Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Katakan ‘Tidak’ untuk Terorisme

Tuesday, April 27, 2021 | Tuesday, April 27, 2021 WIB

Oleh: Ari Herlina

 Guru/Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok

 

Peristiwa ledakan bom di depan Gereja Katedral Makassar, Minggu (28/3/2021) disusul peristiwa penembakan senjata di Mabes Polri, Jakarta (31/3/2021) membuat masyarakat tercengang. Kalau kita lihat ke belakang pada 2018, masyarakat juga dikejutkan dengan teror bom yang dilakukan oleh satu keluarga, suami istri dan anak-anaknya. Pada 2019 ditemukan lima kasus besar teror yang terjadi, sedangkan di 2020 tercatat 228 kasus terorisme (JawaPos.com). Hal ini memantik keresahan dan kekhawatiran masyarakat, terutama kaum Muslimin yang di-framing terorisme terkait pakaian Muslim, Islam dan makna jihad yang salah kaprah.

Kalau kita tilik makna terorisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik) atau praktik tindakan teror. Saya sebagai individu Muslim, bagian dari masyarakat yang juga takut terhadap kondisi ini jadi berpikir, apakah Islam itu agama yang membuat takut banyak orang ataukah ini hanya stigma negatif yang berusaha dilekatkan? Saya mencoba berpikir jernih dan mendudukkan fakta yang ada dengan firman Allah, sebagai Tuhan Rabb semesta alam. Dalam Quran surah al-Anbiya ayat 107 dijelaskan:

 وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Artinya: Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.

Arti kata rahmat di sini adalah kasih sayang dan lil ‘alamiin adalah bagi seluruh alam. Maknanya Islam itu diturunkan sebagai agama yang penuh dengan kasih sayang, kebaikan, kenyamanan dan keamanan bukan hanya bagi Muslim lainnya, tapi juga untuk manusia lain, makhluk hidup bahkan semesta alam. Oleh karenanya tidak mungkin Islam mengandung ajaran kebencian, kekerasan dan kezaliman bagi orang lain.

Mengenai pakaian Muslim, itu adalah salah satu bagian dari ketaatan setiap Muslim terhadap kewajiban menutup aurat di hadapan orang lain yang bukan mahramnya. Menjaga agar bagian tubuh yang merupakan aurat ditutupi dan tidak boleh terlihat oleh pandangan-pandangan yang tidak boleh melihatnya, baik laki-laki maupun perempuan. 

Adapun perintah untuk mengenakan jilbab (QS al-Ahzab: 59), menggunakan kerudung/khimar (QS an-Nur: 31) untuk perempuan, maupun menutup aurat bagi laki-laki (QS al-A’raf: 26-27), adalah salah satu kewajiban dari berbagai macam kewajiban yang harus ditaati oleh setiap Muslim.  Justru ketika seorang Muslim baik laki-laki atau perempuan tidak menutup auratnya, ia tidak hanya berdosa untuk dirinya sendiri, tapi juga dapat mengundang syahwat dan dosa bagi orang lain yang melihatnya. Jadi bagaimana mungkin pakaian Muslim-Muslimah sebagai bentuk ketaatan kepada Sang Pencipta diidentikkan dengan momok menakutkan dan menyeramkan mewakili wajah terorisme. 

Jihad dalam Islam adalah puncak keagungan, merupakan metode mendasar yang telah ditetapkan untuk mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia. Secara syari jihad adalah perang di jalan Allah untuk meninggikan kalimat Allah, membebaskan diri dari penghambaan makhluk kepada penghambaan Allah semata.

Ulama menyebut jihad itu ada dua yakni: Pertama, jihad difai. Jihad difai itu jihad defensif, dilakukan ketika kita diserang, maka kita tidak boleh diam menjadi korban begitu saja, tidak boleh kita membiarkan diri kita dizalimi. Jadi, jihad difai ini dilakukan karena kita diserang. 

Kedua, jihad hujumi. Jihad  hujumi atau ofensif  dilakukan untuk menghilangkan hambatan dakwah. Jihad ofensif dapat dilakukan atas perintah pemimpin tertinggi kaum Muslimin, yaitu khalifah. Jika saat ini keberadaan pemimpin dan institusi daulah tidak ada, maka jihad ofensif tidak dapat dilakukan. Firman Allah SWT dalam QS an-Nisa ayat 29:

وَلاَ تَقْتُلُوْٓا أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha menyayangi kalian.” 

Juga dalam QS al-Israa ayat 33:

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللّٰهُ إِلَّا بِالْحَقِّ

“Dan janganlah kalian membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan alasan yang benar.” 

Begitu juga dalam QS al-Maidah ayat 32:

مَنقَتَلَنَفۡسَۢابِغَيۡرِنَفۡسٍأَوۡفَسَادٖفِيٱلۡأَرۡضِفَكَأَنَّمَاقَتَلَٱلنَّاسَجَمِيعٗاوَمَنۡأَحۡيَاهَافَكَأَنَّمَآأَحۡيَاٱلنَّاسَجَمِيعٗاۚ

“Siapa saja yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya . Siapa saja yang memelihara kehidupan seorang manusia, seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” 

Dari paparan dalil di atas, jelaslah makna jihad secara syari seharusnya tidak boleh dilakukan sembarangan. Nyawa seorang manusia itu sangat berharga dalam kacamata Islam. Bahkan sebagai agama kasih sayang, tidak hanya kepada manusia, Islam pun sangat menghargai nyawa seekor binatang. 

Suatu ketika Nabi Muhammad bersabda:  “Seorang wanita dihukum karena dia memenjarakan seekor kucing sampai mati. Karena ini, dia ditakdirkan ke neraka. Saat dia memenjarakannya, dia tidak memberi kucing makanan atau minuman, juga tidak membebaskannya untuk makan," (HR. Bukhari dan Muslim). 

Berbuat baik kepada semua mahluk merupakan tuntunan dalam Islam. Nabi juga pernah mengisahkan tentang seseorang yang diampuni seluruh dosanya hanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Ketika ditanya tentang berbuat baik kepada hewan, Nabi bersabda: "Ada pahala untuk kebaikan bagi setiap hewan atau manusia yang hidup." (HR. Muslim).

Bahkan saat menyembelih hewan kurban, umat Islam diperintahkan melakukannya dengan cara yang tidak terlalu menyakiti hewan dengan mempercepat proses kematiannya. Nabi Muhammad bersabda: “Ketika kamu menyembelih hewan, lakukanlah dengan cara yang terbaik. Seseorang harus mengasah pisaunya untuk mengurangi penderitaan hewan." (HR. Muslim dan Tirmizi). 

Dari semua ayat dan hadits di atas, bagaimana mungkin Islam adalah agama yang menyebarkan terorisme kepada orang lain ? Bahkan kepada binatang pun sangat dianjurkan untuk berbuat baik dan memperhatikan kehidupan mereka. Jelaslah bahwa ini tidak lain adalah framing yang diciptakan untuk membuat kaum Muslimin takut terhadap agamanya sendiri, membuat tipu daya pada dunia. Hal ini pun telah tegas tertera dalam QS Ali Imran ayat 54: “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”

Maka, katakan ‘tidak’ untuk terorisme.[]

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update