Pilar Bela Persada (Mahasiswi, Komunitas Annisaa Ganesha)
Pemerintah melalui Kementrian Agama tampak sangat
menggencarkan kampanye moderasi beragama dalam berbagai bidang. Bahkan dalam
peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Tingkat
Kenegaraan Tahun 2021M/1442H kemarin, tema yang diusung adalah ‘Spirit Isra'
Mi'raj dalam Membangun Moderasi Beragama’ (10/3/2021). Kampanye moderasi
beragama ini juga digencarkan dalam bidang pendidikan. Pada Kamis 25 Febuari 2021, dalam acara Workshop Pengembangan
Kompetensi Guru Sejarah Kebudayaan Islam MA/MAK di Tangerang, Kementrian Agama
melalui Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah, Muhammad Zain, meminta
para guru untuk menyampaikan materi sejarah secara komprehensif. “Sampaikan kepada peserta didik, fakta sejarah yang
komprehensif agar siswa memahami sejarah Islam masa lalu secara utuh,” tuturnya.
Menurutnya kejayaan Islam di Spanyol yang kemudian berhasil melahirkan banyak
filsuf hebat adalah karena sikap para ulama yang inklusif, terbuka, dan
toleran. Ia juga berharap agar forum ini juga bisa menjadi ruang untuk saling
bertukar pengalaman terkait moderasi beragama di madrasah masing-masing.
Moderasi beragama dianggap hadir sebagai solusi,
yakni dengan mengambil jalan tengah. Padahal diantara kekufuran dan keimanan
tidak terdapat jalan tengah. Keduanya merupakan dua jalan yang berbeda dan
saling bertolak belakang. Sehingga moderasi beragama adalah langkah yang
berbahaya. Langkah ini hakikatnya bertujuan untuk melemahkan ajaran Islam dan
hendak melepaskan keterikatan kaum muslim pada agamanya.
Sebelumnya, pada tahun 2019 Kemenag telah merevisi
beberapa materi pelajaran Islam. Salah satunya adalah terkait materi khilafah.
Materi khilafah tidak boleh hadir dengan tinjaun fikih di level sekolah,
melainkan hanya boleh dipandang sebagai bagian dari sejarah Islam. Kini dengan
adanya ide moderasi beragama, pengajaran sejarah Islam dalam keberjalanannya
diharuskan untuk bersesuaian dengan gagasan salah kaprah ini.
Sungguh Islam adalah agama sempurna, agama
terakhir yang diturunkan pada umat manusia. Kesempurnaannya nampak dari
pengaturan Islam atas seluruh aspek kehidupan, kaffah menyeluruh, mengatur
bagaimana hubungan dengan Tuhannya (hablu minallah berupa aqidah dan ibadah),
dengan dirinya (habluminanafs berupa akhlak, pakaian, makanan dst) dan
dengan sesama manusia (habluminannas, dari urusan muamalah ekonomi,
sosial, pendidikan hingga urusan politik pemerintahan). Maka Islam harus
diajarkan seluruhnya, tanpa pilah-pilih atau harus diajak kompromi dengan
nilai-nilai Barat dengan alasan moderasi. Faktanya kebangkitan Islam hanya akan
hadir jika kaum muslimin berpegang teguh pada agamanya, artinya tidak menolerir
apapun yang bertentangan dengan syariat Islam. Umat Islam harus mewaspadai
upaya sistematis yang semakin menjauhkan dari kebangkitan Islam yang
sebenarnya, yakni dengan kembali tegaknya sistem kehidupan Islam kaffah,
Khilafah.

No comments:
Post a Comment