el.karimah@gmail.com
Akhir-akhir ini konten media sosial yang menampilkan sisi kekayaan material sang kreator tidak lagi asing ditemui, baik di Instagram, YouTube, maupun platform yang lain.
Memamerkan harta kekayaan menjadi sesuatu wajar, walaupun kadang ada ketidaketis di budaya masyarakat kita, namun saat ini semuanya seolah telah berubah.
Sisca Kohl merupakan salah satu content creator di aplikasi TikTok yang senang membuat berbagai video, terutama video memasak dan review makanan bersama adiknya Aliyyah Kohl.
Dalam kontennya, Sisca Kohl bersama adiknya, Aliyyah Kohl, kerap mereview makanan dengan bahan baku yang didatangkan dari luar negeri dan berharga mahal.
Begitu juga Selebgram Denise Chariesta belakangan menjadi perbincangan hangat netizen. Ia menuai komentar pedas setelah videonya yang memamerkan kekayaan viral di TikTok.
Memiliki barang mewah atau memiliki kehidupan yang sukses dan membagikan di media sosial, sebenarnya sah-sah saja. Akan tetapi, yang perlu diperhatikan adalah niat dan gunakan kata-kata yang bijak. Karena unggahan di media sosial itu multitafsir bagi yang melihatnya.
Perilaku pamer kekayaan ini sebenarnya bisa terjadi dengan berbagai macam latar belakang. Ada yang butuh pengakuan, dilapisan sosial di manakah kita? adapula yang ingin merasa dihormati atau dihargai keberadaannya dan lain sebagainya.
Islam memberikan takaran dan pemaknaan tersendiri tentang
tahadduts binni’mah.
Keberadaan nikmat dan karunia yang diberikan Allah Swt. kepada hamba-Nya, selain merintahkan untuk bersyukur, Allah Swt. juga memerintahkan untuk menceritakan nikmat bagi seseorang yang telah menerimanya. Di sinilah kata Tahadduts bin ni’mah berperan.
Secara syariat kita diperbolehkan untuk menceritakan nikmat – nikmat yang telah diberikan allah pada kita dengan rasa syukur tapi dengan catatan tidak berbenturan dengan rasa riya’ atau pamer dan ‘ujub. Semisal bersedekah dengan menunjukkan rasa syukur atas nikmat dengan berbagi kepada orang lain.
Tahadduts bin ni’mah juga jangan semata-mata karena manusia, karena pengakuan manusia itu semu. Ketika yang melihat mencintaimu maka sanjungan yang dilontarkan. Tapi ketika yang melihat adalah yang membencimu maka prasangka buruk yang hadir. Sungguh lelah jika pengakuan manusia menjadi obsesi dalam hidup kita. Mari menata hati dengan niat yang baik dalam tahadduts bin ni’mah.

No comments:
Post a Comment