Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Anak Penjarakan Orang Tua, Akibat Penerapan Sistem Rusak

Monday, February 01, 2021 | Monday, February 01, 2021 WIB Last Updated 2021-02-01T04:59:33Z

Oleh: Sri Puji Hidayati, M.Pd_
(Aktivis Muslimah & Pendidik Generasi)

Hatinya mungkin perih teriris-iris, sakit rasanya melihat anak yang dikandungnya dengan kepayahan, dibesarkan dan dididik penuh kasih sayang menjadikan dirinya mendekam dibalik jeruji besi. Begitulah yang dialami oleh seorang ibu dalam kasus yang terjadi di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, seorang anak tega memenjarakan ibunya hanya karena cekcok soal baju (Detiknews, 09/01/2021). Tidak hanya itu, kasus serupa juga terjadi  di NTB, Lombok Tengah, seorang anak berusia empat puluh tahun ingin penjarakan ibu kandungnya gara-gara sepeda motor (Tribunnews.com 06/09/2020).

Nampaknya mewujudkan keluarga harmonis pada saat ini semakin susah terwujud. Baktinya seorang anak terhadap orang tua kian pudar, terutama pada ibu. Hubungan antar anggota keluarga pun rusak hanya karena permasalahan yang sepele sampai tega menjebloskan sang ibu hingga berada dibalik jeruji besi. Rasanya sangat pahit, jasa dan pengorbanan orang tua yang sudah banting tulang untuk bekerja dan mendidik anak-anaknya tanpa lelah, seolah hilang tanpa bekas. Kasus tersebut merupakan sebagian fakta dari ketidakharmonisan hubungan orang tua dengan anaknya.

Sistem kehidupan hari ini, yaitu kapitalisme sekularisme melahirkan anggota keluarga yang berpemikiran sekuler. Sehingga standar yang ditetapkan dalam mencapai tujuan disandarkan pada material semata. Sistem bathil ini berdampak pada rapuhnya hubungan atau interaksi dalam sebuah keluarga, antara orang tua dengan anak. Interaksi yang terjalin hanya bernilai materi dan manfaat, diukur dengan untung dan rugi. Akhirnya disaat materi itu tidak kunjung didapatkan, menjadi penyebab ketidakharmonisan hubungan dalam keluarga, perselisihan pun terjadi, berujung dengan mendekam di balik jeruji besi ataupun tidak menutup kemungkinan berakhir dengan hilangnya nyawa. 

Absennya orang tua dalam mendidik dan menjadi panutan sebagai teladan untuk anak anaknya pun turut berkontribusi dalam melahirkan anak-anak yang tidak menghormati dan berbakti kepada orang tuanya. Hal tersebut dikarenakan ideologi sekularisme yang menganut paham kebebasan atau liberalisme. Baik kebebasan berpendapat maupun kebebasan berperilaku. Kebebasan tersebut melahirkan perilaku liberal. Alhasil, menjadikan manusia bebas bertingkah laku sesuai kehendaknya sendiri, tanpa memperdulikan tuntunan syariat Islam.

Sistem kapitalisme sekularisme yang diterapkan oleh negara saat ini, memunculkan krisis multidimensi diberbagai sendi kehidupan, termasuk sistem pendidikan. Pola kebijakan pendidikan yang diterapkan hanya menonjolkan prestasi akademik, minim pembentukan aqidah dan akhlak, sehingga mengantarkan individu menjadi seseorang yang tidak berkarakter dan berkepribadian Islam, mudah murka kepada siapapun, termasuk orang tuanya. Pribadi yang lemah imannya karena tidak menjadikan aqidah Islam sebagai landasannya. Karakter manusia yang dilahirkan hanya berorientasi pada materi semata. Sistem ini gagal mewujudkan keharmonisan dalam keluarga dan rentan menghasilkan generasi yang durhaka. Penghormatan terhadap orang tua, terutama ibu telah pudar.

