Oleh:
Albayyinah Putri, S.T.
Awal 2021 Indonesia dilanda duka yang
mendalam. Salah satunya banjir bandang di Kalimantan Selatan. Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 197 bencana terjadi di seluruh wilayah
Indonesia sejak 1 hingga 23 Januari 2021. Bencana banjir menjadi peristiwa
bencana alam yang paling mendominasi. Tercatat banjir terjadi sebanyak 134
kejadian, disusul tanah longsor sebanyak 31 kejadian dan puting beliung
sebanyak 24 kejadian.
Disaat bencana menjadi sorotan utama
diawal tahun, pernyataan Presiden RI Bapak Joko Widodo mengenai penyebab
terjadinya bencana banjir di Kalimantan Selatan menjadi perbincangan di kalangan
masyarakat. Pak Jokowi menyatakan banjir di Kalimantan Selatan disebabkan
karena curah hujan yang sangat tinggi. Namun pertanyaan masyarakat mulai
muncul, apakah benar banjir yang terjadi di Kalimantan Selatan hanya
diakibatkan curah huan yang sangat tinggi?
Banyak yang kontra terhadap pernyataan
yang diberikan oleh Presiden RI, ini dikarenakan banyak SDA yang sudah terenggut
secara berlebihan di Kalimantan Selatan. Bencana alam yang terjadi di Indonesia
secara keseluruhan juga bukan sekadar faktor alam saja. Mengambil sampel dari
bencana banjir besar di Kalimantan Selatan saja, penggundulan hutan yang
terjadi secara signifikan semua dilakukan dalam rangka pengambilan SDA-nya.
Data tercatat selain curah hujan
tinggi, masifnya pembukaan lahan yang dilakukan terus menerus juga menjadi
alasan munculnya bencana pada tahun ini. Diberitakan oleh Kompas.com, Manager Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia
(Walhi) Kalsel M Jefri Raharja menyampaikan antara 2009 sampai 2011 terjadi
peningkatan luas perkebunan sebesar 14 persen dan terus meningkat di tahun
berikutnya sebesar 72 persen dalam 5 tahun. Sedangkan untuk tambang, bukaan
lahan meningkat sebesar 13 persen hanya 2 tahun. Luas bukaan tambang pada 2013
ialan 54.238 hektar.
Dikutip dari tirto.id, Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) berpendapat bahwa
banjir terjadi karena eksploitasi berlebihan perusahaan sehingga alam rusak.
Ekosistemnya memang dirusak oleh perizinan tambang dan sawit. Kawasan-kawasan
yang punya fungsi ekologi terganggu, semisal kawasan gambut, hulu, badan sungai
dan kawasan karst.
Berdasarkan wawancara Kepala Pusat
Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, olehjurnalis merdeka.com dikatakan bahwa faktor yang
dapat menjadi pemicu terjadinya bencana hidrometeorologi, seperti DAS kritis,
anomali cuaca hingga factor antropogenik, seperti tata guna lahan yang kurang
tepat dan eksploitasi alam tanpa memperhatikan lingkungan (22/01/2021).
Selain itu, dikutip juga dari detik.com, Wakil Ketua MPR RI Jazilul
Fawaid menyinggung adanya faktor kerusakan alam dalam bencana yang baru-baru
ini menimpa sebagian daerah di Indonesia. Menurutnya, orientasi pembangunan
yang berbasis pada sumber daya alam mengakibatkan eksploitasi terjadi di
mana-mana.
Data tersebut bisa membuat kita
berpikir, bencana silih berganti, benarkah murni faktor alam? Sesungguhnya jika
bencana ini hanya terjadi hanya karena faktor alam, bukankan sejatinya alam sendiri
akan mampu menghadapinya? Tetapi jika ini terjadi karena ada faktor ekternal
yakni alam sendiri dirusak atau dikeruk kekayaannya secara berlebihan atau
dieksploitasi, maka alam pun tidak bisa menghadapi itu. Banyak pengkajian yang
dilakukan setelah terjadinya bencana pada awal tahun di Indonesia, semuanya
merujuk pada ekploitasi yang menjadi penyebab dari bencana yang terjadi. Khususnya,
banjir besar di Kalimantan Selatan yang baru terjadi selama kurun waktu 50
tahun, yang sebelumnya belum pernah terjadi di Kalimantan Selatan.
Padahal, alam semesta yang diciptakan oleh
Allah SWT harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh manusia. Seperti yang difirmankan
Allah SWT, "Dan (Dialah) yang
menundukkan untuk kalian apa yang ada dilangit dan yang ada di bumi."
(QS. Al-Jatsiyat: 13). Namun, sebagai manusia bukan berarti berlaku semena-mena
terhadap alam yang telah diciptakan-Nya ini.
