Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bencana Silih Berganti, Benarkah Murni Faktor Alam?

Monday, February 15, 2021 | Monday, February 15, 2021 WIB Last Updated 2021-02-15T04:21:28Z

Oleh: Albayyinah Putri, S.T.

 

Awal 2021 Indonesia dilanda duka yang mendalam. Salah satunya banjir bandang di Kalimantan Selatan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 197 bencana terjadi di seluruh wilayah Indonesia sejak 1 hingga 23 Januari 2021. Bencana banjir menjadi peristiwa bencana alam yang paling mendominasi. Tercatat banjir terjadi sebanyak 134 kejadian, disusul tanah longsor sebanyak 31 kejadian dan puting beliung sebanyak 24 kejadian.

Disaat bencana menjadi sorotan utama diawal tahun, pernyataan Presiden RI Bapak Joko Widodo mengenai penyebab terjadinya bencana banjir di Kalimantan Selatan menjadi perbincangan di kalangan masyarakat. Pak Jokowi menyatakan banjir di Kalimantan Selatan disebabkan karena curah hujan yang sangat tinggi. Namun pertanyaan masyarakat mulai muncul, apakah benar banjir yang terjadi di Kalimantan Selatan hanya diakibatkan curah huan yang sangat tinggi?

Banyak yang kontra terhadap pernyataan yang diberikan oleh Presiden RI, ini dikarenakan banyak SDA yang sudah terenggut secara berlebihan di Kalimantan Selatan. Bencana alam yang terjadi di Indonesia secara keseluruhan juga bukan sekadar faktor alam saja. Mengambil sampel dari bencana banjir besar di Kalimantan Selatan saja, penggundulan hutan yang terjadi secara signifikan semua dilakukan dalam rangka pengambilan SDA-nya.

Data tercatat selain curah hujan tinggi, masifnya pembukaan lahan yang dilakukan terus menerus juga menjadi alasan munculnya bencana pada tahun ini. Diberitakan oleh Kompas.com, Manager Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel M Jefri Raharja menyampaikan antara 2009 sampai 2011 terjadi peningkatan luas perkebunan sebesar 14 persen dan terus meningkat di tahun berikutnya sebesar 72 persen dalam 5 tahun. Sedangkan untuk tambang, bukaan lahan meningkat sebesar 13 persen hanya 2 tahun. Luas bukaan tambang pada 2013 ialan 54.238 hektar.

Dikutip dari tirto.id, Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) berpendapat bahwa banjir terjadi karena eksploitasi berlebihan perusahaan sehingga alam rusak. Ekosistemnya memang dirusak oleh perizinan tambang dan sawit. Kawasan-kawasan yang punya fungsi ekologi terganggu, semisal kawasan gambut, hulu, badan sungai dan kawasan karst.

Berdasarkan wawancara Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, olehjurnalis merdeka.com dikatakan bahwa faktor yang dapat menjadi pemicu terjadinya bencana hidrometeorologi, seperti DAS kritis, anomali cuaca hingga factor antropogenik, seperti tata guna lahan yang kurang tepat dan eksploitasi alam tanpa memperhatikan lingkungan (22/01/2021).

Selain itu, dikutip juga dari detik.com, Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid menyinggung adanya faktor kerusakan alam dalam bencana yang baru-baru ini menimpa sebagian daerah di Indonesia. Menurutnya, orientasi pembangunan yang berbasis pada sumber daya alam mengakibatkan eksploitasi terjadi di mana-mana.

Data tersebut bisa membuat kita berpikir, bencana silih berganti, benarkah murni faktor alam? Sesungguhnya jika bencana ini hanya terjadi hanya karena faktor alam, bukankan sejatinya alam sendiri akan mampu menghadapinya? Tetapi jika ini terjadi karena ada faktor ekternal yakni alam sendiri dirusak atau dikeruk kekayaannya secara berlebihan atau dieksploitasi, maka alam pun tidak bisa menghadapi itu. Banyak pengkajian yang dilakukan setelah terjadinya bencana pada awal tahun di Indonesia, semuanya merujuk pada ekploitasi yang menjadi penyebab dari bencana yang terjadi. Khususnya, banjir besar di Kalimantan Selatan yang baru terjadi selama kurun waktu 50 tahun, yang sebelumnya belum pernah terjadi di Kalimantan Selatan.

Padahal, alam semesta yang diciptakan oleh Allah SWT harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh manusia. Seperti yang difirmankan Allah SWT, "Dan (Dialah) yang menundukkan untuk kalian apa yang ada dilangit dan yang ada di bumi." (QS. Al-Jatsiyat: 13). Namun, sebagai manusia bukan berarti berlaku semena-mena terhadap alam yang telah diciptakan-Nya ini.

