Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Palestina Bebaskan Dengan Persatuan Hakiki Umat

Wednesday, June 02, 2021 | Wednesday, June 02, 2021 WIB Last Updated 2021-06-02T13:05:06Z
Oleh: Suriani Geri
(Pemerhati Masalah Sosial)

Tragedi Palestina berdarah kembali terjadi di tengah khusyu’nya kaum muslim menjalankan ibadah puasa Ramadan. Keadaan terus memanas hingga hari raya Id Fitri. Israel terus menerus menyerang dan membombardir warga Palestina dan Gaza dengan rudal canggihnya. Gedung-gedung tinggi di  Palestina seketika hancur dan rata dengan tanah. Sementara korban nyawa berjatuhan tak pilih usia dari bayi hingga lansia. Keadaan ini mengundang simpati dan reaksi dari masyarakat global, termasuk warga Kalimantan Timur.

Sebagai bentuk pembelaan terhadap warga Palestina atas serangan brutal Israel, masyarakat Kaltim mengadakan aksi bela Palestina pada Jumat (21 Mei 2021). Aksi berlangsung di dua tempat yaitu di kawasan Masjid Baitul Muttaqin Islamic Center Samarinda dengan konvoi pada pukul 13.00 Wita menuju ke Taman Samarendah.Sementara di tempat kedua digelar di kawasan Masjid Al Ma’ruf Samarinda dan Simpang Empat Mal Lembuswana mulai pukul 15.00 Wita. 

Aksi Bela Palestina sengaja digelar di dua tempat berbeda untuk membatasi kerumunan massa yang akan ikut bersolidaritas. Selain itu, peserta aksi juga diminta untuk menerapkan protokol kesehatan demi mencegah penularan Covid-19.

Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan Aksi Bela Palestina di Masjid Islamic Center Samarinda Erry Noviansyah mengungkapkan, aksi ini dilakukan demi memperlihatkan reaksi pada dunia bahwa umat Islam di Samarinda, khususnya Kaltim peduli dengan kejadian yang tidak berperikemanusiaan di Palestina.Disebutkannya, antusiasme masyarakat menyambut aksi ini sangat besar dan menaruh kepedulian yang tinggi. Terbukti ketika rapat koordinasi yang digelar belum lama ini, banyak yang terlibat. Respons dari media sosial juga bagus(https://kaltimtoday.co/hari-ini-ribuan-warga-samarinda-siap-gelar-aksi-bela-palestina/)

Meski serangan brutal Israel atas warga Palestina berakhir dengan gencatan senjata pada hari Senin (24/05/2021). Namun, serangan itu telah menyisakan kerugian bahkan derita besar dan berkepanjangan bagi warga Palestina. Ratusan keluarga kehilangan tempat tinggal bahkan sanak keluarga karena jadi sasaran korban senjata dan rudal-rudal Israel. Korban yang selamat pun banyak yang cacat seumur hidup. Ratusan anak yang jadi yatim piatu karena kehilangan orang tua mereka. Kantor-kantor berita yang perannya sangat penting, hancur seketika. Dan bangunan-bangunan penting lainnya pun rusak parah. Tentunya itu semua menimbulkan kerugian besar pagi Palestina.

Semua derita ini ternyata tak cukup bagi penguasa di negeri-negeri muslim untuk mengirimkan bantuan militernya pada Palestina. Aksi mereka hanya sebatas kecaman dan sedikit bantuan kemanusiaan. Dan faktanya kecaman itu tidak berefek sama sekali untuk menghentikan serangan brutal Israel. Bahkan beberapa jam pasca disepakatinya gencatan senjata, tentara Israel yang menguasai Masjid Al-Aqsa kembali membabi buta menyerang warga Palestina yang datang beribadah dengan menembakkan gas air mata.

Bukan hanya sekali dua kali Israel melanggar perjanjian yang disepakati. Kejadian seperti  itu sudah ratusan bahkan ribuan kali selama Israel menduduki Palestina yang sudah berlangsung lebih dari 70 tahun jika dihitung sejak tahun 1948.

