Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Merdeka, Tapi Tak Merdeka?

Sunday, November 01, 2020 | Sunday, November 01, 2020 WIB

Oleh : Ilvia Nurhuri
Mahasiswi dan Aktivis Dakwah

Peristiwa para mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi menolak UU Cipta Kerja Omnibus Law rupanya membuat kaki tangan pemerintah geram. Dikutip dari pikiranrakyatcirebon.com (23/11/2020), aksi yang dinilai sangat merugikan rakyat di Palembang Senin 12 Oktober 2020 kemarin terjadi saat Amir Iskandar, Ketua LMDN Eksekutif kota Palembang, bersama mahasiswa yang lain akan melakukan aksi di Simpang Lima DPRD Sumatera Selatan. 

Ketika masa akan bergerak, aparat kepolisian menutup akses jalan menuju titik aksi di Simpang Lima DPRD Sumsel. Tidak jauh dari tempat konsolidasi terlihat aparat kepolisian dari Polsek Ilir Timur 1 dan Polrestabes Palembang melakukan sweeping terhadap para pelajar yang tergabung dalam massa aksi penolakan Undang-undang Cipta Kerja Omnibus Law. Melihat hal itu Amir mendekati aparat kepolisian hendak mempertanyakan maksud aparat melakukan sweeping terhadap para pelajar, atas tindakannya itu Amir kemudian ditangkap dan saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Secara tidak langsung sikap yang ditunjukan polisi tersebut sewenang-wenang karena ketika mahasiswa ingin memberikan aspirasinya tapi malah dihalang-halangi bahkan ditangkap tanpa alasan, padahal mahasiswa hanya ingin menuntut hak kebebasan kepada pemerintah atas tidak adilnya kebijakan UU Cipta Kerja Omnibus Law. 

Ini terjadi, tidak lain karena diembannya sistem pemerintahan yang memegang teguh asas manfaat, yaitu sistem kapitalisme. Hal yang dilakukan oleh pemuda  dalam mengkritik kesalahan yang dibuat oleh rezim tidak akan bernilai apapun. Lebih parahnya, potensi pemuda untuk menentang kapitalisme diberangus dan dimandulkan. Ini semua terbukti bahwa didalam sistem kapitalisme, potensi yang dimiliki oleh pemuda tidak akan diarahkan menuju perbaikan untuk bangsa dan negeri ini. Padahal pemuda adalah aset yang sangat berharga bagi suatu bangsa, mereka menjadi harapan untuk suatu negeri.

Namun berbeda dengan sistem Islam. Didalam sistem Islam potensi yang dimiliki pemuda diarahkan untuk melakukan perubahan, tidak hanya untuk dirinya atau keluarganya namun juga untuk masyarakat, bangsa dan negeri ini. Tak hanya itu didalam Islam pemuda juga menempati bagian penting dalam menegakkan agama Islam, yaitu untuk melanjutkan estafet dakwah Islamiyah serta menegakkan kalimat Allah Swt. yakni tauhid,  agar tegaknya syariat Islam di bumi yang mereka pijak.

Dalam sejarah Islam, kita mengenal sosok para sahabat yang berjuang bersama Rasulullah Saw. diantaranya, Salman Al-Farisi yang cerdas, Khalid bin Walid seorang pemuda sekaligus panglima yang sangat tangguh, dan masih banyak lagi para sahabat Nabi yang sebagian dari mereka adalah para pemuda. Mereka adalah para pemuda yang berhasil berjuang untuk menegakkan kalimat tauhid, menumpas ketidakadilan dan menegakkan syariat Islam yang penuh dengan keseimbangan serta menempatkan keadilan berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah.

Alhasil, terbukti bahwa Islam mampu membuat potensi pemuda bisa diarahkan menuju perubahan yang hakiki yaitu untuk mengabdi kepada sang pencipta Al-Khaliq dan memberi manfaat bagi bangsa dan negeri ini.
Wallahu'alam bishawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update