Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Doa Lintas Agama, Waspada Akidah Kandas

Tuesday, April 27, 2021 | Tuesday, April 27, 2021 WIB


Oleh  Reni Adelina, A.Md
(Pemerhati Kebijakan Publik)

Kembali mencuat isu toleransi di wilayah Kementerian Agama (Kemenag). Sebelumnya Kemenag membahas tentang perombakan beberapa mata pelajaran di sekolah agar menciptakan generasi yang moderat.  Kini, doa lintas agama yang diperbolehkan cukup menyita perhatian umat Islam. 

Beberapa waktu yang lalu, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, meminta setiap acara yang berlangsung di Kementerian Agama turut memberikan kesempatan kepada agama lain dalam mengisi doa dan tidak hanya doa untuk agama Islam saja. (antaranews, 05/0/21)

Wakil dari Menteri Agama (Wamenag)  Zainut Tauhid juga menegaskan kembali bahwa permintaan dari Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas,  terkait doa dari semua agama yang dibacakan dalam acara rapat umum di Kementerian Agama adalah khusus untuk acara internal saja, karena secara internal Kemenag terdapat beberapa eselon yang hadir mulai dari Bimas Islam,  Direktorat Bimas Kristen,  Katolik,  Hindu,  Budha, dan lainnya.

Kemenag mengaku memiliki banyak alasan diantaranya,  Kemenag tidak hanya menaungi satu agama saja yang ada di Indonesia.  Kedua,  untuk memohon keselamatan kepada Allah Swt. bertujuan agar pegawai di lingkungan Kemenag dijauhkan dari perbuatan mungkar dan korupsi.  (kumparan.com, 07/04/21)

Sontak, kebijakan tersebut menuai polemik.  Bagaimana tidak, dengan doa semua agama berarti menganggap semua agama sama atau yang disebut dengan pluralisasi. Dalam Islam jelas hal tersebut tidak dibenarkan.  Sejatinya makna toleransi bukanlah pluralisasi.  Jangan sampai salah kaprah memaknai toleransi. Apalagi mencampur adukan tata cara beribadah seperti doa lintas agama. 

Waspada Agenda Terselubung di balik Doa Bersama

Jika diteliti motif di balik wacana doa bersama antara lain membawa pesan moderasi agama, sebuah propaganda Barat yang ingin menghancurkan Islam.  Islam moderat bertujuan agar umat Islam meninggalkan syariat Islam dan terbuka lebar menerima budaya-budaya kufur dari Barat.  Jelas ini agenda yang perlu di waspadai.

Berdoa adalah ritual ibadah, dan masing-masing umat beragama memiliki tata cara tersendiri. Sebagai seorang muslim, bentuk toleransi adalah dengan saling menghargai, tidak mencela, dan tidak ikut-ikutan dalam ibadah agama lain. Islam dengan sangat jelas mengatur toleransi. Toleransi dalam Islam mencakup muamalah, sedangkan ibadah seperti berdoa sudah memasuki ranah akidah. Tentu tidak boleh disama ratakan. Seperti firman Allah dalam Surah Al Kafirun ayat 6.
لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْن
Artinya : "Untukmu agamamu,  dan untukku agamaku"

Kondisi negeri kaum muslimin saat ini begitu miris. Tidak sedikit yang gagal paham memaknai toleransi dan moderasi. Moderasi beragama yang digadang-gadang oleh Kemenag jelas sangat bertentangan dengan Islam.  Agenda moderasi agama adalah agenda yang berasal dari Barat. Agenda ini terus diluncurkan agar umat Islam secara perlahan meninggalkan agamanya. Kurangnya pemahaman agama mengenai agamanya sendiri menghasilkan pemikiran yang moderat.

Umat Islam adalah umat terbaik

Islam tidak mengenal Islam moderat atau yang sering disebut _Islam washaton_. Mengambil lafaz _ummatan washaton_ dalam surat Al- Baqarah ayat 143  untuk menerima Islam moderat adalah hal yang keliru.

QS Al-Baqarah ayat 143,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”

“Mayoritas para mufasir menafsirkan kata “wasath” di ayat tersebut dengan “al ‘adl” (adil) atau “al khiyar” (terbaik dan pilihan).

Sehingga, sikap wasath tidak lain adalah sikap adil, yaitu menempatkan segala sesuatu sesuai posisi dan ketentuannya menurut syariat. Sikap wasath juga mencakup sikap memilih yang benar dan sikap melaksanakan serta terikat dengan syariat Islam yang secara totalitas.

“Bukan sikap moderat, kompromistis, dan selalu mengedepankan jalan tengah,”.

Dengan demikian umat Islam harus benar-benar bangkit dan lebih giat mempelajari agamanya sendiri.  Meluruskan akidah dan pemahaman dengan Islam. Kondisi saat ini umat Islam kehilangan perisai.  Namun saatnya untuk bangkit menegakkan perisai Islam, karena perisai Islam akan benar-benar didapat jika tegaknya sistem Islam. 

Wallahu a'alam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update