Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Varian Baru Virus: Mempertanyakan Tanggung Jawab Negara

Wednesday, March 17, 2021 | Wednesday, March 17, 2021 WIB


Oleh Rima Liana
(Pelajar)

Varian baru virus Corona Inggris, atau yang disebut virus Kent - B.1.1.7 - sudah masuk Indonesia. Di negara-negara lain, varian baru Covid-19 terus bermunculan. Seperti varian yang diduga memicu lonjakan kasus di wilayah Amazon Brasil muncul di Minnesota. Kemudian varian virus corona yang pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan sudah muncul di Carolina Selatan dan Maryland.

Maraknya varian baru yang terus bermunculan di banyak negara bukan hal yang mengejutkan bagi para ilmuwan. Bagaimanapun, semua jenis virus termasuk Corona SARS-CoV-2 selalu berubah dan berkembang. Ditambah lagi, penyebaran virus yang tidak terkendali di seluruuh dunia membuat virus memiliki banyak kesempatan untuk terus bermutasi. Setidaknya ada empat varian baru yang sangat mengkhawatirkan. (KOMPAS.com)

Kondisi pandemi Covid-19 yang semakin lama tak kunjung membaik dan menurun, kini malah muncul varian baru dan lebih membahayakan. Hal itu tentunya menyita fokus masyarakat yang saat ini nampak merasakan kekhawatiran lagi, setelah sebelumnya tidak ada tanda-tanda berakhirnya situasi yang selalu mencekam.

Hadirnya varian covid baru ini sungguh membuat banyak kepanikan. Pasalnya, baru-baru ini pemerintah tengah mengeluarkan sebuah institusi mengenai adanya suntik vaksin kepada masyarakat yang berguna untuk menambah kekebalan tubuh dan mencegah tertularnya virus Corona tersebut. Namun nyatanya, jumlah data yang dikutip sama sekali tidak menampilkan perubahan dan malah menambah tingkat pendataan. Hal itu saja belum terselesaikan, lalu bagaimana dengan situasi Covid-19 dengan varian baru sekarang?

Pemerintah memang sudah melakukan berbagai cara untuk mencegah tular-menularnya virus yang tak kasar mata ini, yaitu dengan selalu memperhatikan 3M. Tetapi, jika yang diupayakan hanya sebatas itu dan tidak ada tindakan lebih jauh serta lebih spesifik, lantas mau sampai kapan dan berapa banyak lagi nyawa korban yang menjadi taruhan?

Di tengah situasi seperti ini, sasaran tersangka utama tentu saja para pemimpin Negeri. Pemerintah yang seharusnya menjadi penanggung jawab atas apapun yang terjadi pada masyarakat. Untuk semua hal termasuk hal nyawa sekalipun. Jika pemerintah masih kurang dalam menangani masalah darurat seperti ini, bahkan sempat ingin menyerah, maka kasus penderitaan ini tak akan pernah usai. Apalagi solusi yang dipakai masih terselip keuntungan dan kesenangan semata.

Lagi-lagi, masyarakat yang akan lebih kesulitan, tentunya dengan ekonomi yang tak stabil, bantuan yang tak sampai dan dikorupsi, bahan pokok mahal, dan lainnya itu akan semakin menambah beban dan kesusahan. Lalu, di mana perhatian pemerintah terlepas dari itu semua?

Jika keadaan terus-menerus memburuk, bahkan virus baru yang lebih membahayakan pun sudah hadir, maka sudah dapat dipastikan bahwa kinerja yang dituangkan pemerintah dalam menyelesaikan masalah sangat mengecewakan dan tak bisa menyelesaikan.

Seharusnya pemerintah dengan segera mengambil solusi dan penanganan yang tepat serta efesien. Layaknya pada masa kenabian yang pernah terdampak wabah tha'un, saat itu khalifah Umar bin Khattab langsung mengunci semua batasan dengan me-lockdown para masyarakat. Tentunya hal itu berhasil tanpa banyaknya atau bertambahnya virus tersebut.

Dalam Islam, setiap masalah terutama wabah pandemi, pasti bisa diselesaikan dan ditumpas dengan cepat. Islam memiliki solusi yang berasal dari sang Khaliq, bukan dari hawa nafsu ataupun demi mencapai keuntungan. Kinerja yang diterima oleh masyarakat pun akan puas dan tentunya mendapat dukungan penuh, tak ada lagi korban lantaran kelalaian dari pihak pemimpin.

Khilafah lah yang akan bertanggung jawab dengan penuh mengawasi setiap masalah yang ada dalam kehidupan. Mencari solusi berdasarkan hukum syariat dan senantiasa mensejahterakan umat.

Khilafah, akan menjadi pondasi bagi kehidupan dan Islam akan tersebar hingga menjadi rahmatan lil'alamin.
Wallahu a'lam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update