eceran dan konsumsi masyarakat mulai membaik, satu per satu perusahaan ritel besar justru gulung tikar dan beralih fungsi karena terdampak pandemi Covid-19. Pelaku usaha berharap pemerintah dapat segera merealisasikan rencana pemberian stimulus pada sektor ritel. (Kompas.id, 28/5/2021)
Harus diakui akar permasalahan berbagai perusahaan kecil menengah bahkan ritel besar gulung tikar adalah karena pandemi berkepanjangan. Dampak pandemi pada sektor ritel semakin nyata, bukan karena daya beli masyarakat yang tidak ada. Tetapi solusi yang selama ini diambil pemerintah untuk mengatasi pandemi yang seperti tarik ulur dengan virus yang berbahaya itu membuat kebiasaan masyarakat turut berubah.
Ketakutan terus menghantui masyarakat tentang keamanan dari virus yang belum terjamin, kekhawatiran membuat mental masyarakat turut melemah. Sehingga banyak yang mengubah pola hidup kebiasaan bahkan untuk kebiasaan baik sekalipun. Bersilaturahim, menengok dan membantu tetangga kerabat yang sakit atau berkabung pun jadi serba takut.
Aktivitas pun secara tidak langsung dibatasi dan minat untuk berbelanja menurun meski kemampuan membeli sebenarnya sudah membaik. Tidak beraninya masyarakat berbelanja membuat kebiasaan membeli beberapa produk diakhiri sehingga tidak sedikit usaha produksi dan ritel gulung tikar.
Gelombang PHK massal dan dampak ikutan yang menyertai tidak bisa terelakan.
Kolapsnya ekonomi di negara dengan sistem ekonomi kapitalisme dalam menghadapi pandemi Covid-19 akibat sistem ini tidak memiliki solusi yang mengakar dan tepat sasaran.
Solusi yang ditawarkan sistem kapitalis ibarat menadahi kebocoran genting tanpa memperbaiki kerusakan genting tersebut. Sehingga masalah tetap ada meski wabah berhasil dikendalikan jumlahnya. Terlebih lagi yang semakin membingungkan aturan pencegahan penularan virus ini terasa ambigu. Seperti larangan mudik tapi membuka tempat wisata dan membuka masuknya tenaga kerja asing. Sehingga standar penyelesaian pandemi Covid-19 bukan pada keselamatan rakyat saja tetapi juga harus menjaga kepentingan para kapitalis.
Penutupan ritel besar dianggap bukan ancaman selama perusahaan masih eksis di Indonesia dengan bentuk usaha lain. Tidak memikirkan kepentingan tenaga kerja yang terkena PHK yang mungkin tidak dapat direkrut lagi. Sehingga masyarakat khususnya di Indonesia membutuhkan solusi yang lebih mengakar. Solusi tersebut tiada lain adalah sistem Islam dengan solusi yang ditawarkan fokus menghilangkan virus covid-19 dengan karantina wilayah terjangkit dan mengusahakan penemuan vaksin dan obat terbaik bagi virus baru tersebut dengan menyerahkan seluruh ilmuwan yang dimiliki negara.
Pemerintah dalam Islam yaitu khilafah memprioritaskan kepentingan rakyat daripada kepentingan pengusaha (kapitalis) dan penguasa.
Oleh karena itu, untuk keluar dari seluruh masalah pandemi dan masalah ikutan lainnya Umat harus segera memperjuangkan penerapan Islam kafah dalam naungan khilafah.
Wallahu a'lam bishshawab.

No comments:
Post a Comment