Rasulullah pernah bersabda, “Dari Ibnu Abbas RA berkata sesungguhnya Nabi
saw bersabda; orang Muslim berserikat dalam tiga hal yaitu; air, rumput
(pohon), api (bahan bakar) dan harganya haram. Abu Said berkata: maksudnya: air
yang mengalir” (HR Ibnu Majah).
Dari hadist tersebut, ulama bersepakat
bahwa 3 elemen tersebut adalah milik umat, tidak boleh dikuasai atau dimiliki
oleh seseorang. Begitulah seharusnya sumber daya alam dikelola. Tidak seperti
yang terjadi pada saat ini, kepemilikan sumber daya alam bebas dimiliki
siapapun dan tidak semua masyarakat merasakan bagaimana rasanya menikmati
kekayaan alam sendiri.
Bencana merupakan ketetapan Allah SWT, manusia
tidak memiliki kendali untuk menghalau terjadinya sebuah bencana. Namun, di balik
itu semua selain kesabaran yang harus kita lakukan dalam menghadapi bencana
ini, kita sebagai manusia wajib hukumnya untuk bermuhasabah, mencari tahu apa
yang menyebabkan bencana terus terjadi. Tampak bahwa alam begitu marah terhadap
manusia yang tinggal di dalamnya.
Hal ini pun sudah diperingatkan oleh
Allah SWT dengan firman-Nya, “Telah
tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat)
perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum:
41). Hal ini menjelaskan bahwa kerusakan yang terjadi di bumi, karena perbuatan
tangan manusia yang turut andil di dalamnya dengan kata lain adanya keserakahan
manusia yang ingin menguasai sumber daya alam secara berlebihan.
Fakta sistem saat ini membuktikan bahwa
negara yang kaya, bagaimana pun jika SDA jatuh kepada tangan-tangan korporasi
maka rakyat negara tidak akan merasakan manisnya SDA tersebut. Keserakahan yang
terjadi pada sistem kapitalisme adalah hal biasa, karena kemanfaatan bagi
golongan atau kelompok menjadi tujuan utamanya dan kompromi adalah konsepnya.
Sistem inilah yang menghalalkan
eksploitasi SDA, semuanya hanya bertujuan untuk pertumbuhan ekonomi dengan
dalih kesejahteraan masyarakat yang pada akhirnya kesejahteraan yang dimaksud
nihil. Di sini juga menunjukan bahwa sistem kapitalisme tidak mengatur atau
tidak memedulikan konsep kepemilikan harta, sehingga SDA bisa menjadi
kepemilikan pribadi padahal Islam mengatur jika SDA bukanlah kepemilikan
pribadi yang seharusnya SDA tersebut dikelola oleh negara dan hasilnya
diberikan kembali kepada umat.
Islam memandang bahwa SDA bukanlah hal
yang bisa dimiliki oleh perseorangan, karena SDA termasuk harta kepemilikan
umum, dalam hal ini adalah hutan yang menjadi sasaran empuk pihak kapital untuk
pembukaan lahan. Padahal hutan memiliki fungsi ekologis dan hidrologis yang sangat
dibutuhkan banyak orang. Maka dari itu seharusnya pengelolaan hutan harus
dilakukan oleh negara dan keuntungannya akan didistribusikan kepada rakyat
sesuai dengan kebutuhannya.
Haram hukumnya dalam Islam, jika lahan
hutan diberikan kepada perseorangan apalagi pada kapitalis atau pihak asing.
Masyarakan diperbolehkan memanfaatkan hasil hutan demi keberlangsungan hidupnya
dengan pengawasan negara. Pemanfaatan hasil hutan juga memiliki keterbatasan,
tidak seperti pada sistem kapitalisme saat ini, hutan dihabisi, digunduli yang
fungsinya dialihkan untuk kepentingan investasi pribadi.
Sungguh telah tampak kemaksiatan
terbesar yang terjadi saat ini adalah karena kita telah mencampakkan hukum
Allah SWT yang seharusnya kita terapkan di segala aspek kehidupan kita,
termasuk dalam hal pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam. Syari’at pun
mengajarkan kita untuk bertaubat, ketika bencana datang kepada kita. Muhasabah
yang dilakukan oleh seluruh umat, baik rakyat maupun penguasa akan membuat kita
berpikir tentang sebab-sebab terjadinya becana yang begitu beruntun ini.
Sesungguhnya jika kita sebagai seorang
hamba Allah SWT bertakwa kepada-Nya, menerapkan hukum-hukum-Nya, maka Allah SWT
akan memberikan rahmat bagi negeri ini berupa kekayaan alam yang tak terhitung
jumlahnya dan keberkahan pun akan dirasakan oleh seluruh alam. Seperti Firman
Allah SWT, “Dan sekiranya penduduk negeri
beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari
langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami
siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-A’raf:
96). []
No comments:
Post a Comment