(Anggota Komunitas Ksatria Aksara Kota Bandung )
Bulan Ramadhan sedang kita jalani saat ini, seharusnya menjadi kabar gembira untuk seluruh kaum muslim agar bisa melipatkangandakan ibadah serta beramal sholih, namun justru tak sepenuhnya kaum muslimin serta seluruh penduduk negeri mengalami kegembiraan,sebaliknya menjadi tidak menyenangkan bagi kita semua dikarenakan saat menjelang Ramadhan harga bahan pangan yang meroket.
Ketua umum ikatan pedagang pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri mengatakan harga berbagai komoditas pangan mulai menunjukkan kenaikan beberapa hari menjelang ramadhan. (Kompas.com 08/04/2021)
Abdullah Mansuri sebagai Ketua umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia ( IKAPPI ) juga menyebutkan bahwa ada 3 fase kenaikan harga pangan saat mendekati bulan Ramadhan, yaitu 3 hari sebelum Ramadhan, pada fase tersebut masyarakat berbondong-bondong untuk memenuhi kebutuhan pangan baik untuk pribadi ataupun untuk berjualan. Lalu 5 hari menjelang Idul Fitri, serta pasca lebaran. Karena saat hari lebaran, para pedagang ataupun petani biasanya tidak berdagang dulu karena sedang mudik atau merayakan hari raya. (https://www.idxchannel.com/economics/ini-tiga-fase-kenaikan-harga-pangan-saat-bulan-ramadhan )
Hal ini sangat disayangkan karena setiap kali bulan ramadhan tiba, berkahnya ternodai oleh keluh kesah masalah ekonomi ini, terutama dirasakan para kaum Ibu yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarga nya dalam menyediakan hidangan berbuka ataupun sahur.
Sehingga tidak jarang orang-orang akan menjadi lemah imannya dan tidak menjalankan ibadah puasa secara sempurna karena kurangnya kekhusyukan dan memikirkan harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Tentu saja didalam Islam masalah seperti ini merupakan tanggung jawab negara karena hakikat dari politik islam adalah ri'ayah syu'unil ummah (Mengurus urusan umat). Dan pengurusan sudah termasuk tanggung jawab didalamnya. Karena sebaik-baik pemimpin adalah yang bertanggung jawab atas segala urusan pokok dari rakyatnya termasuk perihal pangan.
Dari Ibnu Umar RA dari Nabi SAW sesunggguhnya bersabda:
Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggungjawabnya. Seorang pembantu rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggung jawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya (HR. Muslim).
Kita bisa mengambil pelajaran pada zaman khilafah Utsmaniyyah di Turki, pada saat itu 15 hari menjelang ramadhan Khalifah membentuk team khusus untuk memastikan kebutuhan2 utama tersedia dengan baik, pada saat itu pembagian makanan gratis untuk berbuka.
Dan Khalifah memerintahkan untuk menyembelih hewan peliharaan di berbagai tempat umum untuk dibagikan kepada rakyat secara gratis karena tanggung jawab sebagai penguasa yang menjamin kebutuhan pokok rakyat apalagi kebutuhan yang mendasar yaitu pangan.
Semua itu tentunya untuk meraih takwa sebagai fokus utama mengisi ramadhan, masyarakat tidak perlu resah lagi sehingga mengganggu Kekhusyukan ibadah. Karena bagaimanapun masyarakat tetap butuh makan, butuh disejahterakan sehingga untuk menghidupi keluarga tidak berpikir secara mendalam karena ada negara yang menjamin kebutuhan rakyatnya, penyedia lapangan pekerjaan dan bertanggung jawab atas apapun yang dipimpinnya. Tanggung jawab bukan semata-mata tuntutan dari rakyat, namun kesadaran dalam mengayomi dan mengurusi rakyat yang hakikatnya hal tersebut adalah bentuk ibadah bagi penguasa sebagai pemimpin, karena yang berat itu bukan sekedar tuntutan dari rakyat di dunia, namun pertanggungjawaban yang akan diminta oleh Allah di akhirat kelak. Dan pemimpin yang sadar hal tersebut adalah pemimpin yang menjadikan Islam sebagai aturan kehidupan secara kaffah, karena dengan Islam seluruh rakyat akan kembali pada fitrahnya, dan sejahtera dengan apa yang Allah ridhoi.
Wallohu'alam bi ash shawab.

No comments:
Post a Comment