Oleh : Riannisa Riu
Dalam artikel dari merdeka.com, Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin mengatakan, Indonesia dan Korea memiliki hubungan erat.
"Hubungan yang telah terjalin baik ini harus ditingkatkan, salah satunya melalui kerja sama di bidang teknologi dimana Indonesia bisa belajar banyak dari Korea," ujar Pak Wapres Ma'ruf pada acara Peringatan 100 Tahun Kedatangan Warga Korea di Indonesia, melalui siaran persnya, Senin (21/9).
Pak Ma'ruf meyakini, Indonesia bisa banyak belajar dari Korea. Seperti investasi dan alih teknologi, diharapnya bisa membuat produk Indonesia semakin berkualitas, dengan diekspor ke luar negeri.
Pernyataan yang disampaikan oleh Pak Wapres memang dimaksudkan demi kebaikan dan kemajuan bangsa Indonesia. Namun, berdasarkan fakta di negeri ini, pernyataan yang diucapkan oleh Bapak Wapres tersebut justru malah akan memicu para pemuda untuk semakin menjadi pemuda konsumtif yang mencintai budaya luar dibandingkan dengan budayanya sendiri.
Negara Korea Selatan dikenal sebagai negara yang pemerintahnya justru getol mengajak anak mudanya untuk mencintai budayanya sendiri. Pemerintahnya menggelontorkan dana yang sangat besar untuk mendidik para pemuda dan membuka sarana seluas-luasnya agar para anak muda di negaranya senang dan cinta pada kebudayaan dan kekhasan negeri mereka sendiri terlebih dahulu, barulah setelah itu, membuka pintu bagi karya-karya asing untuk masuk ke negara mereka agar masyarakat bisa mempelajari kebudayaan asing dan mengambil pelajaran yang baik dari kebudayaan asing untuk digunakan pada kebudayaan mereka.
Dengan demikian, masyarakat Korea terbiasa untuk tetap bangga dan mencintai budayanya sendiri meskipun mereka juga kagum dan menghargai budaya negara asing. Serta mampu memperkenalkan budaya dan memajukan negara mereka dengan bangga tanpa gentar sedikitpun.
Sementara di negeri ini, faktanya pemerintah tidak pernah menggelontorkan dana apapun untuk mendukung para pemuda maupun masyarakat agar mampu mencintai kekhasan dan kebudayaan negeri ini sendiri. Pemerintah malah mengizinkan budaya asing masuk sebanyak-banyaknya tanpa membangkitkan sedikitpun kecintaan bangsa terhadap kekhasan negeri sendiri. Bahkan mungkin banyak pemuda pemudi milenial yang tidak paham bagaimana sejarah dan kekhasan negeri tercinta Indonesia ini sebenarnya.
Budaya asing yang masuk secara bebas justru menenggelamkan para pemuda Indonesia dalam kebucinan tak terbatas pada para idol dari negara asing serta mencintai produk-produk impor dari negara asing. Bukannya mengembangkan produk negeri sendiri, tapi malah semakin bangga kalau bisa beli produk luar negeri. Tidak peduli apakah produk luar itu halal atau tidak. Contohnya seperti produk "Soju Halal" yang sedang tren akhir-akhir ini. Meskipun tertera pada kemasannya "kandungan alkohol 0%", atau "non alkohol" tapi tetap saja ketika menyerupai khamr, maka hukumnya haram. Sebab khamr itu diharamkan karena zatnya, sama seperti bir non alkohol yang tetap dihukumi haram.
Dahulu, para pemuda Indonesia berjuang demi negeri ini dan akhirnya berhasil merumuskan Pancasila. Sila pertama Pancasila itu adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Jelas sekali bahwa negeri yang subur dan alamnya makmur ini adalah Negara Berketuhanan yang berpenduduk muslim terbesar di dunia. Telah banyak fakta juga yang menunjukkan bahwa negeri kita ini bahkan memiliki banyak sejarah dengan kekhilafahan Islam di Turki Utsmani.
Sayangnya, pemerintah sama sekali tidak menggencarkan atau membuat program-program kegiatan yang mampu membuat masyarakat Indonesia termasuk para pemuda terdidik dengan baik dalam agamanya sendiri, yakni Islam. Pelajaran agama hanya diberikan waktu paling sedikit dan hanya satu kali dalam seminggu, yang pastinya akan membuat masyarakat merasa asing dengan agamanya sendiri. Pemerintah juga malah semakin mengukuhkan sistem kapitalisme dengan memisahkan agama dari kehidupan. Bahkan para pemuda yang ingin mengkaji Islam lebih dalam serta menerapkan seluruh syariat Islam secara kaffah malah disebut radikal. Dan parahnya statement tersebut keluar dari seorang Menteri Agama.
Seharusnya pemerintah mendukung para pemuda "good-looking" yang berniat untuk mengembalikan kehidupan Islam, berniat untuk melaksanakan seluruh syariat Islam secara kaffah, secara keseluruhan. Untuk mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya secara total. Mendidik para pemuda dan anak-anak menjadi generasi emas yang mampu berprestasi secara produktif di usia muda seperti Shalahuddin Al Ayyubi, Mushab bin Umair, Ali bin Abi Thalib, Imam As Syafi'i atau Muhammad Al Fatih.
Jelas bahwa pemuda negeri ini tidak perlu menjadi penggemar K-Wave untuk mampu menjadi generasi terbaik yang mampu mengembangkan budaya dan produk Indonesia. Namun justru para pemuda negeri ini wajib untuk semakin mengenal agamanya sendiri, mempelajari Islam lebih dalam serta mendakwahkan Islam agar semakin banyak masyarakat yang mampu memahami syariat Islam secara kaffah.
Selain itu, yang paling diperlukan adalah dukungan sebesar-besarnya dari pemerintah untuk melaksanakan semua hal tersebut. Ketika pemerintah mendukung untuk menerapkan seluruh syariat Islam secara kaffah serta mengganti sistem kapitalisme dengan sistem Islam, maka insyaaAllah rahmatan lil alamin akan terwujud dan para pemuda Indonesia akan mampu untuk berkarya yang terbaik serta bangga dengan kekhasan negaranya sebagai negara muslim terbesar di seluruh dunia. Dan saat itu, kemungkinan untuk para wisatawan asing datang ke negara ini serta ingin mengenal kekhasan negeri ini bukan tidak mungkin akan terwujud.
Wallahu ‘alam bisshawab.

No comments:
Post a Comment