"Apakah kalian merasa terpaksa memakai hijab?"
"Tidak."
"Kalau kalian keluar tanpa hijab bagaimana?"
"Nggak mau,"
"Kenapa?"
"Malu"
"Kalau kalian pakai hijab, sementara teman-teman kalian tidak berhijab, apa kalian merasa malu, atau merasa berbeda?"
"Nggak."
Itu adalah cuplikan percakapan saya dengan anak-anak setelah saya baru selesai melihat video sebuah media di Indonesia yang mengulas tentang sisi negatif anak memakai jilbab sejak kecil.
Dalam video tersebut, media mewawancarai perempuan yang mewajibkan putrinya mengenakan hijab sejak kecil. Media itu juga mewawancarai psikolog, menanyakan dampak psikologis bagi anak-anak yang sejak kecil diharuskan memakai jilbab.
Psikolog menjelaskan bahwa mereka (anak-anak) menggunakan atau memakai sesuatu tapi belum paham betul konsekuensi dari pemakaiannya itu. Ia pun menyampaikan, permasalahannya apabila di kemudian hari bergaul dengan teman-temannya, kemudian agak punya pandangan yang mungkin berbeda, boleh jadi dia mengalami kebingungan, apakah dengan dia pakaian begitu berarti dia punya batasan tertentu untuk bergaul.
Inilah yang terjadi ketika di negeri kaum muslim diatur dengan sistem demokrasi. Sebuah aturan yang berdiri di atas empat pilar kebebasan, salah satunya adalah kebebasan berpendapat. Sehingga hal inilah yang memberi peluang mereka untuk menyerang ajaran Islam.
Apa yang dilakukan oleh salah satu media di atas adalah bagian dari upaya menjauhkan umat Islam dari pola pikir dan pola sikap Islam. Mereka tidak suka melihat umat Islam hari ini yang sudah mulai meningkat dalam hal ketaatannya pada syariat. Sehingga berupaya untuk membuat kaum muslimin ragu dan bingung atas ketaatannya tersebut.
Sebagai seorang muslim, tentu kita bisa melihat sendiri bahwa setiap argumen yang mereka lontarkan semuanya tidak memiliki landasan yang kuat. Maka wajar ketika netizen memberikan hujatan secara bertubi-tubi.
Mengomentari pola pikir dan pola sikap Islam dengan landasan sekulerisme liberalisme jelas salah kaprah, tidak akan nyambung.
Dalam Islam, mendidik anak agar taat syariat adalah bagian dari kewajiban orangtua. Pada dasarnya, semua anak terlahir dalam keadaan suci. Orang tua lah yang akan membuat anak-anak mereka menjadi anak-anak yang taat atau sebaliknya. Sebagaimana yang disabdakan
Rasulullah SAW.
ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودينه أو ينصرانه أو يمجسونه
"Tidak seorang bayi pun kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Lalu kedua orangtuanyalah yang menjadikan dia Yahudi atau Nashrani atau Majusi"
Penulis punya empat anak perempuan, yang semuanya sudah dibiasakan berhijab sejak masih bayi. Bukankah pada dasarnya bayi harus selalu memakai penutup kepala? Maka untuk bayi perempuan, penutup kepala yang biasanya pakai topi, diganti dengan kerudung.
Karena sudah biasa, maka anak-anak sendiri yang meminta pakai kerudung setiap mau keluar rumah. Jadi sama sekali tidak ada pemaksaan. Bahkan mereka merasa sangat malu kalau tidak berhijab. Inilah fitrah manusia yang sesungguhnya, terlebih seorang muslim. Memiliki rasa malu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاء
“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.” (HR. Ibnu Majah no. 418)
Fitrah inilah yang harus dijaga oleh para orangtua. Dengan membiasakan mereka melaksanakan ketaatan pada Pencipta sejak dini. Agar kelak, mereka tidak menjadi perempuan tak tau malu, yang senang mempertontonkan auratnya.
Selain membiasakan mereka berhijab, orangtua pun harus memberikan pemahaman tentang akidah Islam dan konsekuensi kita sebagai seorang muslim. Sehingga mereka berhijab bukan lagi hanya karena kebiasaan, namun dalam rangka ketaatan dan keimanan.
Oleh karena itu, maka anak-anak akan sangat paham mengapa mereka harus berhijab. Sama halnya mengapa mereka harus shalat, puasa, dan melaksanakan kewajiban-kewajiban lain yang telah ditentukan syariat.
Dalam hal bergaul, mereka tidak akan merasa minder, atau berbeda. Sebab Islam mengajarkan tentang keharusan memilah teman atau lingkungan bergaul. Hal ini ditujukan untuk menjaga fitrah dan keistiqamahan dalam taat.
Rasulullah SAW. bersabda:
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
Imam Muslim rahimahullah mencantumkan hadits di atas dalam Bab : Anjuran Untuk Berteman dengan Orang Shalih dan Menjauhi Teman yang Buruk.
Andaipun mereka tetap bertemu dengan teman-teman yang tidak berkerudung, tidak akan membuat mereka bingung. Sebab mereka memiliki alasan mengapa harus berhijab. Jikapun mereka merasa bingung, selalu ada ruang diskusi dengan orang tua. Misal, bagaimana bergaul dengan teman yang tidak berhijab. Dan di sinilah peran pendidikan orang tua, memberikan penjelasan dari setiap rasa penasaran dan kebingungan yang dihadapi anak. Bukankah anak-anak akalnya belum sempurna? Mereka tidak boleh dibiarkan menentukan sikap, namun harus selalu diarahkan. Pola pendidikan Islam seperti inilah yang tidak akan ditemukan dalam pola pendidikan ala liberal.
Begitu pula keberadaan media dalam Islam akan menjadi pihak yang mendukung proses pendidikan anak sesuai syariat. Mereka akan mengapresiasi para orang tua yang mendidik anak-anak dengan aturan Islam, bukan malah menghukumi sebagaimana media di atas.
Negara yang berbasis akidah Islam, tidak akan memberikan sedikit pun peluang bagi mereka yang menyerang ajaran Islam. Sebab selain tanggung jawab orang tua, tugas menjaga generasi dari serangan pemikiran dan perilaku yang tidak islami juga menjadi tanggung jawab utama negara.
Bahkan tanpa negara, beban orang tua dalam mendidik generasi akan terasa berat. Sebab ketika mereka sudah berupaya keras mendidik anak-anaknya dengan menanamkan akidah Islam dan syariat Islam, harus berbenturan dengan sekulerisme liberalisme yang hari ini merongong umat Islam.
كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ
Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)

No comments:
Post a Comment