Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

KEDOK, KESETARAAN UPAH BAGI PEREMPUAN, ANGIN SEGAR KAPITALIS

Saturday, October 03, 2020 | Saturday, October 03, 2020 WIB
By : Muryani

Saat ini data global yang dirilis oleh Internasional Labour Organization ( ILO ) dan ( UN ) Women. Menunjukkan bahwa perempuan masih dibayar murah dibandingkan laki-laki dengan perkiraan 16%.

 Sedangkan di Indonesia sendiri, perempuan memperoleh pendapatan 23% lebih rendah dibanding laki-laki. Tentu ini berdampak buruk bagi ekonomi perempuan, terutama pada masa pandemi seperti sekarang ini. Tak sedikit perempuan bekerja pada pekerja informal, serta, tak memiliki asuransi kesehatan dan perlindungan sosial. Pendidikan tinggi tak menjamin perempuan mendapatkan upah yang setara dengan laki-laki.

Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Ida Fauziah  menegaskan: pentingnya kesetaraan upah bagi pekerja perempuan. Saatnya bagi perempuan dan laki-laki  dihargai setara, berdasarkan bakat, hasil kerja, dan kompetensi. Bukan berdasarkan gender, artinya perempuan berdaya jika menghasilkan pundi-pundi rupiah. 
 
 Kondisi ini tak akan berubah, perempuan berada dipusara eksploitasi ekonomi. Meski ILO maupun UN Women menghapus bias dan setara gender. Kesetaraan upah bagi perempuan dianggap menjamin  kesejahteraan dalam mengatasi masalah perempuan, kesenjangan upah diselesaikan dengan peringatan Hari Kesetaraan Upah Internasional.  

Apakah ini solusi ?

 Sudah banyak angan - angan kosong yang dihembuskan pegiat gender untuk masalah perempuan. Tapi, tak satupun yang bisa menjamin kesejahteraan perempuan. 
Perempuan selalu jadi tumbal kerakusan kapitalis. Mengabaikan peran utamanya mengasuh dan mendidik generasi. 

 Data Badan Pusat Statistik (BPS)  selama periode 2015 - pebruari 2019 selisihnya  mencapai Rp 492,2  ribu. Upah pekerja laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan, ini sebenarnya isu lama yang dihembuskan lagi.

Negara lepas tangan. 
Perempuan didorong bekerja tanpa harus khawatir keselamatan dan kehormatan.  selain itu, perempuan ditempatkan pada posisi yang rendah, berkontribusi memberi sumbangan materi, sehingga Negara mendapat pendapatan lebih besar.  Dengan alasan meningkatkan pendapatan negera dan mensejahterakan masyarakat inilah sistem kapitalisme. 

Siapa yang bertanggung jawab atas semua ini ?
Sistem yang rusak menyebabkan kekayaan yang berlimpah dikuasai segelintir orang, sementara kemiskinan global memaksa para perempuan ikut arus eksploitasi  ekonomi. Menambah berbagai permasalahan sosial, ide kesetaraan hanya omong kosong. Yang terjadi justru perempuan mejadi objek seksual, alat untuk memikat produk yang diiklankan, bekerja dipabrik dengan jam kerja yang menguras tenaga mereka, pekerja TKW tak jarang berakhir pada prostitusi dan tindakan kekerasan.

 Perempuan akan terlindungi dengan hukum islam.
Sistem ekonomi islam melarang menzalimi orang lain, upah tak layak, memanfaatkan kemolekan tubuh perempuan. 

 Seperti firman Allah ( Qs Al baqarah 233 ) kewajiban laki- laki menafkahi perempuan " kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf ".

 Dalam islam kebutuhan pokok dipenuhi oleh negara (khilafah) pembiayaannya dari harta milik Negara, seperti: tambang, laut, hutan, dan sebagainya.
Maka dipastikan perempuan akan terjamin kesejahteraannya  tidak butuh lagi kesetaraan upah antara laki-laki dan perempuan, karena sistem islam mengatur berbagai kebijakan yang manusiawi.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update