Sejak itu, hingga kini, tragedi demi tragedi yang dialami kaum Muslim Palestina terus terjadi. Derita Palestina terus berulang. Ribuan bahkan ratusan ribu korban terus berjatuhan. Hal itu terus berlangsung sejak awal pendudukan hingga sekarang. Tanpa ada yang benar-benar serius berusaha memberikan pertolongan. Tidak PBB. Tidak AS, Rusia, Eropa atau Cina. Tidak para penguasa Muslim. Bahkan tidak pula para penguasa Arab yang menjadi tetangga dekatnya. Semuanya hanya menonton. Paling banter mengutuk dan mengecam.

Awal Penderitaan Akibat Nation State

Tanah Palestina sesungguhnya merupakan tanah wakaf milik kaum Muslim. Bukan hanya milik bangsa Arab atau bangsa Palestina saja. Palestina telah berada di bawah kekuasaan Islam saat dibebaskan oleh Khalifah Umar bin al-Khathab ra. pada tahun 15 H. Beliaulah yang langsung menerima tanah tersebut dari Safruniyus di atas sebuah perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian ‘Umariyah, yang di antara isinya yang berasal dari usulan orang-orang Nasrani, yaitu “agar orang Yahudi tidak boleh tinggal di dalamnya.”

Namun, sejak Khilafah Utsmaniyah runtuh tahun 1924, akhirnya Bumi Palestina jatuh ke tangan Zionis Yahudi, sang agresor dan penjajah. Zionis Yahudi berhasil mendirikan entitas negaranya pada tahun 1948 dengan menduduki 77% tanah Palestina dan setelah mengusir 2/3 (dua pertiga) rakyat Palestina dari tanah mereka. Yang tersisa tinggal 156 ribu jiwa (17%) dari total warga entitas Israel saat didirikan. Itu pun mereka seperti warga asing di tanah mereka sendiri.

Sejak Khilafah runtuh sejak itu pulalah terbentuk negara bangsa atau nation state. Saat itu negeri-negeri muslim yang dulunya menyatu dalam naungan Daulah Khilafah akhirnya terpecah-pecah. Hal ini berawal dari sebuah Perjanjian Sykes-Pycot yaitu kesepakatan bersejarah yang ditandatangani pada 16 Mei 1916 oleh wakil-wakil dari Rusia, Prancis, dan Inggris. Namun, karena pecahnya Revolusi Bolshevik pada Oktober 1917, Rusia kemudian mengundurkan diri dari perjanjian itu. Perjanjian itu diberi nama Sykes-Pycot, sesuai nama para penandatangan, yaitu diplomat Prancis François Georges-Picot dan diplomat Inggris Sir Mark Sykes.

Berdasarkan perjanjian tersebut, negara-negara Arab yang pada mulanya menjadi bagian dari Turki Ottoman akan dibagi-bagi oleh Prancis dan Inggris, setelah mereka mengalahkan Turki Ottoman dalam Perang Dunia I. Karenanya, Irak dan Yordania, termasuk pula kawasan Palestina, akan dikuasai oleh Inggris. Sedangkan Suriah dan Lebanon akan dikuasai Prancis.

Perjanjian Sykes-Pycot mempunyai dampak yang panjang, yaitu persiapan pembentukan negara Israel pada tahun 1948 di atas tanah Palestina yang semula dijajah Inggris.

Keruntuhan Daulah Utsmani jadi awal munculnya paham nasionalisme. Paham yang sengaja ditanamkan kafir penjajah dalam tubuh umat Islam untuk menjaga agar negara bangsa bentukan mereka tetap langgeng. Dan umat Islam melupakan induk mereka yang jadi perisai yaitu khilafah.

Nasionalisme inilah yang mencerabut ikatan akidah dari tubuh umat Islam. Padahal ikatan akidah adalah ikatan paling kuat yang ada pada diri umat Islam. Karena nasionalisme, para penguasa di negeri-negeri muslim menganggap bahwa derita Palestina bukanlah hal yang cukup penting untuk mereka perhatikan,tersebab berbeda bangsa. 

