“Prihatin, 70 orang calon kepala daerah terinfeksi Covid-19, empat orang diantaranya meninggal dunia. Seratus
orang penyelenggara termasuk Ketua KPU RI terinfeksi. Betapa besar pengorbanan
untuk demokrasi. Perketat protokol kesehatan. Semoga wabah ini cepat berlalu.” Begitu
cuitan Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Hamdan Zoelva melalui akun media
sosial Twitter pada Jumat, 27 November lalu.
Prihatin! Betapa prioritas negara sangat jelas
tidak ditujukan pada kesehatan dan keselamatan rakyatnya. Layakkah pengorbanan
besar seperti itu diberikan untuk sistem yang rusak? Apa suara rakyat memang
hanya didengar saat pemilu saja? Lalu ada di mana telinga-telinga mereka yang
mengaku wakil rakyat saat kasus Covid-19 terus meningkat sampai ratusan ribu,
dan belasan ribu orang meninggal? Pilkada menjadi momentum yang tepat untuk
memanaskan mesin politik menyongsong Pemilu 2024. Lantas pemerintahan seperti
apa yang dihasilkan dari proses pemilihan yang mengabaikan keselamatan jiwa
manusia demi kursi-kursi penguasa yang mendapat gelontoran dana dari para
kapitalis?
Dalam Islam,
Wali atau pemimpin wilayah diangkat oleh Khalifah sebagai penguasa untuk suatu
wilayah serta menjadi amir (pemimpin) wilayah tersebut. Tentu seorang Wali
harus memenuhi syarat-syarat sebagai penguasa, yaitu harus seorang laki-laki,
merdeka, muslim, balig, berakal, adil dan mampu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam memilih Wali dari orang-orang yang benar-benar cakap dan juga mampu
dalam memegang urusan pemerintahan, yang memiliki ilmu dan juga ketakwaan serta
mampu mengisi hati rakyat dengan keimanan.
Sungguh miris,
ketika tokoh imam besar yang hari ini resmi diperkarakan menjadi tersangka
karena pasal kerumunan. Apa hal yang sama tegas diberlakukan di kasus kerumunan
pilkada? Dimana keadilan hari ini? Apa yang diharapkan dari sistem yang sangat
sarat kepentingan politik jauh dari keadilan? Dalam Islam, kedaulatan ada di
tangan syara’, di mana rakyat dan juga aparatur negara tunduk kepada hukum
syara, dengan fungsi pemimpin sebagai sosok yang mengurusi rakyat, melindungi
rakyat, baik dari ancaman kelaparan, kemiskinan, termasuk penyakit. Islam mengutamakan
keselamatan rakyat. Tentu hal tersebut sangan bertolak belakang dengan kondisi
saat ini, di mana masyarakat harus berkorban untuk sebuah pesta pemilihan
boneka-boneka kapitalis. Tidak main-main, pengorbanannya seharga nyawa.
“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus
rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR
al-Bukhari).

No comments:
Post a Comment