Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Krisis Pangan : Komplikasi Penderitaan di Wilayah Konflik

Sunday, June 06, 2021 | Sunday, June 06, 2021 WIB Last Updated 2021-06-06T15:18:52Z

Oleh : Binti Masruroh, S.Pd

Sejak terjadi konflik bersenjata warga Suriah teancam krisis pangan . Program pangan Dunia ( WEP) melaporkan sebanyak 9,3 juta sipil d Suriah mengalami kekurangan pangan yang memadai. Republika.co.id (27/05/21).

“Suriah hari ini menghadapi krisis kelaparan yang belum pernah terjadi sebelumnya karena harga makanan pokok mencapai tingkat yang tak terlihat, bahkan pada puncak konflik sembilan tahun dan jutaan orang didorong lebih dalam ke dalam kemiskinan,” kata juru bicara  WEP Elisabeth Byrs pada Jumat (26/6), dikutip laman Anadolu Agency.
Byrs menjelaskan, harga bahan pangan di Suriah telah meningkat 20 kali lipat dalam waktu yang relatif singkat. “Kombinasi yang menghancurkan dari kemandekan ekonomi, kejatuhan ekonomi Lebanon, yang merupakan jembatan vital bagi Suriah, dan langkah-langkah karanitina wilayah (lockdown) Covid-19, telah mendorong harga pangan lebih dari 200 persen lebih tinggi dalam waktu kurang dari setahun,” Republika.co.id (27/05/21)

Demikian pula warga Mianmar juga mengalami kisis pangan dan bahaya kelaparan yang ektrim. Sejak terjadi perebutan kekuasaan militer sistem ekonomi dan sistem perbankkan nasional lumpuh. Terjadi pemogokan dan penutupan pabrik, mengakibatkan mata pencaharian hilang, harga kebutuhan pokok  melonjak. Harga bahan bakar juga mekonjak sehingga biaya pengangkutan bahan pertanian ke kota juga mahal. WFH memperkirakan dalam 6 bulan kedepan akan terjadi 3,4 juta lebih warga Mianmar yang mengalami kelaparan. Lenterasutra.com (29/05/21)

Krisis pangan yang melanda berbagai belahan dunia terjadi akibat penerapan  sistem kapitalis Sekuler yang eksploitatif. Sistem Kapitalis yang berasaskan sekulerisme mengakui adanya kebebasan kepemilikan. Akibatnya kaum kapitals yang memiliki modal besar mereka bisa menguasai dan mengekploitasi  sumber-sumber kekayaan strategis negara yang sejatinya milik rakyat. Sehingga hasil kekayaan alam yang sangat melimapah diambil semua oleh para kapitalis. Negara hanya mendapatkan pajak dari mereka. Sementara di negara negara ke tiga sengaja diciptakan konfik sehingga penduduk setempat hanya sibuk untuk berperang. Mereka dengan leluasa mengekplotasi kekayaan yang dimiliki negara tersebut. 

Kesenjangan makin nyata hampir semilyar penduduk dunia kurang pangan sementara segelintir negara kapitalis berkelebihan pangan. Terlebih lagi kondisi umat Islam di wilayah konflik. Seperti yang terjadi di Suriah,  Myanmar maupun di negara-negara yang terjad konfik. Akibatnya rakyat hidup miskin kekurangan pangan.

Kondisi ini jauh berbeda dengan sistem Islam.  Sistem Islam bersumber dari Allah SWT Zat yang Maha Sempurna. Islam dengan jelas membagi pemilikan  atas pemilikan individu, pemilikan negara, dan kepemilikan Umum.

Kepemilikan Individu merupakan harta yang bisa dimiliki dan dimanfaatkan oleh Individu yang berasal dari hasil kerja yang halal, hadiah, warisan, dll.

Kepemilikan negara meliputi harta fa’i, khoroj, jijyah,  dll yang peruntukannya untuk kemaslahatan kaum muslimin berdasarkan ijtihat khalifah.

Kepemilikan Umum adalah  Sumber kekayan alam yang tidak terbatas meliputi beraneka macam tambang migas, batubara, emas, hutan , lautan dan kekayaan yang ada didalamnya dll. 

Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh muslim “Kaum Muslimin berserikat atas padang gembalaan, air dan api"

Terhadap harta kepemilikan umum negara mendapat amanah untuk mengelola secara mandiri hasilnya dikembalikan kepada rakyat. Negara tidak boleh menyerahkan pengekolaannya kepada swasta atau kepada asing. Bila diperlukan tenaga kerja asing hanya boleh disewa sebagai tenaga kontrak  dengan akat Ijarah. Hasil pengelolaan kepimilikan umum ini dikembalikan kepada rakyat.

Tidak diterapkannya sistem Islam, kaum muslimin tidak lagi mempunyai pelindung. Sehingga menjadikan para kapitalis dengan leluasa menjarah kekayaan alam di negeri-negeri kaum muslimin. Akibatnya banyak negeri kaum muslimin yang rakyatnya mengalami krisis pangan.  Mereka juga membuat konflik dan adu domba di negeri-negeri kaum muslimin. Yang mengakibatkan penderitaan kaum Muslimin.

Penerapan Sistem Islam secara Kaffah, dalam naungan khilafah akan  melingungi, harta , jiwa kaum muslimin. Kaum muslimin akan mempunyai Junnah atau perisai atau pelindung terhadap semua bentuk yang menimpanya. Sehingga tidak ada penduduk baik muslim maupun non muslim yang kekurangan pangan.

Dari Abu Hurairah Nabi Muhammad SAW bersabda : “Sesungguhnya seorang imam itu laksana perisai. Dia akan dijadikan perisai, di mana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/azab karenanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sejarah membuktikan selama berabad-abad kaum muslimin hidup sejahtera, tidak hanya diibukota negara, tetapi diseluruh wilayah kekhilafahan Islam.

Hal ini diakui sendiri oleh sejarawan dari Barat Will Durrent yang bertutur dengan jujur. "Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah telah mempersiapkan berbagai kesempatan bagi siapa pun yang memerlukannya dan meratakan kesejahteraan selama berabad-abad dalam luasan wilayah yang belum pernah tercatatkan lagi. Fenomena seperti itu setelah masa mereka" (The Story of Civilization). 

Wallahu A’lam bish Showab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update