Oleh Rizkika Fitriani
(Pelajar)
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas meminta setiap acara yang berlangsung di Kementerian Agama turut memberikan kesempatan kepada agama lain dalam mengisi doa dan tidak hanya doa untuk agama Islam saja.Pernyataan itu disampaikan Yaqut saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Agama secara daring dan luring yang berlangsung mulai Senin hari ini hingga Rabu.
"Pagi hari ini saya senang Rakernas dimulai dengan pembacaan ayat suci Alquran. Ini memberikan pencerahan sekaligus penyegaran untuk kita semua. Tapi akan lebih indah kalau doanya diberikan kesempatan semua agama untuk memberikan doa," kata Yaqut, Senin. (Antaranews.com, 5/4/2021)
Sungguh miris melihat fakta sekarang ini, liberalisasi semakin di pertontonkan. Negara menjunjung tinggi kata toleran, hingga sinkretisme pun di praktikkan. Dalam hal ini, seharusnya masyarakat sadar bahwa sistem sekuler ini tidak akan sejalan dengan tujuan memberlakukan syariat. Liberasi akidah sudah menjadi kebijakan negara. Negara yang katanya menjujung tinggi toleransi, tapi sayangnya, toleransi yang dilakukan hingga bablas. Dengan kebijakan yang dilakukan, sebagai bukti mempraktikkan sinkretisme agama, kebijakan negara menganggap sinkretisme salah satu perwujudan toleransi.
Sinkretisme agama bukanlah wujud dari toleransi. Ironis di negeri ini, malah salah dalam memaknai. Sangat rusak sistem sekarang ini, pencampuradukkan ajaran agama sering dijadikan patokan untuk mengukur toleransi kehidupan beragama, bahkan jika ada yang merayakan hari raya pun seluruh agama harus ikut serta mengucapkan atau bahkan merayakan demi mewujudkan kata toleransi. Di sekolah pun tidak di wajibkan lagi menggunakan atribut agama, semua di bebaskan, lagi-lagi demi mewujudkan kata toleransi. Semua serba bebas, namanya juga liberal. Sangat rusak dan merusak, liberalisasi akidah semakin di pertontonkan.
Dengan dipertontonkannya liberalisasi akidah, salah satu strategi barat ingin menjauhkan syariat Islam dari masyarakat, dengan mengintervensi umat Islam untuk meyakini kebenaran agama lain dan mendukung kebebasan beragama. Maka umat Islam yang buta akan ilmu agama, akan mempercayai saja bahwa sinkretisme di perbolehkan dalam syara. Seharusnya, dengan bukti semakin hancurnya kebijakan sekarang, menbuat masyarakat semakin sadar, bahwa tujuan negara ingin menghancurkan pemikiran masyarakat, agar tidak beralih dari sistem sekuler dan liberal. Hingga kebijakan yang di buat satu persatu keluar dari jalur syariat.
Jika sinkretisme di anggap sebagai wujud toleransi di sistem sekarang ini, maka sudah jelas sangat salah. Dalam syariat Islam, bentuk sinkretisme ini merupakan pelanggaran dari Syara'. Rasulullah pun melarang tegas tidak mau melakukan toleransi semacam ini. Pada fase dakwah di Makkah, suatu ketika beberapa tokoh kafir Quraisy menemui Nabi saw.
Mereka adalah Al-Walid bin Mughirah, Al-‘Ash bin Wail, Al-Aswad Ibnu al-Muthallib dan Umayyah bin Khalaf. Mereka menawarkan ‘toleransi’ kepada beliau, “Muhammad, bagaimana jika kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (kaum Muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Jika ada sebagian ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, maka kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, jika ada sebagian ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya.” (Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, 20/225).
Islam agama toleransi, tapi tidak sampai memcampur adukkan keyakinan, jika keyakinan saja di campur adukkan, itu artinya ada besar kemungkinan saling menaruh harapan dari doa satu sama lain. Dengan adanya sekuler dan liberal ini sangatlah membahayakan, bisa menjerumuskan. Sudah seharusnya umat Islam kembali pada syariat Islam, penuh dengan keberkahan dan kesejahteraan.
Wallahu a'lam

No comments:
Post a Comment