Tak peduli meski mereka sesama muslim. Bila bukan rakyatnya maka itu bukan urusannya. Tidak penting untuk dibantu secara militer. Karenanya, bagi mereka cukup dengan mengecam dan sedikit mengirimkan bantuan kemanusiaan. Lebih dari itu, terlebih bila bicara militer itu sudah dianggap diluar kewenangannya sebagai bangsa lain. 

Inilah racun nasionalisme yang menggerogoti tubuh umat Islam. Melumpuhkan kekuatan umat Islam, memecah belah umat Islam dan menghalangi persatuan umat Islam di atas dasar akidah Islam.
 
Jalan Pembebasan Palestina

Karena itu untuk mengembalikan al-Quds dan membebaskan kembali Palestina dari cengkeraman kaum Zionis Yahudi saat ini, apa yang dilakukan oleh Salahuddin al-Ayyubi patut diteladani. Tidak lain jihad. Jihadlah jalan satu-satunya bagi pembebasan al-Quds dan Palestina.

Dengan penderitaan umat di Palestina dan di berbagai belahan dunia saat ini, jelas sumat makin membutuhkan Khilafah yang dipimpin oleh seorang khalifah. Sebabnya jelas, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

“Imam (Khalifah) itu laksana perisai; kaum Muslim diperangi (oleh kaum kafir) di belakang dia dan dilindungi oleh dirinya.”(HR Muslim).

Apa yang disabdakan Rasulullah saw. di atas pernah dibuktikan dalam sejarah oleh para khalifah pada masa lalu. Salah satunya Khalifah Al-Mu’tashim Billah yang sukses menaklukkan Kota Amuriyah, kota terpenting bagi imperium Romawi saat itu, selain Konstantinopel.

Al-Qalqasyandi dalam kitabnya, Ma’âtsir al-Inâfah, menjelaskan salah satu sebab penaklukan kota itu pada tanggal 17 Ramadhan 223 H. Diceritakan bahwa penguasa Amuriyah, salah seorang raja Romawi, telah menawan wanita mulia keturunan Fathimah ra. Wanita itu dinistakan hingga berteriak dan menjerit meminta pertolongan.

Menurut Ibn Khalikan dalam Wafyah al-A’yan, juga Ibn al-Atsir dalam Al-Kâmil fî at-Târîkh, saat berita penawanan wanita mulia itu sampai ke telinga Khalifah Al-Mu’tashim Billah, saat itu sang Khalifah sedang berada di atas tempat tidurnya. Ia segera bangkit seraya berkata, “Aku segera memenuhi panggilanmu!”

Tidak berpikir lama, Khalifah Al-Mu’tashim Billah segera mengerahkan sekaligus memimpin sendiri puluhan ribu pasukan kaum Muslim menuju Kota Amuriyah. Terjadilah peperangan sengit. Kota Amuriyah pun berhasil ditaklukkan. Pasukan Romawi bisa dilumpuhkan. Sekitar 30 ribu tentaranya terbunuh. Sebanyak 30 ribu lainnya ditawan oleh pasukan kaum Muslim. Khalifah pun berhasil membebaskan wanita mulia tersebut. Khalifah lalu berkata di hadapan wanita itu, “Jadilah engkau saksi untukku di depan kakekmu (Nabi Muhammad saw.), bahwa aku telah datang untuk membebaskan kamu.”Semoga Allah SWT merahmati Al-Mu’tashim Billah.

Alhasil, sekali lagi, umat memang butuh Khilafah, juga seorang khalifah seperti Al-Mu’tashim Billah. Semoga saja umat Islam di seluruh dunia segera memiliki kembali Khilafah, juga pemimpin pemberani yang mengayomi seperti Khalifah Al-Mu’tashim Billah yang akan menaklukkan Amerika, Eropa, Rusia dan Cina; menyatukan berbagai negeri Islam; menjaga kehormatan kaum Muslim; dan menolong kaum tertindas.

Insya Allah, masa yang mulia itu akan segera tiba karena memang telah di-nubuwwah-kan oleh Rasulullah saw.:

“Kemudian akan datang kembali masa Khilafah yang mengikuti metode kenabian.” (HR Ahmad) []

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update