Dalam sistem rusak, ajaran Islam pun dimutilasi dan dilemahkan. Wajar adanya, jika Islam tidak mampu mempengaruhi dalam  kehidupan hari ini. Sistem menghasilkan lingkungan yang lemah dan jauh dari ajaran Islam. Melahirkan masyarakat yang apatis terhadap kondisi lingkungan. Kapitalisme sekularisme telah mensterilkan kehidupan dunia dari peran ajaran agama Islam. Agama tidak sepenuhnya dilarang, namun disempitkan perannya menjadi pengisi pojok-pojok rumah ibadah saja dan nampak hanya dalam sebagian kecil prosesi ritual saja. Sementara, peran Islam sebagai pengatur berbagai problematika kehidupan dikebiri. Inilah kenyataan yang mengantarkan sebagian besar kaum muslim dan keluarganya terwarnai dengan kekufuran, tersesat dari tujuan hidup yang sebenarnya.

Lemahnya ajaran Islam dalam lingkungan masyarakat menyebabkan keroposnya pondasi bangunan keluarga. Sehingga saat berbagai problematika menerpa keluarga saat ini, tidak sedikit individu dan keluarga yang mengalami disorientasi hidupnya sehingga mudah menyerah dan berujung pada perselisihan antar anggota keluarga dan tak dipungkiri dapat mengantarkannya pada kemaksiatan.

Jelas sudah, sistem rusak, yaitu Kapitalisme Sekularisme yang diterapkan telah merusak keharmonisan dan ketenangan keluarga, memunculkan anak yang tak menghormati orang tuanya dan jauh dari ajaran Islam. Sampai kapan kita akan mempertahankan sistem Rusak ini. Umat Islam harus bersegera bangkit dari keterpurukan, saling bergandengan tangan, menyatukan kekuatan untuk kembali kepada penerapan Islam kaffah.

Sistem Islam merupakan sistem yang sempurna dan paripurna. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan dan memberikan solusi terperinci, tegas, tuntas dan jelas untuk seluruh masalah dalam kehidupan yang menimpa umat manusia. Termasuk dalam persoalan keluarga, karena sejatinya aturan ini berasal dari Allah dan Rasul-Nya yang memuaskan akal dan sesuai fitrah manusia. Aturan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir zaman. Sistem Islam hanya akan tegak dengan tiga pilar. Ketakwaan individu, kontrol masyarakat dan sistem terpadu yang dilaksanakan oleh sebuah negara sebagai pelaksana dari aturan Allah dan Rasul-Nya.

Pada pilar pertama, ketakwaan individu merupakan benteng pertahanan seseorang agar selalu beribadah dan mentaati aturan Allah dalam setiap aspek kehidupan. Setiap manusia akan dimintai pertanggung jawaban semasa hidupnya. Anak adalah buah hati yang Allah amanahkan kepada orang tuanya. Allah akan meminta pertanggung jawaban atas amanah tersebut. Bagaimana orang tua mendidik dan mengarahkan anak-anaknya agar menjadi anak yang sholeh-sholehah?. Begitu juga pada anak akan dimintai pertanggungjawabannya sebagai anak. Terdapat kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan, salah satunya terkait baktinya terhadap orang tua atau _birul walidain_. Oleh karena itu, ketakwaan inilah yang akan selalu menuntun individu selalu bertindak sesuai dengan aturan Allah.

Tidak cukup dengan ketakwaan individu, diperlukan kontrol dari masyarakat. Dalam masyarakat yang lingkungannya Islami akan mendorong manusia untuk selalu melakukan aktivitas amar makruf nahi mungkar di tengah-tengah masyarakat. Dan yang lebih penting, hadirnya negara yang menerapkan sistem Islam. Negara memiliki tanggung jawab yang besar sebagai pelindung utama rakyatnya. Peran negara amat besar untuk mewujudkan keharmonisan keluarga, memastikan keluarga dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Negaralah yang memberikan sokongan pada keluarga-keluarga muslim agar hidup dalam ketenangan. Negara akan menjamin terpenuhinya kebutuhan warga negaranya, berupa jaminan sandang, pangan, dan papan. Bukan hanya itu, negara juga akan menjamin keamanan, kesehatan, bahkan sampai pada jaminan pendidikan. 

Sinergisitas dari semua itu akan dapat menciptakan hubungan harmonis di antara keluarga muslim. Begitupun dengan generasi yang dilahirkan. Dari keluarga muslim akan melahirkan generasi emas yang memiliki ketakwaan tinggi. Oleh karena itu, sudah seharusnya Islam diterapkan di semua lini kehidupan.
_Wallahu'alam bishshawab_

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update