Kabupaten Sumedang terus berbenah diri. Pembangunan sarana publik terus dilakukan agar kondisi kota semakin bertambah baik. Begitu pun dalam sektor pariwisata, yang besar kemungkinannya sangat mendukung pemasukan ekonomi masyarakat di daerah tersebut. Mengetahui pentingnya sektor pariwisata, baru-baru ini Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil melakukan peninjauan tempat yang akan menjadi landmark pariwisata di Kabupaten Sumedang yaitu Jatigede, dikutip Pikiran-Rakyat.com, Selasa (25/5/2021). Landmark yang nantinya dinamakan sebagai Menara Kujang Sepasang tersebut digadang-gadang akan menjadi titik balik kesuksesan pariwisata di Sumedang. “Mudah-mudahan dengan selesainya titik Landmark tersebut bisa menandai lahirnya kesuksesan pariwisata di Sumedang dan juga di Jawa Barat,” ujar Ridwan Kamil.
Gubernur Jawa Barat menjelaskan, kalau spot unggulan pemandangan di Jatigede posisinya di atas menara layaknya di Patung Liberty, New York. “Kemudian nanti ada jembatan karena menghubungkan dua bukit, di bukit akhir berdiri kujang yang sepasang utama dan sepasang skala kecilnya,” ujarnya lagi. Seperti diungkapkan sebelumnya bahwa sektor pariwisata memungkinkan dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat sekitarnya, maka dari itu Gubernur Jawa Barat berpesan kepada Bupati agar nantinya memaksimalkan orang-orang lokal terlebih dahulu. “Saya titip ke Bapak Bupati, untuk maksimalkan orang-orang lokal kampung sini yang menikmati kesejahteraannya,” ujar Ridwan kamil.
Gubernur Jawa Barat menjelaskan, kalau spot unggulan pemandangan di Jatigede posisinya di atas menara layaknya di Patung Liberty, New York. “Kemudian nanti ada jembatan karena menghubungkan dua bukit, di bukit akhir berdiri kujang yang sepasang utama dan sepasang skala kecilnya,” ujarnya lagi. Seperti diungkapkan sebelumnya bahwa sektor pariwisata memungkinkan dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat sekitarnya, maka dari itu Gubernur Jawa Barat berpesan kepada Bupati agar nantinya memaksimalkan orang-orang lokal terlebih dahulu. “Saya titip ke Bapak Bupati, untuk maksimalkan orang-orang lokal kampung sini yang menikmati kesejahteraannya,” ujar Ridwan kamil.
Tidak bisa dipungkiri, kawasan pariwisata Jatigede menawarkan pesona alam yang dapat memanjakan mata para wisatawan. Pulau-pulau kecil di antara riakan air dan hijaunya sawah menambah nilai lebih di mata para penikmatnya. Namun, ternyata rencana Gubernur Jawa Barat ini menimbulkan pro kontra. Rencana Pembangunan Menara Kujang di objek wisata Panenjoan, Desa Jemah, Kecamatan Jatigede di tengah pandemi Covid-19 menuai kritik dari masyarakat luas karena biayanya dinilai terlalu besar. Pembangunan ini akan memakai anggaran dari bantuan Gubernur Jabar sebesar 100 miliar.
Menanggapi kritikan dari masyarakat, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir berkilah bahwa pemerintah tidak bisa memilih antara penanganan Covid-19 dan masalah pembangunan. Menurut Dony, keduanya harus tetap berjalan. Penanganan Covid-19 tetap menjadi prioritas, sedangkan pembangunan menara untuk pemulihan ekonomi, dilansir dari TribunJabar.com, Selasa (25/5/2021). “Ini anggarannya kan dari Provinsi, saya yakin penanganan pandemi Covid-19 juga dialokasikan terus, banyak dan bahkan bisa triliunan juga. Tetap prioritas ke Covid-19,” ujar Dony saat ditemui Tribun Jabar di Gedung Negara, Senin (24/5/2021). Dony memastikan bahwa anggaran Rp 100 miliar ini bukan untuk Pembangunan Menara Kujang Sepasang saja, tetapi juga untuk pembangunan penunjangnya seperti Masjid dan jembatan. Menurut Dony pula bahwa pembangunan pariwisata di Jatigede akan menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan masyarakat juga bermanfaat bagi orang terkena dampak (OTD) pembangunan Jatigede.
Semua hal di atas tampak wajar jika segala sesuatunya didasarkan pada keuntungan semata, sebab memang itulah aturan main dalam sistem Kapitalisme. Atas nama perbaikan ekonomi, hal-hal yang tidak penting menjadi prioritas utama. Pembangunan sektor pariwisata menjadi hal penting, padahal rakyat masih terpuruk akibat pandemi yang masih berlangsung. Kesulitan memenuhi kebutuhan hidup tidak akan pernah selesai oleh pembangunan sektor pariwisata, meski di dalamnya ada tujuan untuk memperbaiki perekonomian masyarakat karena solusi yang ditawarkan hanya sementara tidak menyeluruh. Seharusnya anggaran yang tinggi dipergunakan terlebih dahulu untuk menjamin kebutuhan hidup setiap individu, sehingga masyarakat tidak lagi merasa cemas dalam menjalani kehidupan di tengah pandemi.
Semua hal di atas tampak wajar jika segala sesuatunya didasarkan pada keuntungan semata, sebab memang itulah aturan main dalam sistem Kapitalisme. Atas nama perbaikan ekonomi, hal-hal yang tidak penting menjadi prioritas utama. Pembangunan sektor pariwisata menjadi hal penting, padahal rakyat masih terpuruk akibat pandemi yang masih berlangsung. Kesulitan memenuhi kebutuhan hidup tidak akan pernah selesai oleh pembangunan sektor pariwisata, meski di dalamnya ada tujuan untuk memperbaiki perekonomian masyarakat karena solusi yang ditawarkan hanya sementara tidak menyeluruh. Seharusnya anggaran yang tinggi dipergunakan terlebih dahulu untuk menjamin kebutuhan hidup setiap individu, sehingga masyarakat tidak lagi merasa cemas dalam menjalani kehidupan di tengah pandemi.
Kondisinya akan berbeda jauh jika aturan yang berlaku di masyarakat adalah aturan yang lahir dari Sang Pencipta yaitu Allah Swt. Al-Qur’an dan Hadis menjadi rujukan dari setiap keputusan yang diambil untuk mengatur semua aspek kehidupan masyarakat. Sebagaimana firman Allah dalam salah satu ayatnya, “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, dan berhati-hati lah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah padamu. Jika berpaling (dari hukum yang diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik,” (TQS. Al-Maidah : 49).
Inilah kelebihan dari sistem Islam, dengan syariatnya mampu menyejahterakan umat manusia selama hampir 1300 Tahun. Setiap pemimpin akan lebih mengutamakan kemaslahatan umat daripada hal lain, sehingga kehidupan umat manusia lebih terjamin.
Wallahu’alam Bishowab.

No comments:
Post a Comment