Rasulullah pernah bersabda, “Dari Ibnu Abbas RA berkata sesungguhnya Nabi saw bersabda; orang Muslim berserikat dalam tiga hal yaitu; air, rumput (pohon), api (bahan bakar) dan harganya haram. Abu Said berkata: maksudnya: air yang mengalir” (HR Ibnu Majah).

Dari hadist tersebut, ulama bersepakat bahwa 3 elemen tersebut adalah milik umat, tidak boleh dikuasai atau dimiliki oleh seseorang. Begitulah seharusnya sumber daya alam dikelola. Tidak seperti yang terjadi pada saat ini, kepemilikan sumber daya alam bebas dimiliki siapapun dan tidak semua masyarakat merasakan bagaimana rasanya menikmati kekayaan alam sendiri.

Bencana merupakan ketetapan Allah SWT, manusia tidak memiliki kendali untuk menghalau terjadinya sebuah bencana. Namun, di balik itu semua selain kesabaran yang harus kita lakukan dalam menghadapi bencana ini, kita sebagai manusia wajib hukumnya untuk bermuhasabah, mencari tahu apa yang menyebabkan bencana terus terjadi. Tampak bahwa alam begitu marah terhadap manusia yang tinggal di dalamnya.

Hal ini pun sudah diperingatkan oleh Allah SWT dengan firman-Nya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41). Hal ini menjelaskan bahwa kerusakan yang terjadi di bumi, karena perbuatan tangan manusia yang turut andil di dalamnya dengan kata lain adanya keserakahan manusia yang ingin menguasai sumber daya alam secara berlebihan.

Fakta sistem saat ini membuktikan bahwa negara yang kaya, bagaimana pun jika SDA jatuh kepada tangan-tangan korporasi maka rakyat negara tidak akan merasakan manisnya SDA tersebut. Keserakahan yang terjadi pada sistem kapitalisme adalah hal biasa, karena kemanfaatan bagi golongan atau kelompok menjadi tujuan utamanya dan kompromi adalah konsepnya.

Sistem inilah yang menghalalkan eksploitasi SDA, semuanya hanya bertujuan untuk pertumbuhan ekonomi dengan dalih kesejahteraan masyarakat yang pada akhirnya kesejahteraan yang dimaksud nihil. Di sini juga menunjukan bahwa sistem kapitalisme tidak mengatur atau tidak memedulikan konsep kepemilikan harta, sehingga SDA bisa menjadi kepemilikan pribadi padahal Islam mengatur jika SDA bukanlah kepemilikan pribadi yang seharusnya SDA tersebut dikelola oleh negara dan hasilnya diberikan kembali kepada umat.

Islam memandang bahwa SDA bukanlah hal yang bisa dimiliki oleh perseorangan, karena SDA termasuk harta kepemilikan umum, dalam hal ini adalah hutan yang menjadi sasaran empuk pihak kapital untuk pembukaan lahan. Padahal hutan memiliki fungsi ekologis dan hidrologis yang sangat dibutuhkan banyak orang. Maka dari itu seharusnya pengelolaan hutan harus dilakukan oleh negara dan keuntungannya akan didistribusikan kepada rakyat sesuai dengan kebutuhannya.

Haram hukumnya dalam Islam, jika lahan hutan diberikan kepada perseorangan apalagi pada kapitalis atau pihak asing. Masyarakan diperbolehkan memanfaatkan hasil hutan demi keberlangsungan hidupnya dengan pengawasan negara. Pemanfaatan hasil hutan juga memiliki keterbatasan, tidak seperti pada sistem kapitalisme saat ini, hutan dihabisi, digunduli yang fungsinya dialihkan untuk kepentingan investasi pribadi. 

Sungguh telah tampak kemaksiatan terbesar yang terjadi saat ini adalah karena kita telah mencampakkan hukum Allah SWT yang seharusnya kita terapkan di segala aspek kehidupan kita, termasuk dalam hal pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam. Syari’at pun mengajarkan kita untuk bertaubat, ketika bencana datang kepada kita. Muhasabah yang dilakukan oleh seluruh umat, baik rakyat maupun penguasa akan membuat kita berpikir tentang sebab-sebab terjadinya becana yang begitu beruntun ini.

Sesungguhnya jika kita sebagai seorang hamba Allah SWT bertakwa kepada-Nya, menerapkan hukum-hukum-Nya, maka Allah SWT akan memberikan rahmat bagi negeri ini berupa kekayaan alam yang tak terhitung jumlahnya dan keberkahan pun akan dirasakan oleh seluruh alam. Seperti Firman Allah SWT, “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-A’raf: 96). []

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update